Mungkin tak sempat dibayangkannya, ketika ia datang di suatu senja yang sedang lapuk-lapuknya dan berselubung gerimis yang sok dramatis, seorang pemuda kerempeng bermata merah akan membentak-bentaknya dengan penuh kuasa “ Kok terlambat, Bung? Harusnya tadi siang anda sudah di sini, ini genteng sudah bocor lagi.Untung aku terbiasa bekerja efektif dan efisien.”
Ia diam saja dan memandang berkeliling. Masih terserak pecahan genteng, cat lama yang sudah dikerok sampai mengelupas, dan di sudut, teronggok kain kotor yang sudah tumpah dari mulut ember. Ia datang dalam damai, dengan niat yang sungguh tulus bertemu manusia, tapi disambut dengan cara yang lumayan kasar. Bukannya dipersilakan duduk lalu disuguhkan es teh atau es jeruk, atau dItawari makan-malam dengan basa-basi. Atau ditanya dengan hangat, “Apa kabar?”
Ah, manusia sama saja dari dulu, tidak sabaran. Manja. Maunya menang sendiri. Sering cemburu. Egois. Gampang ngambek. Merajuk. Selalu ingin jadi pusat perhatian. Ingin dimengerti, tapi tak mau mengerti. Lalu berdebat tak habis-habis. Tak puas, memancing duel. Perang. Bermusuhan. Idih…ia sampai bergidik.
Sebenarnya ia ingin sekali menjelaskan alasan keterlambatannya. Ia tahu, berdasarkan hukum yang berlaku di negeri yang didatanginya itu, seorang pembunuh sekalipun, berhak dianggap tidak bersalah sampai pengadilan membuktikan sebaliknya, setelah melalui berbagai prosedur yang baku, di pengadilan, di depan hakim dan jaksa, panitera, dan tentunya dengan didampingi seorang pengacara. Dengan kalemnya negeri itu masih menganut Asas Praduga Tak Bersalah, yang seringkali membuat koruptor besar melangkah dengan tenang lalu terbang melalui bandara besar ke luar negeri, lalu menikmati hari tua dan ongkang-ongkang kaki di sana sampai mati dengan nyaman. Dan ia tahu persis, di negeri itu, hukum masih bisa dikentuti. Tapi, ia tidak ingin berdebat panjang-panjang. Maka ia tetap diam.
Ia kemudian memperkirakan, seandainya pemuda itu tahu, banyak masalah yang dihadapinya dalam perjalanan ke bumi, mungkin ia akan sedikit berempati. Tapi, ia pun tak ingin berbicara lebar-lebar. Dalam lamunannya kemudian, ia merunut kembali perjalanannya tadi.
Awalnya, ia terbang santai dengan kecepatan standar, tapi lalu terkaget-kaget dan menyingkir, ketika hampir saja badannya tertabrak sebuah rudal yang meluncur kencang. Turun lagi, ia hampir pingsan oleh awan berbentuk cendawan yang menjulang tinggi. Akibatnya kecepatannya berkurang drastis. Untung ia masih punya sistem pernapasan yang kuat dan sanggup menetralisir racun. Tapi, ia masih saja prihatin, manusia belum kapok-kapok juga berperang melulu. Agak ke bawah sedikit, sebuah pesawat ternyata memotong seenaknya, lari dari jalur penerbangan yang sudah ditetapkan. Lebih ke bawah lagi, matanya kian perih akibat asap kebakaran hutan. Tapi ia jadi tahu, ia sudah di atas Indonesia.
Parahnya lagi, orang yang hendak ditemuinya ternyata menyandang tiga KTP. Karuan saja ia harus bertanya kanan-kiri untuk memastikan dimana pemuda itu tinggal, kemudian setelah celingak-celinguk terbang lagi ke tempat lain, sampai ke posisi terakhir, yang kebetulan benar pula. Ia pun masih harus menikmati pandang penuh curiga dari Ketua RT dan kerling penasaran dari beberapa gadis yang kemudian tertawa cekikikan. Ia bisa mendengarkan pembicaraan orang tentangnya, tetapi ia diam saja. Mereka pikir ia tak mengerti bahasa daerah. Dia kan malaikat, dan malaikat tak butuh penerjemah. Mereka membicarakan bungkusan berbentuk tas di pundaknya yang tak dilepaskannya sejak tadi. Jangan-jangan bekpeker kere, kata seseorang dengan lidahnya yang medok. (maksudnya backpacker=petualang yang bepergian dengan kantong tipis, dan perlengkapan sekedarnya saja, hanya dalam satu tas punggung.). Paling dia hanya pura-pura tanya alamat, dan kemudian mengaku tersesat, kehabisan uang akibat ditipu di jalan, dan ujung-ujungnya minta menompang di rumah penduduk, tapi masih minta disediakan air panas untuk mandi dan makan malam gratis, kata seseorang sinis, membumbui. Jangan-jangan itu bom, kata yang seorang lagi. Hush…apa yang mau dibom disini? Kuburanmu? Kambingmu? Lalu mereka tertawa-tawa. Padahal bungkusan itu hanya penyamaran, untuk menyimpan sayapnya yang kelelahan. Apa boleh buat? Ia sudah terlambat, dan tak cukup waktu menata tampilannya.
“Hei, kok bengong? Itu jatahmu” sergah pemuda itu. Tanpa sadar, di tangannya ia sudah memegang sekaleng cat tembok dan sebuah kuas. Ia lalu memandang dinding yang ditunjukkan tangan kurus itu. Sejak pertama kali bertemu manusia, ia sadar harus banyak belajar, juga mengurusi tetek-bengek yang seabrek jumlahnya. Tapi, setiap kali ia merasa sudah cukup belajar, selalu saja dalam praktiknya ada yang kurang. Manusia selalu saja berimprovisasi, menghabiskan waktu dengan urusan-urusan yang tak jelas.
“Ah, seandainya bocah gendeng ini tahu, di atas sana warna tidak pernah pudar.” batinnya. Dan ia terpaksa membaca lagi, seberapa banyak air harus dicampurkan ke dalam cat itu. Apa boleh buat, ia sudah terlanjur berjanji membantu si pemuda kerempeng dan kere. Padahal ia masih punya tugas memberitahukan peringatan pertama, bahwa si pemuda akan mati muda, kalau saja cara hidupnya tak berubah juga. Nanti minta bantuan dokternya sajalah, bisiknya sambil mulai mengecat tembok kamar yang tadinya berjamur.
“Hei…bukan gitu caranya. Dari atas ke bawah, biar rapi.” Teriak si pemuda dari jauh, sambil menyeruput soda gembira-nya, di warung burjo.
“Dasar manusia, mau mati saja masih berlagak!” gerutunya pada akhirnya. Tentu saja si pemuda tak mendengar, sebab ia kini sibuk berteriak mengikuti pertandingan bola di televisi, LIVE!
Selasa, 08 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar