Adalah kabut yang putihkan pandang dari puncak bukit
Dan dingin yang bikin menggigil saat matahari menghilang
Dan…Ya! Gravitasi yang membuatku tetap berdiri disini
Asap tipis dari rokok disulut seseorang di depanku
Perlahan mengepul mantap, menjadi kemenyan yang dibakar di sabut kelapa
lalu buyar, berubah menjadi pembakaran dari jerami basah setelah panen gagal
Menuruni bukit
Ribuan kunang-kunang berkelip di semak-semak menyambutku
Mereka dilupakan kota yang menyalibkan malam dengan pesona lampu-lampu
Dan terlewatkan pandang tak seksama
Malam ini, dalam perjalanan pulang, lagi-lagi aku masih berpikir
Dengan apakah kau akan kukenang
Setelah melupakanmu terlanjur jadi proyek yang tak tuntas
Sendu dan nyeri tak bisa terbungkus rapi dan terkadang masih bisa terlihat dalam bayangan yang ditelan gerimis
Ah, kenangan…, sebegitu norakkah warnamu?
Mungkin sebaiknya kutinggal saja kau di padang terbuka
Di antara semak dan alang-alang
Dan kubiarkan alam mengambil-alih tugas mewarnaimu sampai pudar
Selasa, 01 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar