Selasa, 01 April 2008

CERITA YANG DIBUAT-BUAT-05 FEBRUARI & 20 MARET 2008

Laguku biru
Saat di bawah matahari aku berjalan mencari laut yang kesekian
Untuk serahkan bibit perdu pada halaman gelombangnya yang luas tanpa debu
Supaya disimpannya dengan baik, menunggu waktu yang tepat
Seharusnya kubawa pohon-
tapi hutan-hutan terlanjur berpamitan pergi ramai-ramai
Mengikuti para TKI berburu dolar ke luar negeri
Lagipula, siapa sih yang mau menemani memanggul pohon menembus keramaian di tengah-tengah kota, saat panas terik?
Kecuali nekat disangka gila, atau berani ditangkap atas tuduhan illegal logging, atau memang sengaja cari perhatian dan bermimpi jadi selebritis dadakan

O, laut
Yang berkerut dan berdebur selalu
Terimalah semua ini
Seperti dulu
Ketika kau terima lembaran-lembaran yang kutulis saat hujan malam-malam ditemani lilin-lilin yang berbaris tertib lalu bunuh diri sebatang demi sebatang
Surat-surat yang menguning dan berdebu, yang dulu kutulis dengan begitu sungguh-sungguh untuk tidak jadi kukirimkan
surat-surat cinta yang akhirnya kulipat jadi kapal-kapalan dan kulayarkan di tubuhmu

O, laut
Kau tahu, aku sedang belajar menganyam
Sebab aku terinspirasi cerita Musa saat bayi yang dihanyutkan ke Sungai Nil dalam peti pandan yang dipakal dengan gala-gala dan ter, untuk menghindari pembunuhan oleh Firaun yang kejam
Aku akan menganyam peti pandan dengan rangka rotan, tapi untuk memastikan kekuatan dan keawetannya, aku akan lapisi dalam dan luar dengan fiberglass dan kurekat dengan lem khusus tahan air
Dan kau jangan salah sangka dulu, aku tidak akan menghanyutkan bayi siapapun, bukan juga diriku, dan juga bukan untuk surat-surat cinta yang memang sudah tak pernah kutulis lagi
Di dalamnya akan kumasukkan tanah subur
Tugasmu menanam bibit perdu itu dan memastikannya tumbuh, dan melindunginya dari manusia-manusia yang serakah serta makluk-makluk tak berkepentingan
Kau atur sendirilah bagaimana caranya
Aku yakin, ada saja pasangan burung kecil yang bahagia, yang melintas di atasmu untuk mencari rumah yang takkan digusur manusia, tapi kepayahan akibat jauhnya perjalanan
Biarlah mereka singgah di sana, termasuk jika mereka memutuskan untuk tinggal dan menganggapnya home sweet home, beranak-cucu dan berketurunan

Tahun-tahun berikutnya, ketika aku bangun di pagi yang basahnya sedang-sedang, dan ada burung-burung bernyanyi di ranting pohon di luar jendela kamarku (semoga nanti aku punya rumah dan pohon tumbuh di sana), aku bisa sedikit menebak-nebak
Mungkin burung-burung ini lahir di laut, di atas perdu yang tumbuh dalam peti yang kubuat dulu

Sebelum tidur mereka terbiasa mendengarkan potongan puisi-puisi cintaku yang disimpan laut sahabatku dengan rapi dan diserahkan kepada ibu-bapaknya, lalu nyenyak oleh buaian lembut laut
Dan karena mereka memang cerdas dan punya jiwa seni, seluruh rangkaian kata itu sudah berubah menjadi lagu

Kalau tidak begitu, mengapa setiap pagi mereka bisa melantunkan lagu yang berbeda, di ranting pohon, di depan jendela kamarku?
Kalau tidak begitu alurnya, siapa yang bisa memberikan padaku, penjelasan yang lebih memuaskan?

Tidak ada komentar: