Suatu hari nanti
Kita duduk-duduk lagi di taman itu
Mungkin
Bicara tentang masa lalu yang kian remang dan masa depan yang sudah mendekati limit
Masa kini? Kan sedang terjadi, yaitu duduk-duduk di taman, jadi buat apa dibicarakan lagi?
Suatu hari nanti
Kita ingat teman yang sering duduk di samping kita
Bangku itu kosong kini
Dulu ia yang paling rajin hadir di sana
Sekarang ia cabut duluan
dibawanya mukanya yang tanpa ekspresi itu diam-diam pergi
dan kita masih saja penasaran, apa saja yang masih dipikirkannya
Suatu hari nanti
Sebelum kita tak sempat mampir lagi
Sebelum kita kerutkan kening hanya untuk mengingat wajah teman kita yang lain
Sebelum kita makin asing dengan bau keringat masing-masing
Kita kenangkan saja perbantahan yang tak putus-putus dan cinta yang meranggas itu
juga senyum yang sudah kita pasang sejak subuh dan tak digubris bahkan saat senja tiba
dan kita masih saja tersenyum
masak mau merengut? kan cepat tua!
dan hasrat hati yang mengkristal itu kita simpan dalam gudang ingatan yang sumpek dan kita biarkan dimakan rayap, walau sesekali kita coba bersihkan dan ceritakan pada anak-anak dan cucu-cucu kita yang tak lagi heran melihat orangtua atau kakek-neneknya yang sentimentil dan senang barang-barang kuno (orang-orang tua selalu begitu)
Suatu hari nanti, mungkin akan kubaca kembali sajakku ini dan kumaki-maki diriku sendiri, kenapa masih sempat-sempatnya menulis seperti ini….
Tentu saja aku belum tahu apa yang akan terjadi nanti, jadi, supaya kemungkinan itu masih punya peluang untuk terwujud, ya kubiarkan saja tulisan ini apa adanya, dan kubiarkan juga kalian membacanya…
YA, SUDAH!26 November 2007
Kau mau pergi katamu?
Melesatlah dari celah pintu yang sudah kaukuak
Seperti angin
Engsel yang sudah kuminyaki kemarin takkan berderit apalagi menjerit
Jadi akan kulanjutkan mimpiku dengan tenang dan nyaman
Ya, ya, ya, mungkin aku akan sedikit merindukanmu
Kala gelas kopi tinggal ampas dan mulutku asam minta rokok
Kalau di dapur tak ada nasi dan ranjang terlalu lebar buat sendiri
Tapi kupikir-pikir, selebihnya tidak
Aku pelupa, tapi setidaknya masih ingat
Bahwa “kesetiaan” dan “selamanya” tak pernah ada dalam kamus kita
Itu kejujuran tertinggi sebagai sesama pembosan
Kita sepakat, janji adalah janji, dan bukan rantai yang membelenggu
Dan sebagai lelaki angkuh, takkan kujemput kau ke rumah orangtuamu
Tapi kalau kau datang kembali sendiri, akan kuterima dengan senang hati tak banyak basa-basi
Tapi, sekiranya bisa
Kalau kau tetap ingin pergi, jangan kelamaan ya
Nanti aku bingung sendiri
Selasa, 27 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar