CUKUPLAH DULU SAYANG-24 Oktober 2007
Ya, aku tahu tidak baik membuang-buang makanan
Sebab masih banyak orang kelaparan di luar sana
Maka rejeki ini sepatutnya kita syukuri
Tapi apa yang harus aku lakukan
Kenapa aku yang selalu kebagian jatah
Menghabiskan seporsi kesunyian yang terhidang di meja makan di dapur
Yang kau sediakan di dalam pinggan porselen bermotif teratai itu
Aman tersimpan di bawah tudung suji berenda mawar
di bawahnya lagi taplak meja bergambar hutan cemara
aku memang menggemari makanan seperti itu
tapi bukan berarti setiap hari aku menginginkannya
aku juga masih punya rasa bosan
dan hidup juga butuh variasi
kau juga marah kan, kalau aku pakai baju yang sama tiap hari
maaf, bukan maksudku menyinggung perasaanmu
kutahu, kau sudah berbaik hati memasak untuk kita selama ini
aku sungguh ingin menghargai ketulusanmu
Tapi, hampir tak bisa kutahan diriku untuk memohon
Sekali ini saja, bolehkah aku makan di luar?
Atau supaya kita tidak bertengkar, maukah kau tidak memasak satu hari saja?
Sekali-sekali tidak makan tidak apa-apa bukan?
*****************
SEMOGA-20 OKTOBER 2007
Tak kutemukan jejak pertemuan kita kemarin
Mungkin petugas dari DKKP sudah menyapunya tadi
Sebab ketika aku berkeliling lewat pukul empat subuh jalanan sudah bersih
Tapi siapa yang tahu pasti
Sebelum mereka ada pasangan memungutnya untuk mengenang cita masa muda sambil berpegangan pada jemari keriput masing-masing
Atau bisa saja angin berkejaran dan bersembunyi di ceruknya dan ketika menghambur lari lagi tinggalkan semua berantakan
(lagipula jejak kita tidak dicetak di atas granit)
Sebelumnya aku sudah tak yakin benar
Jejak itu masih ada
Dan seandainya pun ketemu
Apa yang akan kuperbuat dengannya
Mungkin kusimpan sendiri saja
Sebab kau pasti sudah lupa dan tak pernah berniat menyimpa barang bekas
“Buat apa, menghabiskan tempat saja!”
Tiba-tiba aku punya ide untuk berdoa
Semoga, penyapu jalan tadi yang menemukannya
Dan bisa memilahnya dengan awas di antara serakan kondom bekas sialan dari orang-orang tak punya sopan-santun itu
Semoga ia pulang ke rumah dan bertemu istri yang makin kurus itu
Dan mereka bisa sedikit tersenyum mengenang anak pertama yang dijemput busung lapar bulan lalu
Juga anak kedua yang begitu kompak dengan anak pertama dan diam-diam mengikuti abangnya itu tiga hari lalu
Semoga penyapu jala itu akan setia membersihkan jalan yang terus saja kita kotori lagi
dan walaupun lorong hidupnya tak bertambah lempang, semoga ia terpilih jadi penyapu jalan teladan
Dua Temanmu-30 Oktober 2007
Sebab malam bukanlah sekuntum bunga yang setelah kaupetik kaucium sebentar lalu kauremas dan kaucampakkan di selokan
Sebab malam mungkin berkerabat jauh dengan maut dan tabiatnya pun berbeda jauh pula
Sebab malam bisa ditebak
Ia berkunjung setiap hari dan engkau enggan bicara padanya
Saat dia pergi bisanya kau bangun dengan tubuh segar dan bercanda
Pada pagi
Sebab sepertinya kau sudah pandai menghitung dengan tepat berapa lama malam menunggu dan kau diam saja
Terus tidur
Sedangkan maut tidak pernah memberitahu lebih dulu kapan ia mau singgah
Padahal setiap kau teringat padanya kau selalu berusaha membuka mata lebar-lebar dan mencari setiap tanda kehadirannya, dan sampai sekarang kau masih tergolong amatiran dalam membaca jejak
Ketika dia datang, dia bilang bahwa dia datang hanya sebentar
Tak bisa duduk lama-lama, minum kopi, merokok, atau menggosip tentang janda sebelah
Dan setelah bertemu dengannya kau setuju saja untuk menutup mata seterusnya dan tidak bangun lagi
Masih merembes keheranan dalam diriku
Betapa ternyata kau bisa akrab dengan keduanya
Dan aku masih saja ingin berspekulasi
Apakah mereka sebenarnya punya saudara perempuan yang kautaksir diam-diam?
Selasa, 27 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar