Selasa, 08 April 2008

SURAT SEORANG TAHANAN KEPADA ISTRINYA- 25 OKTOBER 2007

Apa kabar, Sayang? Aku masih bingung apa yang akan kutulis. Aku juga tidak tahu siapa yang akan kukutuk atas kesialan ini. Seandainya kutujukan padamu, kau hanya akan tertawa terkikik-kikik lalu buyarlah semua itu, ilmu yang sudah kupelajari lama dan kurapal saat-saat penting saja.

Sedang apa, Sayang? Kautahu aku sudah jarang bercumbu dengan malam. Gigiku pun makin sering memberontak. Kopi yang kaukirim tiga bulan lalu sudah habis minggu kemarin. Ingin kupesan lagi, tapi aku tak punya uang lebih saat ini. Maka kutahankan saja minum kopi sambil berkali-kali meludahkan ampas jagung yang melayang di permukaan gelas itu.

Bagaimana ladang kita, Sayang? Saat panen tiba, rayulah lagi bapak-ibumu untuk menanggung segala urusan. Toh, mereka juga yang selalu mendesak kita dulu untuk kawin cepat-cepat. Maka mereka juga masih punya saham untuk cucu-cucunya itu. (aku tahu kata-kata itu dari seorang akuntan yang sedang sial, ketahuan mencurangi pembukuan dan lalu ditabung di sini.) Dariku cukup doalah dulu, lain-lain menyusul. Kalau wajah pemilik warung depan itu sudah menjadi bulan sabit lagi, mungkin lebih baik kau keluar lewat pintu belakang saja setiap keluar rumah.

Jangan tersinggung, Sayang. Mereka hanya sedang rajin menerapkan prinsip ekonomi. Nanti juga capek sendiri, seperti anak kecil yang setiap kali mengagumi sepedanya yang baru dibeli. Kaupun tahu, aku selalu bayar utangku, itu kan hanya soal waktu. Ya, aku mengaku. Memang ada sedikit uang kutabung. Tapi, kalau kukirimkan padamu, nanti aku tak punya lagi ongkos pulang. Belakangan jarang ada order. Kau pun tahu, aku bisa bekerja keras-apa saja-asal setiap hari bisa melihatmu. Gombal? Ah…aku selalu jujur padamu Sayang. Jangan cemas, aku tidak akan melirik wanita lain. Laki-laki=Buaya Darat? Omongan orang jangan terlalu dipikirkan, anggap saja mereka sirik dengan kemesraan kita. Ato suruh saja belajar biologi, biar tahu buaya adalah makluk yang sangat setia pada pasangannya. (nah, kalo yang ini, kutau dari seorang ahli reptile, yang karena cintanya pada buaya, menaruh puluhan anak-anak buaya di danau kota. Karuan saja semua orang geger, dan dia pun diternakkan sementara di sini.)

Eehhh..kok malah jadi ngelantur ya? Ya udah. Gini aja. Kirimkanlah cintamu bergelondong-gelondong, semampumu. Biar kurajut jadi selimut buat menghangatkan malam. Soalnya, sarung yang kubawa dulu sudah robek-robek. Iya, aku memang selalu mencucinya pelan-pelan, dan tidak pakai sikat lagi. Tapi mau bagaimana? Pelapukan kan tak bisa dilawan.

Okelah…terimakasih Sayang. Terlalu banyak yang ingin kutulis, tapi entah kenapa, aku selalu bisa berhenti, tepat sebelum kertas ini habis. Peluk ciumku untukmu, juga untuk anak-anak kita : Eka, Dwi, Tri.

Ttd. Suamimu: Zero

NB:
1. seandainya kita nanti dikaruniai anak yang keempat dan terlahir laki-laki, kurasa kau pun takkan keberatan menamainya Catur. Tapi kalau perempuan, CITRA bagus juga tuh. Aku lebih senang kalau perempuan, sebab dia pasti mewarisi kecantikanmu.
2. setiap ada kesempatan berfoto, akan kukirimkan padamu, sehingga anak-anak bisa mengikuti perkembangan kerut-keriput di tampang hitam bapaknya.
3. seandainya mereka punya lamunan yang bertingkat-tingkat dan berlantai marmer, ingatlah selalu untuk mencubit mereka supaya sadar, dan belailah lembut kepala mereka. Setelahnya, suruh belajar yang rajin, supaya masa depannya tidak jadi gubuk reyot seperti bapaknya ini.
4. eh…satu lagi. Apa si Rojali, sopir Angdes itu masih rajin mengklakson di muka rumah? Sampaikan salamku untuknya, bilang jatah hukumanku setahun lagi, tapi bakal dapat remisi minimal enam bulan.

Tidak ada komentar: