Beberapa botol mimpi yang sudah kosong berserak di kakinya
dan dia heran, kok belum mabuk ya?
Rekan-rekannya sudah mengundurkan diri, sejak lama, sejak mendengarkan vonis dokter yang disampaikan tanpa ekspresi “Hidup ini singkat Mas, kok masih mau di-diskon sendiri?” (Waduh, itu dokter ikut multi-level ya??? Sudah bintang berapa tuh?)
Di meja, sekian wadah kaca berwarna itu tinggal menanti sentuhan pembuka botol, maka, isinya dengan segera akan mengalir ke perutnya, diproses lebih lanjut untuk selanjutnya dibuang di toilet, sementara liver dan ginjal-nya akan bekerja begitu keras untuk menetralkan racun yang menumpuk.
Tapi dia tertegun, sebab pendapat berbeda tentang para peminum yang diciptakan oleh Suhu Peminum (dengan catatan “Untuk Kalangan Sendiri”) tiba-tiba terngiang di telinganya, samar-samar, seperti:
“Peminum Hebat adalah mereka yang setelah menenggak sekian botol tidak sempoyongan dan kehilangan kewarasannya”
“Peminum Bermartabat adalah mereka yang minum bukan karena ingin melarikan diri dari masalah hidup yang menghimpit kian berat”
“Peminum Tepat adalah mereka yang bisa melaju dengan percepatan maksimum dan berhenti tanpa mengerem mendadak di lampu merah”
“Peminum Cermat adalah mereka yang bisa memperkirakan neraca laba-rugi akibat minum dan tetap berani berinvestasi dan mengambil risiko”
“Peminum Sehat adalah mereka yang masih sanggup mendonorkan darah di PMI dan lulus uji toksisitas sebagai Pengemudi”
lain-lainnya seperti peminum berat, peminum gawat, peminum lewat, peminum terlambat, peminum bantat, dan lain-lain tidak pernah dan tidak ingin diingatnya, sebab julukan-julukan itulah yang selama ini mencemarkan nama baik dan kehormatan korps peminum…
maka, diambilnya sebotol lagi, dibuka pelan dan dituangkan ke dalam dua gelas kosong yang berhadapan di atas meja
ia mengangkat gelasnya dan melihat satu tangan meraih gelas satunya
dan “toss” gelas berdenting saat beradu pelan
kemudian, setelah menuntaskan minuman di tangan kanannya, ia menandaskan isi gelas di tangan kirinya sampai tetes terakhir, lalu menyeka buih yang menempel di ujung kumisnya dan berkata:
“Cukup untuk saat ini, besok malam kita party lagi…”
Senin, 21 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar