MUNGKIN-sekitar SEPTEMBER 2007
Mungkin ada yang melihat purnama tadi malam dan menganggapnya mirip kue serabi (walau gosongnya tak rata)
Mungkin ada yang berkata, itu lampu taman yang tetap cemerlang saat lampu mati
Mungkin ada yang merasa cahaya itu hangatkan sesuatu di hatinya
Mungkin (sebenarnya) ada orang yang hanya ingin katakan “Selamat Sore.” tapi lagi-lagi bertele-tele sebab penyakitnya memang begitu, maka dia ketikkan saja semua itu sambil keringatan, sebab kulitnya yang hitam belum juga berdamai dengan hawa panas
Dan mungkin penerima sms ini membaca sejenak
Mungkin dia berkata “Ah, ada-ada saja!” dan mungkin dia sudah paham langkah berikut tanpa melongok inbox
Mungkin dia heran, kok masih ada ya manusia kayak gini?
Maka kataku : Tanya Kenapa
KISAH SEORANG PENGANGGURAN-sekitar SEPTEMBER 2007
Tuhan…
Malam ini purnama
Kulihat bentuknya mirip kue serabi bundar
walau gosongnya tak rata (tapi dari segi artistic boleh juga tuh)
Sebenarnya aku sudah kenyang-tapi jadi ingin makan lagi
Maafkan aku Tuhan,
aku masih manusia
masih sulit berucap “Cukup” dan “Terimakasih” dengan sepenuh hati
yah…agak di bawah kategori Rakus minuslah
memang di negeri kami
orang lapar masih bisa dihitung dengan survey Bank Dunia atau BPS
tapi, percaya aja deh, jumlahnya banyak sekali
mungkin, di antara mereka, ada juga yang memandang bulan
dan menganggapnya kue serabi-sepertiku
dan setiap potongannya berkurang
mereka akan saling menebak
siapa ya? Yang beruntung makan itu kue tadi malam?
Mohon ampunilah Tuhan, hamba-Mu ini jadi ga enak hati
Sebab jarang sekali mau berbagi dengan yang lain
Bagaimana pula kalau ada yang memandang ke atas
Dan berdoa bulan berubah:
Supaya kekal menjelma jadi buah
Dan orang-orang yang berseru “KAMI LAPAR”
Duduk bersila dan menikmati setiap potongannya dengan hikmat
Mana yang akan Kau dengarkan Tuhan? Penggemar kue serabi atau penikmat buah-setengah vegetarian? Atau orang lapar lain, yang tak bersungut-sungut sambil mengelap kemiskinannya sampai kinclong setiap hari?
Di negeri kami, orang lapar banyak sekali, Tuhan
Puluhan juta-walaupun para ahli masih sibuk berdebat tentang validitasnya
Dan pemerintah cukup berdehem dan melakukan jumpa pers singkat
Walau memang benar, ulah sebagian orang yang tak pernah kenyang di antara kami juga yang menjadikan keadaan tetap kacau dan malah semakin runyam
Maka menjadi tugas kami jugalah memperbaiki keadaan yang payah ini
Dengan seizinmu tentunya
Sebab kamilah yang Kau utus untuk hidup di dunia ini
Saat ini
Di tempat ini
Ah, Tuhan
Berat nian tugas kami ini
Sebab kami sungguh menikmati setiap kesenangan
Apabila kami mendapatkannya
Dan terpaku pada semua yang nikmat itu
Lagi-lagi, ampunilah kami Tuhan
Kami pun sering heran
Betapa sabarnya Engkau pada milyaran orang sebelum dan saat ini
Yang selalu tidak puas, merengek, dan menuntut
Maka bantulah kami Tuhan, dan maklumilah jika upaya kami sungguh tidak memenuhi Standar Operasional Prosedur dan target yang ada
Tapi, terlebih dahulu, berilah kami pekerjaan pada hari ini…
***************************************
lelaki itu menatap coret-coretan yang baru selesai dibuatnya
dipandanginya lekat-lekat tulisan cakar ayam itu dari awal sampai akhir
kemudian dibacanya berkali-kali
ia mencoba menafsir
bahwa tulisannya itu didasarkan pada realitas konkrit masyarakat sekeliling
tapi kemudian ia kesal, jangan-jangan semua itu hanyalah perujudan dari alam bawah sadarnya, yang masih risau karena dia sampai sekarang belum bekerja
dia pun takut, jangan-jangan nanti ada yang membaca tulisannya itu dan menuduhnya bermain-main dengan nama Tuhan
segera diremasnya kertas yang sudah penuh itu
dilemparkannya dengan shoot yang melengkung indah ke tempat sampah
sambil berteriak “ Dasar Penganggur Kancut!!!”
(mohon maaf, Kancut=celana dalam)
Selasa, 08 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar