Berapa harga ayam sekilo, Saudara?
(Maafkan rasa ingin tahuku yang sedemikian besar. Aku ini wartawan baru yang bersemangat dan ditugaskan meliput berita kriminal untuk koran sore. Padahal matamu membeliak, gigi rontok dan bau sangit dari kulit gosongmu tidak boleh tidak harus kutafsir sedemikian-Kau sudah mati.)
Jelas tak mungkin lagi kau menjawab sigap seperti Simbok Bakul Pasar di Beringhardjo saat kutanya jualannya “ Monggo…monggo, mboten larang kok.” Sambil dia tersenyum ramah dan mengusiri lalat ijo yang singgap seenaknya di atas potongan ayam sayur yang gemuk-gemuk itu.
Maka kucoba saja membayangkan, siapa ‘kan melayat di makammu nanti?
Skenario Pertama:
Boleh jadi ibumu. Sambil meratap ia. “Betapa malangnya nasibmu anakku. Kulahirkan kau lewat cucuran darah yang hampir merenggut nyawaku. Kubesarkan diriku dengan sepenuh cintaku. Aku mengusap kepalamu jika kau mengantuk dan belum bisa ttidur karena nasi tadi sore belum cukup mengenyangkan perutmu. Dan mereka mengantarmu pulang berbekal informasi singkat “Dia kedapatan mencuri ayam dan mati dihakimi massa.”
Mungkin beliau rajin membaca juga mengutip kata-kata sarat makna dengan sedikit improvisasi, lanjutnya pedih “Anakku…, anakku…mengapa Kau tinggalkan Aku? Mengapa justru saat anak panah ini melesat untuk pertama kalinya, sasaran yang dituju langsung meleset dan tidak ada siaran ulang?”
Ah! Terlalu sedih!
Skenario Kedua:
Bagaimana kalau istrimu yang datang. Sambil menggendong bayi mungil yang belum lepas susu, berbisiklah ia dengan suara pedih, sebab memang tenaganya belum kembali sepenuhnya. Ia juga bertaruh nyawa saat melahirkan buah cinta kalian, dan suara lirihnya itu teredam ramai dunia, katanya singkat saja “Bukan salah kami punya perut!”
Dan bayi yang sungguh peka itu (mungkin dia kepanasan juga atau mungkin jadi kehausan-minta susu) merespon dengan ikut menangis, air matanya ikut tumpah mengiringi sungai besar dari mata ibunya.
Ah…masih saja terlalu sedih dan dramatis.
Skenario Ketiga:
Jika pacarmu yang datang, bagaimana? Dengan asumsi kau masih lajang.
Tapi, tunggu dulu. Kurasa skenario ketiga ini lebih tak mungkin. Apa boleh buat. Maling ayam belum menjadi salah satu profesi favorit di negeri ini. Di KTP, SIM, KITAS, bahkan KIPEM sekalipun belum mungkin diterakan.
Sebaik-baiknya pengukir nisan, di makammu nanti tak mungkin diabadikannya… “MALING AYAM…Gugur dalam mis mencari nafkah.”
Ah…semua cerita itu malah membuatku miris…
Jadi, cerita apalagi yang mungkin kugali darimu? Apalagi yang bisa kukatakan?
Harus kuakui, kau memang sungguh nekat. Mencuri tanpa survei lapangan , apalagi gladi bersih. Amatiran, pantas saja kau tertangkap.
Dan, massa yang menyambutmu betul-betul ramah. Mereka kirimkan dengan amat hangat sekian balok, kepalan tangan dan tendangan mesra mencium setiap bagian tubuhmu. Sampai mereka berkeringat terengah-engah dan pada klimaksnya, semua menggelinjang dan berteriak “BAKAR!!!” (Sudah tersedia pula secara swadaya, bensin dan korek api.)
Peluh membanjir di tubuh mereka saat lagi-lagi mereka bersorak, senang atas pelayananmu. Jeritmu yang melemah mereka rasakan sebagai desahan puas, dan setelahnya mereka pulang ke rumah masing-masing sambil membayangkan pergumulan barusan.
Maka purnalah gelarmu “MALING” sebab ku memang keburu mati dalam kesempatan pertama, sebelum sempat alih profesi atau naik tingkat.
Mungkin benar, kau hadir pada waktu dan tempat yang salah. Seandainya kau jeli melihat musim dan arah angin. Seandainya kesempatan menyapamu dan kau sendiri rajin belajar. Tidak ada alasan nanggung, jadilah koruptor sejati. Sebab di negeri ini, koruptor besar dan massa amat sulit diadili. Sepertinya memang selalu sulit menemukan pihak yng benar-benar harus dimintai pertanggungjawaban.
Yah, hitung-hitung, kau masih memiliki kesempatan mengelak. Duduk di deretan paling depan dalam upacara-upacara resmi. Boleh jadi kebagian tugas pidato peresmian proyek ini itu dan gunting pita segala. Dan masih ada kemungkinan menerima bintang jasa setelah mati diangkat jadi pahlawan.
Percayalah. Namamu masih sangat mungkin mewangi setidaknya di negeri ini.
Tapi, maaf saja. Saranku ini sudah telat. Maaf! Aku harus mengejar dadline, barusan ada maling jemuran ketangkap, sepertinya perayaannya masih lebih meriah darimu. Maka lebih baik kupakai saja, rumus 5W1H, biar irit kertas. Biar ringkas dan tepat sasaran. Trims
Beristirahatlah dengan tenang.
Selasa, 27 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar