Kantukku bermuara
Gerak kepala tak beraturan
Sampai lelah sendiri-bangun
Lelaki tua-sadar dirinya-lupa sekeliling
Nyalakan sebatang rokok
Asap tebal berkepulan
Bau kuburan-kutahu dia racikkan kemenyan di lintingan
(Kata siapa uban tanda kebijaksanaan
orang tua bisa pikun
kembali anak-anak
minta balon dan berak di celana)
Kuingat lagi bapak-bapak petani tua
Penggemar berat rokok klembak menyan di Jawa Dalam
Kereta berhenti beberapa jenak
Bau kuburan terus menguar
Hei, bapak tua
Kereta bergerak tak apalah
Angin selalu rajin antar rombongan asap
Menjauh lari bebas
Bayi bangun
Peka
Protes pada dunia, menangis
Si ibu muda sibuk mengipas-ngipas
Angsurkan botol susu
Tangis makin keras
sepertinya dia tak mau
Ibu muda panic
Pedagang bergerak tak habis-habis, lalu pengemis-pengamen
Dengan mantra-mantranya dan senjata perangnya
Lelaki tua lain-ubanan juga-tak merokok
Tersenyum, ucapkan petuah dahsyat
“Sejak zaman baheula, orang miskin sudah terbiasa susah”
kepada penumpang lain, seorang muda yang berkata “biasanya jam segini, kereta sudah di…”
dia sebut satu nama, aku lupa pula
Aku pergi, berdiri di pintu
Sambungan antar gerbong
Bintang-bintang di atas sana, sahabat pelaut berabad-abad
Bulan belum purnama
Sesekali terselimuti awan, lalu muncul lagi
Hangat terasa
(walau bau pesing juga-ini kelas ekonomi, Bung!)
Di stasiun kecil
Ibu tua masuk
Bawaannya dua peti pisang mentah
Tidak laku-katanya, aku mengangguk
Gelar dua alas karung, lalu tidur
Wajah lelahnya damai
Aku haus, kembali ke bangku
Lelaki tua terlelap
Mulut terbuka
Kepala terangguk-angguk
Puntung beku sela jemari
Entah keberapa
Ibu muda memangku anak
Asyik menyusu
Keseimbangan bergerak di alam
Adakah lebih indah
Kasih sayang ibu dan anak
Pelan-pelan ke pintu gerbong
menyapa malam
Kasihan bulan
Dia sendirian
(atau, akukah yang kesepian?)
1 Agustus 2007
Ah, terbius mantra puisikah
Siapa bisa disalahkan
Kelas belum lagi usai
Kata-kata berhamburan keluar
Mereka murid-murid bandel
Topik hari ini jelas tak selesai
Begitu saja, berlarian ke rumah-rumah kalimat
Bertaburan di antara lorong-lorong paragraf
Sembarangan, berebut tanda tanya paling mereka gemari
“Hei…anak-anak, belum waktunya kalian keluyuran!
Simpan “tanya” kalian sekian masa lagi.
Masih ingusan saja sudah mau jadi cerita”
Ajaib, mereka terus bergerak
Tak peduli pada tatapan remeh dan gerutuan kitab-kitab tua
Acak, ke mana saja mereka ingin
Sesekali terdengar jerit kecil
Tentu karena dicubit si badung temannya
Selebihnya tawa riang sana-sini
Mereka sungguh sibuk merias matahari
Kejap berikutnya terasa campur-aduk
Seorang anak tiba-tiba tinggalkan lempung tanah liat
Padahal sudah hampir jadi
“Ini negara bebas.
Kalian, orangtua, jangan paksa lembaran dunia kami mengeriput sebelum waktunya!”
Lalu ia memanjat pohon
Lincah, zonder takut sedikitpun
Memetik deru angin meresap di dedaunan
***
Dua hari kemarin, lingkar bulan hadir penuh keanggunan
Tadi malam, cahaya hangat memantul awan berarak
Nanti, saat senja tertidur
Entah, tapi aku ingin tahu
Adakah menemaninya
Aku hanya tahu
Sementara kehilangan aksara
Saat merajut kata-kata yang semestinya singkat saja
(010807)
Selasa, 27 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar