Bagaimana-07 Agustus 2007
Seputaran matahari
Lebih
kupikir
Aku lupa tepatnya
Perjumpaan itu
dirimu ambil tempat dalam diriku
Tanpa upacara
Tanpa basa-basi
Kutanya “Betahkah dirimu ?”
Kau tersipu malu
lalu bicara
“Bagimu, adakah waktu prasasti?
Kita bersama di sini
hari ini
Apa lagi?”
Aku tergetar
“Sungguh, kau mengisi ruang kosong itu
setelah sekian lama
jadikanku utuh”
Lagi-lagi kapan, aku tak tahu kapan dinding itu terbangun
Kau berdiam seterusnya di pojok sepi, sering terlupa
Aku sibuk dengan “entah” yang berpendaran di hadapanku
Luka pun mengisi hari-hari, diam-diam
Seperti jantung, berdenyut
Pasti terjadi, karena kita bergerak bersama
dan sakit kadang mendera
Sampai hari itu
Katamu
“Lebih baik aku pergi
Kau menderita
Kita tak harus bersama, bukan?”
Aku tak rela
Bukankah kita sudah sepakat, tanyaku lagi
sepi menderu
“Jangan” kataku akhirnya “tinggallah, masih ada harapan”
Kau menarik nafas
Di pojokan itu
Tempatmu sejak pertama kali datang
Kau memang tak pernah beranjak
Haruskah kau kulepas?
The Unfinished Charter Between Two Rong-07 Agustus 2007
Rong, kutahu
cinta jadikan dunia lebih indah
Namun, bisa juga membutakan kesadaran
Seakan pecintalah pemilik sah dunia ini
lainnya hanya mengontrak
Aku juga paham
kita selalu ingin kelihatan gagah di hadapan lawan jenis
Padahal, belum tentu itu yang mereka senangi dari kita
Menurutku sih, karena aku belum pernah
jadi bagian dari bangsamu
Standar kalian seperti apa ya?
Dengan pertimbangan itu, aku tak hendak mengganggumu
saat kau mereguk kebebasan
Terserahlah, berjumpalitan pun kalian di situ tak kuurusi
Yang sesekali diawali kejar-kejaran di atas langit-langit bangunan ini
di atas kamarku pula
(Walau aku heran, kenapa harus di situ
tak adakah tempat lain?)
Berisik, sudah pasti
Sesuai kebiasaanmu, aku maklum
Dirimu jauh dari yang namanya sunyi
Sama seperti cakar, taringmu, dan penglihatan tajam yang sejak awal memang disediakan untuk melanjutkan hidup
Bisakah perjanjian ini kita sepakati, Rong?
Aku sudah singkirkan pentungan itu ke sudut ruangan
Pegang janjiku sebagai sesama Rong
Sebenarnya aku ingin kita bicara baik-baik saja
Cuma sayangnya, tak ada penerjemah fasih menafsir maksud
Kalaupun ada, berapa harus kubayar
Selain isyarat, aku tak tahu, apalagi yang bisa membuatmu mengaku salah?
Maka kukonseplah demikian
Rong Satu bin Lelaki Birong, Lajang, 23 tahun, Bayar kost dan tinggal secara resmi; selanjutnya disebut Pihak Pertama----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dengan ini mengadakan perjanjian dengan-----------------------------------------------
Rong Dua alias Kucing Garong, Petarung Gasak, umur tidak terdaftar di Kantor Catatan Sipil, Penghuni Gelap Tetap yang suka gaduh saat berasyik-masyuk; selanjutnya disebut Pihak Kedua---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
********
Sampai situ dulu, Naturalia dan Aksidentalia-nya menyusul
Itu bagian hal-hal yang diperjanjikan dan ketentuan-ketentuan yang mengikat, juga yang sekiranya perlu kita atur bersama
Kupikir, lebih baik kita berunding dahulu
supaya kau tak merasa dipaksa
Tapi, terus terang aku heran, Rong
Sejak peristiwa itu kau menghilang
tak kelihatan sampai hari ini
Kemana kau pergi
Apakah kau sudah punya pasangan baru
Kalau kau butuh pengakuanku
Ya, akan kukatakan
Aku memang kesal padamu
Karena saat aku berbaring
Lagi-lagi kau ribut-ribut di atas sana
Merongrong benih mimpi di tidurku yang tak nyenyak
Sampai-sampai eternit jatuh di sampingku
Dan debu beselemak di seluruh ruangan
sampai ke kepalaku, padahal aku sudah keramas
Tak perlulah kugambarkan betapa dongkolnya aku saat harus membereskan itu semua
Eternit itu pun belum kuganti
Rong,
Apalagi yang harus kukatakan
Kuusahakan perdamaian
Kau pun tak kelihatan
Betullah kau Rong
RENDEZVOUS-08 Agustus 2007
kita bertemu
lagi
sekian lama
lumut senja menebal
dinding waktu
kita bertemu
lagi
hanya menyapa
beku jabat tangan
teredam suara-suara ramai
orang sekeliling
kita
atau mereka
yang tak nyata
berdiri begini
kakiku pegal-kutahan
terlalu mahal dibuang
kurekam baik-baik segala
pertemuan
dalam ingatan-rencanaku
juga sentuhan jemari
percik antara mata
meredup
tiba-tiba kita berucap bersama
“Cintailah bunga-bunga!”
aku takjub
sekian banyak kemungkinan kombinasi kata
mengapa bisa sama
aku masih diam
kau lanjutkan
“biarlah bebas mekar di hatimu”
Kita bertemu
Lagi
Rasaku
Dirimu tak pernah benar-benar hadir
juga tak sepenuhnya pergi
begitulah
kau kukenang.
Pardalanan-09 Agustus 2007
Santabi Rajanami!
Hinambor ni namate mangkar, jalo do pataruon tu udean.
Songon i do hasomalan
nang marguru tu adat.
Sombanami Rajanami!
Mauliate ma tutu.
Hansit maponggol ulu, humansit dope matompas tataring.
Tapalambas ma partingkian,
jolo pungu ma sude ianakhon
na torop so piga di sihadaoan.
Ya, Aku Mengerti-5 Agustus 2007
Katamu
“Maaf
…….. cintaku
…………….bukan untukmu.”
Aku melihat wajahmu
……………di wajahku
Tergambar di matamu
Pertemuan Malam-09 aGUSTUS 2007
Kusapa di malam
Antara lembah peristiwa
Selamat tidur
Ingin kulipat kenangan
Hadirmu resap perbatasan hari
Biarkan-09 Agustus 2007
Mimpi jadi besar
bukan dosa
Bukankah dalam pengharapan
Impian dari hari-hari tertinggal di belakang
ikut menumpang
Hai-11 Agustus 2007
Pagi, katamu
Pagi, kataku
biasa
Met Siang, katamu
Met Siang, kataku
senang
Selamat Sore, katamu
Selamat Sore, kataku
heran
Selamat Malam, Sahabat, katamu
Selamat Malam juga, Sahabat, kataku
terharu
Mana utangmu, tanyamu
Oh…
Sebab-22 Agustus 2007
Waktuku lintah
……………… Isap hatiku
Tinggal luka gatal berdarah
…………….kenangan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar