Benar…
Aku tidak punya energi yang sanggup memijarkan besi sampai putih
Aku tidak punya energi yang sanggup menghalangi debur gelombang memecah di pantai
Aku tidak punya energi yang sanggup menggerakkan revolusi
Aku bahkan tidak punya energi yang sanggup membuatmu berbisik “Sayang, Aku juga mencintaimu.”
Sesekali,
Aku punya lilin dan korek api yang sementara cukup mengusir kegelapan separuh malam
Aku punya kran, karet, dan plastik untuk menghentikan air meluber dari penampungan
Aku punya sapu dan kain pel untuk membersihkan lantai yang berdebu
Tetapi, aku masih belum punya cukup tenaga untuk membuatmu berhenti dan tersenyum sejenak padaku
Yang kutahu, aku memang bukan siapa-siapa, belum jadi apa-apa,
dan mungkin takkan jadi apa-apa
Aku hanya penjaga malam yang masih ingin belajar mengucap “YA” dan “TIDAK” dengan jelas, dengan sepenuh hati, tanpa basa-basi
Aku hanya punya kata-kata yang menolak disimpan dalam kepala
dan berontak meninggalkan jejak di atas kertas
Aku hanya punya pena yang terlanjur senang berlari
dan melintasi kegelisahan demi kegelisahan
Dan memang benar,
Setelah kuakui semua yang tidak kumiliki
Aku memang tidak punya apa-apa
Yang tersisa dariku hanyalah hati yang belum mau beku dan menjadi batu
Yang seringkali masih menggigil oleh ragu di hadapan waktu
Yang mencoba bersetia dengan rasa dalam kata
Yang masih ingin lafalkan “AKU CINTA PADAMU!” dengan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar, mengikuti kaidah-kaidah baku Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), dan berpatokan pada pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Inilah aku
Inilah pengakuanku
Padamu
Selasa, 08 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar