bulan jatuh di kubangan
lumpur muncrat
Dan “Phuihhh..!!” seseorang meludah
“Pukimak!” desisnya “anak istriku kuimporkan lumpur khusus untuk perawatan kecantikan, dan sudah tigapuluh tahun aku bukan petani lagi, tapi aku masih kebagian jatah mencicipi tahi kebo sialan ini…” ia menyeka mulutnya, lalu memandang berkeliling lewat jendela apartemen sambil sesekali melirik wanita muda yang tadi berkeringat dan sekarang pulas di ranjang, penasaran mencari asal-muasal lumpur yang muncrat, lalu mampir tepat di mulutnya di apartemen di lantai duapuluh, sekian menit setelah ia bercinta…
(tapi rasa aneh yang terkecap di lidahnya mengingatkannya pada belut bakar dari sawah di masa kecilnya dan diam-diam masih diakuinya itulah makanan paling lezat di dunia)
di sebidang laut yang biasanya tandus seorang nelayan dan anaknya yang dengan sukarela putus sekolah sedang bergembira, sebab ikan banyak sekali
“Terimakasih Tuhan…” ucap mereka berulang-ulang, perahu sarat, jaring hampir robek, perlahan mereka mendayung ke pantai, sambil sesekali menatap bintang-bintang, sambil sesekali berdoa “Semoga es batu masih cukup dan harga ikan tidak jatuh” Sesekali si nelayan tua masih mengkhayal, seandainya tadi ia memakai perahu yang lebih besar, keuntungannya akan jauh berlipat ganda. Sesekali si anak masih menimbang-nimbang dalam hatinya, apakah akan ikut kursus atau kawin saja, seandainya hasil melaut mereka tetap baik beberapa waktu ke depan.
di belahan dunia lain, seorang pemuda bengong dalam gelap
alamak, dia lupa beli lilin
rindu yang terkumpul terlanjur mengerak di lubang hidung
tadinya ia terbiasa menghabiskan rindu dengan mengupil
sambil memandang bulan dan mengkhayalkan gadis pujaan yang tak kunjung tiba
terasa ada yang kurang, sebab baginya lebih asyik mengupil
dalam remang daripada gelap total
tapi mau apalagi, ini kondisi darurat dan semua harus berjalan apa adanya
di belahan dunia lain yang sempit dan sumpek, seorang gadis sedang bersukaria, air matanya bercucuran, tentu saja bukan karena sedih, tapi saking bahagianya
ia tahu bulan jatuh ke kubangan, dan belum bisa dipastikan kapan mengorbit lagi
ia tahu, tidak ada yang akan mengejek wajahnya lagi, yang kata mereka seperti rembulan
besok ia bisa melenggang cuek melewati sekumpulan pemuda yang biasanya menyiulinya dan setelah itu tertawa terbahak-bahak
di belahan dunia yang lain lagi yang sebenarnya tidak seberapa jauh, ada kampung yang sangat teratur, kalau siang terang-benderang semua orang bekerja, malam gelap gulita suami istri bergerak diam-diam lalu anak-anak lahir, dan pemuda-pemudi raba-meraba dalam gelap, yang tidak punya pasangan menginang sirih atau mengunyah tembakau, dan purnama adalah bonus bagi anak-anak untuk bersenang-senang. Ketika tahu bulan jatuh ke kubangan, anak-anak itu sungguh bersedih. Mereka juga tidak punya permainan yang bisa dilakukan ramai-ramai, di halaman, saat tak ada cahaya. Bahkan gigi-gigi pun tak kelihatan. Seharian mereka bergaul dengan Lumpur, masak malam-malam pegang lumpur lagi? Sampai leher-leher legam itu pegal, mereka masih memandang ke langit hitam, berharap pada keajaiban…
di belahan dunia yang lain yang lagi-lagi hanya aktif pada malam hari, seorang penyanyi termangu di panggung… ia sedang menyanyikan lagu ”Fly Me to the Moon” ketika bulan jatuh ke kubangan. Orang-orang yang tadinya meniupkan ciuman ketika ia bergoyang dengan lagu “Dancing on the Moonlight” meneriakinya untuk turun dari panggung, sambil melemparinya dengan kacang, kulit kacang, permen, dan yang sungguh tak biasa, beberapa kondom yang masih rapi dalam kemasan. Ia terlanjur terbiasa dengan mawar dan ciuman dari para penggemar, lalu tawaran makan malam dan paket-paket lanjutannya. Tapi, ini kenyataan yang sungguh memerihkan jangat.
Ternyata, begitu banyak peristiwa yang terjadi ketika bulan jatuh ke kubangan dan lumpur muncrat. Bulan depan, apakah bulan masih akan jatuh ke kubangan, atau mendarat nyaman di puncak gunung, atau menyelam ke dasar samudra, atau akan tetap bersinar angkuh di langit. Ya, di berbagai belahan dunia orang-orang akan menunggu tibanya saat itu…
Rabu, 26 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar