Selasa, 01 April 2008

—PEMBICARAAN TERPUTUS YANG BIKIN BINGUNG -22 Oktober 2007-

Di keheningan pagi yang kini dirasakannya semakin mewah, ada sms masuk ke hp-nya. Dibacanya nama pengirim tertera di sana. Ia pun segera paham, pengirimnya adalah seorang temannya yang sudah lama tak dijumpainya. Maklum ia kini bekerja di ibukota, sedangkan temannya ini masih saja setia memunguti celotehan para dosen di kampusnya dulu.
Sebenarnya, seandainya pengirim sms itu memakai nomor lain dan sekalian juga tidak mencantumkan namanya, ia hampir bisa memastikan bahwa pengirimnya pasti temannya itu.

Siapa lagi?

Dia memang bukan paranormal yang sering diwawancarai di televisi dan setelahnya membuat orang yang menonton (dan kemudian percaya) jadi tak bisa tidur, tapi entah bagaimana dia yakin saja. Hanya temannya yang satu ini, sepanjang yang diingatnya yang bisa duduk berjam-jam sambil mengerutkan kening dan merengut karena persoalan yang bagi orang lain sepele saja, seperti mengapa ia terbiasa memakai sepatu dan sandal dari kiri terlebih dahulu, demikian juga dengan celana, mengupil, cebok, dan sederet aktivitas lainnya yang berhubungan dengan tubuh bagian kiri. Bahkan mengayuh sepeda saja ia selalu mulai dari pedal yang kiri. Temannya ini juga sering mengirim sms untuk memberitahukan hal-hal yang menurutnya sepele saja, seperti pembelian celana dalam baru, kamar yang baru dicat, uban yang muncul diam-diam dan setelahnya tak bisa diusir, bahkan mimpi tadi malam dan gigi yang kadang-kadang ngilu.

Ia kemudian membaca sms itu, singkat saja isinya “HIDUP BERARTI SUNYI!”

Kata-kata seperti itu sebenarnya sudah sering didengarnya dan dibacanya, terutama ketika topik yang dibicarakan adalah kebosanan dan rutinitas yang kian menjebak manusia. Ia pun sebenarnya mengakui, baginya perkataan itu ada benarnya. Ia hanya tak berminat saja mempermasalahkan hal seperti itu terlalu lama, karena waktu bergerak terus, dan ia punya setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Belum lagi tagihan listrik, telepon, air, kartu kredit, arisan, dan segala macam iuran kampung yang hampir jatuh tempo. Bisa jadi sudah jera juga ia, ketika dulu sering berlama-lama diskusi dengan orang-orang yang mengaku pakar untuk bidang itu, dan ia merasa masuk dalam labirin yang berputar-putar dan rasanya makin tak berujung.

Dia baru hendak bertanya, sekedar berbasa-basi “Maksudmu apa?” , tapi pulsanya bahkan tidak mencukupi untuk satu sms terakhir, dan sudah jelas, anggaran pulsanya untuk bulan ini sudah habis. Maka dia putuskan saja untuk tersenyum dan mengambil kesimpulan dengan cepat “ Orang yang berlagak jadi penyair memang biasa cari sensasi.”

Tidak ada komentar: