Bahkan jurus mabuk sekalipun tetap memerlukan tumpuan dan terikat pada gravitasi
Itulah simpulan perenunganku selama beberapa waktu belakangan, dan setelahnya aku memutuskan untuk menempuh lembaran baru. Semua yang telah terjadi menjadi bahan pelajaran-pengalaman yang sangat berharga. Ke depan, akan kupertaruhkan segenap kemampuanku.
kurasa, inilah pelajaran termahal yang pernah kujalani, kiranya Tuhan menolongku untuk berhasil mempergunakan intisari dari semua ini.
23 Mei 2009. 02.12
Jumat, 22 Mei 2009
Jumat, 13 Maret 2009
SEPATU KAYU CINDERELLA
Cinderella panik
Memandang sepatu kanannya yang melambai lembut di pucuk arus banjir
“Tolong…sepatuku..sepatuku…” jeritnya di antara orang-orang yang melongo
semua diam, sampai seorang pemuda berpuisi. Dari badannya yang kerempeng itu terlihat jelas posisi tulang-tulang rusuknya, bibirnya biru, dan siapa yang tahu, apalagi yang mengerut di tubuh kisutnya yang menggigil itu?
“Maaf Nona… bukan tak mau membantu
Padi kami hancur
Ternak kami tenggelam
rumah kami lenyap
Demi sebelah sepatu, rasanya tak berani
mempertaruhkan selembar nyawa yang tersisa
penghangat badan yang mengerut ini…”
Suara perut yang lapar menjadi penutup monolognya kali itu. Orang-orang yang tadinya lesu memandangi seluruh sejarah hidupnya ditelan banjir, tertawa terbahak-bahak.
Cinderella tertunduk geli, hendak tersenyum tapi malu, lalu melepas sepatu kirinya,
menyerahkannya pada tubuh air di bawah
Apa boleh buat…ternyata Sang Pangeran tidak muncul kali ini
Ia memang lebih baik membantu rakyatnya yang sengsara
Tapi, siapa tahu, di suatu tempat di luar sana,
seorang pangeran lain menemukan sepatu ini
(atau jangan-jangan, zaman ini memang tak melahirkan pangeran lagi?)
Di tepi laut, seorang nelayan tua menebar jalanya dengan tersengal
Setiap kali banjir di hulu sungai, ikan-ikan di muara pergi entah ke mana.
Terkutuklah mereka yang menebangi hutan-hutan seenaknya dan mencemari laut ini
Tapi setiap kali, bagaimanapun, memang harus ada yang dibawa pulang, itu janjinya
Setiap kali, kepada diri sendiri
Ikan, botol, atau plastik, atau kaleng
sama saja, yang penting jadi duit
Sampai ketika sebuah sepatu kayu yang cantik menyangkut di jalanya
dia terdiam dan kagum
Membayangkan kaki mungil seorang putri yang begitu pas di sana
Membayangkan masa mudanya yang penuh gejolak dan hasrat berapi-api
Banteng liar, begitu julukannya dulu, melegenda di seluruh pelabuhan
Tapi, zaman berlalu membuatnya realistis
Sepatu cantik, tanpa sebelah lagi, apa gunanya
Ia memandang cermat dan mengayuh melewati bangkai, batang-batang pisang, rumput, dan ribuan benda-benda penyok, tapi tak menemukan apa yang dicari
Sampai matahari meninggi
Di tepi dermaga, kopi dijerang mendidih di atas api dari sepatu kayu
Yogyakarta, 2008
Memandang sepatu kanannya yang melambai lembut di pucuk arus banjir
“Tolong…sepatuku..sepatuku…” jeritnya di antara orang-orang yang melongo
semua diam, sampai seorang pemuda berpuisi. Dari badannya yang kerempeng itu terlihat jelas posisi tulang-tulang rusuknya, bibirnya biru, dan siapa yang tahu, apalagi yang mengerut di tubuh kisutnya yang menggigil itu?
“Maaf Nona… bukan tak mau membantu
Padi kami hancur
Ternak kami tenggelam
rumah kami lenyap
Demi sebelah sepatu, rasanya tak berani
mempertaruhkan selembar nyawa yang tersisa
penghangat badan yang mengerut ini…”
Suara perut yang lapar menjadi penutup monolognya kali itu. Orang-orang yang tadinya lesu memandangi seluruh sejarah hidupnya ditelan banjir, tertawa terbahak-bahak.
Cinderella tertunduk geli, hendak tersenyum tapi malu, lalu melepas sepatu kirinya,
menyerahkannya pada tubuh air di bawah
Apa boleh buat…ternyata Sang Pangeran tidak muncul kali ini
Ia memang lebih baik membantu rakyatnya yang sengsara
Tapi, siapa tahu, di suatu tempat di luar sana,
seorang pangeran lain menemukan sepatu ini
(atau jangan-jangan, zaman ini memang tak melahirkan pangeran lagi?)
Di tepi laut, seorang nelayan tua menebar jalanya dengan tersengal
Setiap kali banjir di hulu sungai, ikan-ikan di muara pergi entah ke mana.
Terkutuklah mereka yang menebangi hutan-hutan seenaknya dan mencemari laut ini
Tapi setiap kali, bagaimanapun, memang harus ada yang dibawa pulang, itu janjinya
Setiap kali, kepada diri sendiri
Ikan, botol, atau plastik, atau kaleng
sama saja, yang penting jadi duit
Sampai ketika sebuah sepatu kayu yang cantik menyangkut di jalanya
dia terdiam dan kagum
Membayangkan kaki mungil seorang putri yang begitu pas di sana
Membayangkan masa mudanya yang penuh gejolak dan hasrat berapi-api
Banteng liar, begitu julukannya dulu, melegenda di seluruh pelabuhan
Tapi, zaman berlalu membuatnya realistis
Sepatu cantik, tanpa sebelah lagi, apa gunanya
Ia memandang cermat dan mengayuh melewati bangkai, batang-batang pisang, rumput, dan ribuan benda-benda penyok, tapi tak menemukan apa yang dicari
Sampai matahari meninggi
Di tepi dermaga, kopi dijerang mendidih di atas api dari sepatu kayu
Yogyakarta, 2008
Selasa, 13 Januari 2009
about friendship
Bagian ini kuambil dari sebuah sms yang dikirim oleh seorang teman lama setelah pergantian tahun baru. Karena lowbatt, hp kumatikan dan pesan ini baru kubaca sekitar jam lima pagi, di atas kereta api dalam perjalanan dari Yogyakarta. Beberapa jam sebelum Bandung, aku terus berpikir dan berpikir sampai bisa menemukan kata-kataku sendiri untuk menjawab sms tersebut. For me, this message has a very deep meaning, makanya kukutipkan lengkap di sini, sesuai format yang kuterima, tentu saja tanpa menyebutkan sumber yang bersangkutan..
01.01.2009 01:52
Friendship is a
promise made in
the heart..
silently..
unwritten..
unbreakable by
distance.
unchangeable by
time..
Happy New Year
2009
All d best..
^^
_____________________________________________________
Aku hanya bisa tambahkan, "Berbahagialah mereka yang bisa menemukan keindahan dan kekuatan dalam kata-kata, dan dengan tulus membagikannya pada dunia.."
Dan tentu saja "TERIMAKASIH!" untuk jalinan kata bermakna tersebut
01.01.2009 01:52
Friendship is a
promise made in
the heart..
silently..
unwritten..
unbreakable by
distance.
unchangeable by
time..
Happy New Year
2009
All d best..
^^
_____________________________________________________
Aku hanya bisa tambahkan, "Berbahagialah mereka yang bisa menemukan keindahan dan kekuatan dalam kata-kata, dan dengan tulus membagikannya pada dunia.."
Dan tentu saja "TERIMAKASIH!" untuk jalinan kata bermakna tersebut
Senin, 12 Januari 2009
cerita setelah purnama tahun baru
Purnama bersinar garang menelanjangi seluruh daratan di bawahnya sampai ke pucuk bunga-bunga yang teronggok layu di atas pekuburan, dan sisakan sejenis kilatan di atas nisan putih yang berdiri kaku sejak siang hari tadi.
Besok, ketika matahari kembali berkuasa, yang tersisa kemudian hanyalah bayang-bayang hitam yang tajam terbentang di tanah retak terbelah dan sesekali ditutupi debu yang beterbangan ganas
Seseorang bergegas di antara gedung-gedung ambruk, tutupi hidungnya ketika melewati mobil-mobil ringsek, tapi masih bisa mencium bau ban karet terbakar dan aroma sangit daging hangus terpanggang
Tiba-tiba dia tertegun, seakan mendengar kembali jerit gembira dari bocah-bocah yang biasa bermain di pojok jalan itu
Dia tertunduk sejenak setelah melihat berkeliling, tak ada anak-anak bermain, dan dia sadar baru terbawa arus kenangannya sendiri
Dan bahwa anak-anak itu sudah diantarkannya ke kuburan bersama rombongan yang besar, dan masing-masing anak mereka beri hadiah nisan putih yang mungil
Dan bahwa masih banyak orang yang ingin menggambar ulang peta bumi dan merevisi batas-batasnya, dengan cara apapun
Dan untuk itu, men-delete tawa riang bocah-bocah kecil bukanlah persoalan besar
11 Januari 2009
Besok, ketika matahari kembali berkuasa, yang tersisa kemudian hanyalah bayang-bayang hitam yang tajam terbentang di tanah retak terbelah dan sesekali ditutupi debu yang beterbangan ganas
Seseorang bergegas di antara gedung-gedung ambruk, tutupi hidungnya ketika melewati mobil-mobil ringsek, tapi masih bisa mencium bau ban karet terbakar dan aroma sangit daging hangus terpanggang
Tiba-tiba dia tertegun, seakan mendengar kembali jerit gembira dari bocah-bocah yang biasa bermain di pojok jalan itu
Dia tertunduk sejenak setelah melihat berkeliling, tak ada anak-anak bermain, dan dia sadar baru terbawa arus kenangannya sendiri
Dan bahwa anak-anak itu sudah diantarkannya ke kuburan bersama rombongan yang besar, dan masing-masing anak mereka beri hadiah nisan putih yang mungil
Dan bahwa masih banyak orang yang ingin menggambar ulang peta bumi dan merevisi batas-batasnya, dengan cara apapun
Dan untuk itu, men-delete tawa riang bocah-bocah kecil bukanlah persoalan besar
11 Januari 2009
Selasa, 21 Oktober 2008
PERNAH-171002008
Pernah kucintai dirimu, Perempuan,
walau tak kupahami arti cinta
Bahkan ketika benteng kaca di sekelilingmu kian tinggi dan tebal
Kaca itu kuat, tetapi getas (maka keruntuhannya pasti membawa luka)
Maka dari seberang sini, kukatakan saja
Pernah kucintai dirimu, Perempuan,
walau belum juga kupahami arti cinta
walau tak kupahami arti cinta
Bahkan ketika benteng kaca di sekelilingmu kian tinggi dan tebal
Kaca itu kuat, tetapi getas (maka keruntuhannya pasti membawa luka)
Maka dari seberang sini, kukatakan saja
Pernah kucintai dirimu, Perempuan,
walau belum juga kupahami arti cinta
09102008-akhirnya hujan turun
akhirnya hujan turun
sepanjang malam tadi, membonceng beberapa petir menggelegar
rumput-rumput kembali akan tumbuh di tanah
yang sering kutulisi namamu
kemarin sore, entah mengapa juga masih kulakukan hal yang sama
dan hujan itu pasti sudah menghapusnya
tapi diam-diam aku ragu…kian ragu
saat sebuah pertanyaan berkelebat saat kilat menyergap
benarkah hanya hujan itu saja yang melakukannya?
Lalu muncul-mengatasi deru hujan-bisikan
“bukan hanya hujan itu saja yang menghapusnya…bukan hanya hujan…”
maka diam-diam kudengarkan detak-detak jam di dinding, yang seperti selalu berahasia di antara detik-detiknya
sepanjang malam tadi, membonceng beberapa petir menggelegar
rumput-rumput kembali akan tumbuh di tanah
yang sering kutulisi namamu
kemarin sore, entah mengapa juga masih kulakukan hal yang sama
dan hujan itu pasti sudah menghapusnya
tapi diam-diam aku ragu…kian ragu
saat sebuah pertanyaan berkelebat saat kilat menyergap
benarkah hanya hujan itu saja yang melakukannya?
Lalu muncul-mengatasi deru hujan-bisikan
“bukan hanya hujan itu saja yang menghapusnya…bukan hanya hujan…”
maka diam-diam kudengarkan detak-detak jam di dinding, yang seperti selalu berahasia di antara detik-detiknya
DEFINISI SUNYI-06102008
Sunyi adalah…
Jeda panjang yang tercipta setelah lagu sumbang mengalun dari kerongkongan seorang bocah pengamen di simpang jalan, dan selanjutnya hanya malam hitam-bukan uang receh-yang meluncur pasti ke dalam wadah plastik kosong di tangannya…
Jeda panjang yang tercipta setelah lagu sumbang mengalun dari kerongkongan seorang bocah pengamen di simpang jalan, dan selanjutnya hanya malam hitam-bukan uang receh-yang meluncur pasti ke dalam wadah plastik kosong di tangannya…
Lagu Sebelum Hujan-01102008
Sudah ujung kemarau
Dan sore masih terlalu kering
Kelat merayapi pangkal lidah
Perlahan kukemas barang-barangku
Persiapan lanjut, mencari arti yang tersembunyi
antara serbuk malam terapung atap-atap rumah
antara lapis angin salutkan debu
pada dedaunan sepanjang jalan gersang
pada pucuk-pucuk rumput meranggas coklat
setelah ribuan pertemuan
aku ingin pergi
karena mimpi
tahu tak pasti
“aku datang untuk pamit hari ini
Perempuan…”
Tapi untuk kali terakhir
Sebelum benih-benih hujan tumbuh
Aku hendak bertanya
“bagaimana mengeja namamu?”
Dan sore masih terlalu kering
Kelat merayapi pangkal lidah
Perlahan kukemas barang-barangku
Persiapan lanjut, mencari arti yang tersembunyi
antara serbuk malam terapung atap-atap rumah
antara lapis angin salutkan debu
pada dedaunan sepanjang jalan gersang
pada pucuk-pucuk rumput meranggas coklat
setelah ribuan pertemuan
aku ingin pergi
karena mimpi
tahu tak pasti
“aku datang untuk pamit hari ini
Perempuan…”
Tapi untuk kali terakhir
Sebelum benih-benih hujan tumbuh
Aku hendak bertanya
“bagaimana mengeja namamu?”
PURNAMA
---------------20-21 Juli 2008
purnama
aku akan mati, kataku
dan tak seorang pun akan mengingat namaku***
(setiap satu bulan, purnama hadir mengitari bumi
dengan mata bundar-kue serabinya
penasaran mencari mata-mata lapar yang dulu sering memandanginya)
kata yang berkerisik ngilu di antara bilah ilalang
yang ikut mengalir di dalam pembuluhku
tertahan
sampai pecah akhirnya
membuih melewati malam-malam
tersaji dalam sepiring waktu
setelah sekian lama menunggu, sekarat kini
terpampang di depanku burung-burung bangkai
menari di luasan angkasa
berpatokan pada laporan akhir
siapa yang bakal dijemput maut hari ini
purnama
jangan bertanya lagi di mana akhirnya
atau di bagian mana kau akan abadi
setelah kematianku kau bakal mendapat kesempatan untuk menyimpulkan ini semua
sebab bagian penutup akan kukosongkan untukmu
********
sejak ayam belum berkokok, penyair itu sudah sibuk mendandani kata, memblow rambutnya, mencoba sanggul, memberi eye shadow dan lipstick, mengoleskan alas bedak, lalu bedak, sampai menor, seperti banci kaleng di simpang jalan solo. Tapi selalu saja dirasanya ada yang kurang, entah di mana dia tak tahu pasti
hei penyair amatir, mau bertandang ke negeri imajinasi saja kok ribet amat. Payah lu!
***variasi dari NESSUN DORMA-nya PUCCINI- dilagukan PAVAROTTI dkk
purnama
aku akan mati, kataku
dan tak seorang pun akan mengingat namaku***
(setiap satu bulan, purnama hadir mengitari bumi
dengan mata bundar-kue serabinya
penasaran mencari mata-mata lapar yang dulu sering memandanginya)
kata yang berkerisik ngilu di antara bilah ilalang
yang ikut mengalir di dalam pembuluhku
tertahan
sampai pecah akhirnya
membuih melewati malam-malam
tersaji dalam sepiring waktu
setelah sekian lama menunggu, sekarat kini
terpampang di depanku burung-burung bangkai
menari di luasan angkasa
berpatokan pada laporan akhir
siapa yang bakal dijemput maut hari ini
purnama
jangan bertanya lagi di mana akhirnya
atau di bagian mana kau akan abadi
setelah kematianku kau bakal mendapat kesempatan untuk menyimpulkan ini semua
sebab bagian penutup akan kukosongkan untukmu
********
sejak ayam belum berkokok, penyair itu sudah sibuk mendandani kata, memblow rambutnya, mencoba sanggul, memberi eye shadow dan lipstick, mengoleskan alas bedak, lalu bedak, sampai menor, seperti banci kaleng di simpang jalan solo. Tapi selalu saja dirasanya ada yang kurang, entah di mana dia tak tahu pasti
hei penyair amatir, mau bertandang ke negeri imajinasi saja kok ribet amat. Payah lu!
***variasi dari NESSUN DORMA-nya PUCCINI- dilagukan PAVAROTTI dkk
MIE REBUS DAN KOPI-Agustus 2008
(Setelah menyingkap beberapa tabir gerimis, akhirnya kutemukan juga kau sedang berjongkok di depan tungku. Menghalau asap untuk hadirkan api. Pastinya enak sekali, makan mi rebus sambil menyeduh kopi, dingin-dingin begini. Pikirku, mulai merancang-rancang)
“Nebeng yah…”
(aku, berharap seperti biasa kau akan bersedia memasak untukku)
“Boleh” katamu pelan.
(Namun, sekian lama api berkobar, panci berisi air tak juga kau jerang)
“kayaknya kayunya hampir habis tuh…”
(aku tak sabar lagi ingin menikmati mi rebus dan kopi)
“Biarin”
“dingin-dingin makan mi rebus enak lho…”
(aku mencoba-coba memancing)
“Bukankah kau bisa lihat aku sedang memasak”
(aha…walaupun retoris, sebuah kalimat panjang dalam percakapan yang tadinya dingin adalah sebangun dengan sebuah pintu berkarat, yang setelah terbuka akan sulit ditutup lagi)
Iya sih, tapi kayaknya tinggal menjerang air saja yang masih kurang” kataku. “kubantu yah?”
(beberapa ular penggoda mulai melata mencari posisi untuk memulai penaklukan)
“bentar lagi matang, kok. Tunggu aja”
(balasanmu sungguh datar, sepertinya mantra-mantraku kurang manjur kali ini.)
(aihhh…percakapan ini kian absurd saja. Tapi, mau tidak mau, alur yang satu ini harus kuikuti dulu. Berdasarkan Teori Perang Sun Tzu, lawan dan cuaca, selain medan tempur dan diri sendiri, adalah dua faktor menentukan jika ingin memenangkan pertempuran.)
“oh…gitu ya? Ya udah, gini aja deh, ntar kalau matang bagi aku ya…tapi ngomong-ngomong kamu lagi masak apa sih?
“Batang-batang puisi…”
“macam betul aja. Puisi mana bisa dimakan?” kataku lemas,
(bayangan mi rebus dan kopi panas sudah menguap bersama asap yang ditelan senja.)
“Bisa. Dengan catatan mimpi-mimpimu juga bisa kauubah jadi uang…” simpulmu, perlahan, tapi tajam dan efektif seperti siletan pencopet di kereta ekonomi malam.
(saudara-saudara, kalau anda sekalian pernah membaca dongeng-dongeng di masa kecil seperti kisah kancil dan serigala, maka saat ini aku sedang menjadi serigala yang terjebak kedinginan di suatu lubang yang diterpa hujan. Menggigil dan kelaparan, sementara sang kancil enak-enak bernyanyi di di atas sana, di suatu tempat teduh yang hangat. Tadinya sang serigala berniat menangkap si kancil, tapi terperdaya sampai terperosok ke lubang. Serigala yang gengsi, akhirnya melipat tangan dan pura-pura berpantang makan, tak menghraukan kancil yang sedari tadi bernyanyi mengejeknya. Kancil penasaran saat melihat serigala duduk tenang di dalam lubang di bawah hujan. Nyanyiannya terhenti. “Wahai saudaraku dari bangsa serigala yang saleh, sungguh mengharukan melihatmu dalam posisi hikmat begini. Tapi maaf, bukan maksudku mengganggu ibadahmu. Mengapa ada bunyi-bunyian aneh dari perutmu?” Serigala, yang tetap tak mau kehilangan muka, menjawab “Ah. Saudaraku. Itu adalah doa syukur dari perutku kepada Sang Pencipta atas hujan ini….
“Nebeng yah…”
(aku, berharap seperti biasa kau akan bersedia memasak untukku)
“Boleh” katamu pelan.
(Namun, sekian lama api berkobar, panci berisi air tak juga kau jerang)
“kayaknya kayunya hampir habis tuh…”
(aku tak sabar lagi ingin menikmati mi rebus dan kopi)
“Biarin”
“dingin-dingin makan mi rebus enak lho…”
(aku mencoba-coba memancing)
“Bukankah kau bisa lihat aku sedang memasak”
(aha…walaupun retoris, sebuah kalimat panjang dalam percakapan yang tadinya dingin adalah sebangun dengan sebuah pintu berkarat, yang setelah terbuka akan sulit ditutup lagi)
Iya sih, tapi kayaknya tinggal menjerang air saja yang masih kurang” kataku. “kubantu yah?”
(beberapa ular penggoda mulai melata mencari posisi untuk memulai penaklukan)
“bentar lagi matang, kok. Tunggu aja”
(balasanmu sungguh datar, sepertinya mantra-mantraku kurang manjur kali ini.)
(aihhh…percakapan ini kian absurd saja. Tapi, mau tidak mau, alur yang satu ini harus kuikuti dulu. Berdasarkan Teori Perang Sun Tzu, lawan dan cuaca, selain medan tempur dan diri sendiri, adalah dua faktor menentukan jika ingin memenangkan pertempuran.)
“oh…gitu ya? Ya udah, gini aja deh, ntar kalau matang bagi aku ya…tapi ngomong-ngomong kamu lagi masak apa sih?
“Batang-batang puisi…”
“macam betul aja. Puisi mana bisa dimakan?” kataku lemas,
(bayangan mi rebus dan kopi panas sudah menguap bersama asap yang ditelan senja.)
“Bisa. Dengan catatan mimpi-mimpimu juga bisa kauubah jadi uang…” simpulmu, perlahan, tapi tajam dan efektif seperti siletan pencopet di kereta ekonomi malam.
(saudara-saudara, kalau anda sekalian pernah membaca dongeng-dongeng di masa kecil seperti kisah kancil dan serigala, maka saat ini aku sedang menjadi serigala yang terjebak kedinginan di suatu lubang yang diterpa hujan. Menggigil dan kelaparan, sementara sang kancil enak-enak bernyanyi di di atas sana, di suatu tempat teduh yang hangat. Tadinya sang serigala berniat menangkap si kancil, tapi terperdaya sampai terperosok ke lubang. Serigala yang gengsi, akhirnya melipat tangan dan pura-pura berpantang makan, tak menghraukan kancil yang sedari tadi bernyanyi mengejeknya. Kancil penasaran saat melihat serigala duduk tenang di dalam lubang di bawah hujan. Nyanyiannya terhenti. “Wahai saudaraku dari bangsa serigala yang saleh, sungguh mengharukan melihatmu dalam posisi hikmat begini. Tapi maaf, bukan maksudku mengganggu ibadahmu. Mengapa ada bunyi-bunyian aneh dari perutmu?” Serigala, yang tetap tak mau kehilangan muka, menjawab “Ah. Saudaraku. Itu adalah doa syukur dari perutku kepada Sang Pencipta atas hujan ini….
SUARA DI MALAM BUTA-JULI-OKTOBER 2008
MENIRU JOKPIN:
Kentutku meraung-raung histeris di belantara malam
Astaga!!! Setiap aku kelaparan, mengapa bunyi-bunyian itu selalu hadir, mengalun?
Mengapa selalu ada saja proklamasi ke seluruh dunia?
Oh…malam yang sungguh rimba bin liar
Bisakah kita bersekongkol sejenak dalam permufakatan jahat yang mini saja?
Untuk menganggap nada-nada sumbang itu cikal bakal dari sebuah symphony indah, atau rhapsody yang megah?
Kentutku meraung-raung histeris di belantara malam
Astaga!!! Setiap aku kelaparan, mengapa bunyi-bunyian itu selalu hadir, mengalun?
Mengapa selalu ada saja proklamasi ke seluruh dunia?
Oh…malam yang sungguh rimba bin liar
Bisakah kita bersekongkol sejenak dalam permufakatan jahat yang mini saja?
Untuk menganggap nada-nada sumbang itu cikal bakal dari sebuah symphony indah, atau rhapsody yang megah?
Cahaya-18 Juli 2008
Manusia menuntut Tuhan untuk memberikan cahaya
Petisi disusun
Spanduk dipasang
Pamflet disebar
Agitasi dan propaganda dikobarkan
BELUM CUKUP!
Massa dikerahkan
Revolusi dirancang
LEBIH GILA LAGI!!
Hutan-hutan ditebang
Segala laut diracuni
Virus mematikan dibiakkan
Senjata biologis dikembangkan
Bom nuklir dilahirkan
TUJUANNYA SATU:
Apabila cahaya tidak diberikan
Bumi akan dihancurkan
PESANNYA SATU:
Dalam waktu sekian detik saja, manusia mampu hancurkan
semua yang indah yang Tuhan berikan
Tuhan yang sabar, dalam Kemahakuasaan-Nya yang begitu perkasa
tidak menghukum manusia yang pongah itu
Padahal kalau mau…
Diberinya cahaya yang lembut dalam hangatnya fajar, yang menyegarkan pagi, membuat tanaman menggeliat, dan burung-burung bernyanyi..
Lalu, bagaimana kelanjutan kisah dari manusia-manusia pongah tadi
Di bawah cahaya mereka menemukan bayangannya masing-masing, panjang dan legam
Dan terbirit-birit lari ke liang-liang hitam, dan dari dalam kegelapan itu masih saja memaki-maki.
ENTAH APA MAUNYA…!?!?!?
(versi panjang dari konsep: manusia-manusia pongah menuntut kepada Tuhan dengan segala cara untuk memberikan cahaya-setelah cahaya diberi, mereka menemukan bayangannya dan malah lari terbirit-birit ke liang-liang hitam. Entah apa maunya…!?!?!?!. Cahaya: kebebasan-pengetahuan, dst. )
Petisi disusun
Spanduk dipasang
Pamflet disebar
Agitasi dan propaganda dikobarkan
BELUM CUKUP!
Massa dikerahkan
Revolusi dirancang
LEBIH GILA LAGI!!
Hutan-hutan ditebang
Segala laut diracuni
Virus mematikan dibiakkan
Senjata biologis dikembangkan
Bom nuklir dilahirkan
TUJUANNYA SATU:
Apabila cahaya tidak diberikan
Bumi akan dihancurkan
PESANNYA SATU:
Dalam waktu sekian detik saja, manusia mampu hancurkan
semua yang indah yang Tuhan berikan
Tuhan yang sabar, dalam Kemahakuasaan-Nya yang begitu perkasa
tidak menghukum manusia yang pongah itu
Padahal kalau mau…
Diberinya cahaya yang lembut dalam hangatnya fajar, yang menyegarkan pagi, membuat tanaman menggeliat, dan burung-burung bernyanyi..
Lalu, bagaimana kelanjutan kisah dari manusia-manusia pongah tadi
Di bawah cahaya mereka menemukan bayangannya masing-masing, panjang dan legam
Dan terbirit-birit lari ke liang-liang hitam, dan dari dalam kegelapan itu masih saja memaki-maki.
ENTAH APA MAUNYA…!?!?!?
(versi panjang dari konsep: manusia-manusia pongah menuntut kepada Tuhan dengan segala cara untuk memberikan cahaya-setelah cahaya diberi, mereka menemukan bayangannya dan malah lari terbirit-birit ke liang-liang hitam. Entah apa maunya…!?!?!?!. Cahaya: kebebasan-pengetahuan, dst. )
LAGUMU KENANGAN, IBU-
Kenanganmu, Ibu
Tikar pandan dari masa kanak-kanak tiga bocah laki-laki
Angin dan kentut ikut menyelinap di rongga-rongganya
Nyamuk mencari darah dari donor
Kaki-kaki mungil yang tak juga tuntas ditutupinya rapat-rapat
Kenanganmu, Ibu
Batuk bapak yang menggema bahkan dari panci dan periuk
Asap rokok yang lebih kemenyan dari dupa di kuburan
mengepul di seluruh ruang
Juga mata merahnya itu, saban habis kalah berjudi
Aku tak juga paham, Ibu
Mana yang lebih pemalu, ragu atau waktu
Saat kau bersenandung lagu itu, selalu
Ketika berjongkok di depan tungku, subuh-subuh
Juga mencabuti ubanmu yang hadir satu-satu
Atau saat tikar pandan tua itu berpindah ke halaman belakang
Menjadi hak milik kepik dan tungau, jamur dan cendawan
dan anak-anak itu tak lagi menghitung bintang
dari robeknya yang terus menganga
juga berebut kerak-kerak mimpi di dasar periuk
Aku lebih tak tahu, Ibu
Mana yang lebih menyakitkanmu
Apakah saat anak-anak itu tak hafal lagi jalan pulang menuju rumah
Atau saat lelaki itu ambruk
dan seorang perempuan berambut legam ikut mendaki
ke bukit kapur tempatnya berkubur
Yang kutahu, Ibu
Sesekali kau masih menyisir rambut putihmu yang tipis
kau masih setia membakar kayu jadi abu
Dan kau juga masih terus mencabuti rumput di bukit kapur itu
Aku masih ingin bertanya, Ibu
Sebenarnya masih adakah yang tak dirampas waktu darimu
Seperti biasa, kau malah nyanyikan kembali lagu yang itu
Yang tak juga kutahu judulnya
Yogyakarta, Juni-Juli 2008
Tikar pandan dari masa kanak-kanak tiga bocah laki-laki
Angin dan kentut ikut menyelinap di rongga-rongganya
Nyamuk mencari darah dari donor
Kaki-kaki mungil yang tak juga tuntas ditutupinya rapat-rapat
Kenanganmu, Ibu
Batuk bapak yang menggema bahkan dari panci dan periuk
Asap rokok yang lebih kemenyan dari dupa di kuburan
mengepul di seluruh ruang
Juga mata merahnya itu, saban habis kalah berjudi
Aku tak juga paham, Ibu
Mana yang lebih pemalu, ragu atau waktu
Saat kau bersenandung lagu itu, selalu
Ketika berjongkok di depan tungku, subuh-subuh
Juga mencabuti ubanmu yang hadir satu-satu
Atau saat tikar pandan tua itu berpindah ke halaman belakang
Menjadi hak milik kepik dan tungau, jamur dan cendawan
dan anak-anak itu tak lagi menghitung bintang
dari robeknya yang terus menganga
juga berebut kerak-kerak mimpi di dasar periuk
Aku lebih tak tahu, Ibu
Mana yang lebih menyakitkanmu
Apakah saat anak-anak itu tak hafal lagi jalan pulang menuju rumah
Atau saat lelaki itu ambruk
dan seorang perempuan berambut legam ikut mendaki
ke bukit kapur tempatnya berkubur
Yang kutahu, Ibu
Sesekali kau masih menyisir rambut putihmu yang tipis
kau masih setia membakar kayu jadi abu
Dan kau juga masih terus mencabuti rumput di bukit kapur itu
Aku masih ingin bertanya, Ibu
Sebenarnya masih adakah yang tak dirampas waktu darimu
Seperti biasa, kau malah nyanyikan kembali lagu yang itu
Yang tak juga kutahu judulnya
Yogyakarta, Juni-Juli 2008
Kamis, 09 Oktober 2008
KISAH LELAKI TUA-MEI 2008
1. di depan meja penuh hidangan
lelaki tua itu
memakai gigi palsunya
2. mencoba mengingat kembali
bintang-bintang di langit, perahu, jala
ikan-ikan hiu, malam-malam panjang,
juga asin lautan yang masih terkecap di darahnya
3. lalu matador yang mendengus dan banteng-banteng kelelahan
bertarung di bawah matahari yang selalu terbit
juga sorak-sorai penonton pada petinju yang gemetar di atas ring
4. sayup terdengar dalam derai hujan
gelegak cinta dari masa muda
masih mungkinkah kembali hujan dan bergerak menghilir?
5. sekali ini, dia benar-benar ingin sendiri
menyatu dengan adonan malam yang sedang mendingin
untuk pamerkan hasilnya
yang beku tercetak besok pagi
mungkin
6. tapi, ia masih terganggu oleh noraknya kenangan
apakah ia menyesal
tak meninggalkannya dulu di padang perburuan yang kerontang
di antara singa-singa yang menguap
dan membiarkan alam mewarnainya sampai pudar
7. tiba-tiba ia teringat peperangan
ambulans dan prajurit berdarah, kota terbakar dan jembatan rusak
lalu ia teringat peluru
-Yogyakarta, Mei 2008
lelaki tua itu
memakai gigi palsunya
2. mencoba mengingat kembali
bintang-bintang di langit, perahu, jala
ikan-ikan hiu, malam-malam panjang,
juga asin lautan yang masih terkecap di darahnya
3. lalu matador yang mendengus dan banteng-banteng kelelahan
bertarung di bawah matahari yang selalu terbit
juga sorak-sorai penonton pada petinju yang gemetar di atas ring
4. sayup terdengar dalam derai hujan
gelegak cinta dari masa muda
masih mungkinkah kembali hujan dan bergerak menghilir?
5. sekali ini, dia benar-benar ingin sendiri
menyatu dengan adonan malam yang sedang mendingin
untuk pamerkan hasilnya
yang beku tercetak besok pagi
mungkin
6. tapi, ia masih terganggu oleh noraknya kenangan
apakah ia menyesal
tak meninggalkannya dulu di padang perburuan yang kerontang
di antara singa-singa yang menguap
dan membiarkan alam mewarnainya sampai pudar
7. tiba-tiba ia teringat peperangan
ambulans dan prajurit berdarah, kota terbakar dan jembatan rusak
lalu ia teringat peluru
-Yogyakarta, Mei 2008
Rabu, 03 September 2008
parningotan
dilaksanakan oleh yang masih hidup
bagi mereka yang sudah berangkat
sebab hidup adalah perayaan
dan mati menjadi upacara penutup
bagi mereka yang sudah berangkat
sebab hidup adalah perayaan
dan mati menjadi upacara penutup
Kamis, 24 Juli 2008
ketika kematian menyapa
seorang lelaki yang berangkat diam-diam dalam keheningan pagi
Akhirnya semua akan tiba pada hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui...
(kutipan dari salah satu puisi Soe Hok Gie)
Selamat Jalan, UDA, kiranya Pencipta menerimamu dalam naungan kasih-Nya, semoga dalam 2 minggu ketidakberdayaanmu kau sudah temukan cahaya itu-yang menuntunmu berdamai dengan dirimu sendiri-berdamai dengan dunia- dan membuatmu berserah untuk kembali kepada-Nya....
Yogyakarta-25 Juli 2008-03.48 WIB.
Akhirnya semua akan tiba pada hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui...
(kutipan dari salah satu puisi Soe Hok Gie)
Selamat Jalan, UDA, kiranya Pencipta menerimamu dalam naungan kasih-Nya, semoga dalam 2 minggu ketidakberdayaanmu kau sudah temukan cahaya itu-yang menuntunmu berdamai dengan dirimu sendiri-berdamai dengan dunia- dan membuatmu berserah untuk kembali kepada-Nya....
Yogyakarta-25 Juli 2008-03.48 WIB.
Selasa, 15 Juli 2008
Lagu Ragu Seorang Pelaut-16 Juli 2008
Beberapa orang kutemui menjangkar di simpang kota
untuk bertahan hidup orang harus makan, untuk bisa makan orang harus bekerja, untuk mendapatkan pekerjaan orang harus antre, begitu kata mereka berulang-ulang...
berulang-ulang, seperti mantra penuntas kemarau
berisik, melebihi camar laut berebut ikan kecil
saat itu masih siang, kota kian megap saja ditenggelamkan matahari
di tempat yang dulunya berdiri mercu suar, menancap gedung-gedung
angkuh melebihi tiang-tiang kapal di tengah samudra
bukan akibat dibantai gelombang, tapi selalu saja aku tak sabar
tuk segera merapat di dermaga,
tambatkan tali dan memeluk daratan
lalu berjalan menelisik simpang
melihat debur laut di wajah orang-orang
tapi entah mengapa, kalau sudah begini, aku selalu ingin muntah
untuk kesekian kalinya aku tak juga bisa menjawab, apa yang kucari di sini...
bukankah sebagai pelaut, pelabuhan hanya persinggahan?
atau memang sudah saatnya aku karam?
untuk bertahan hidup orang harus makan, untuk bisa makan orang harus bekerja, untuk mendapatkan pekerjaan orang harus antre, begitu kata mereka berulang-ulang...
berulang-ulang, seperti mantra penuntas kemarau
berisik, melebihi camar laut berebut ikan kecil
saat itu masih siang, kota kian megap saja ditenggelamkan matahari
di tempat yang dulunya berdiri mercu suar, menancap gedung-gedung
angkuh melebihi tiang-tiang kapal di tengah samudra
bukan akibat dibantai gelombang, tapi selalu saja aku tak sabar
tuk segera merapat di dermaga,
tambatkan tali dan memeluk daratan
lalu berjalan menelisik simpang
melihat debur laut di wajah orang-orang
tapi entah mengapa, kalau sudah begini, aku selalu ingin muntah
untuk kesekian kalinya aku tak juga bisa menjawab, apa yang kucari di sini...
bukankah sebagai pelaut, pelabuhan hanya persinggahan?
atau memang sudah saatnya aku karam?
Sabtu, 12 Juli 2008
Kota, Senja, dan Kesunyian
Mungkin kota ini masih tetap ramah
sebab aku belum juga kehilangan arah
padahal jalan-jalan sudah berubah
barpun hanya senja yang itu-itu saja,
yang kembali harus kupungut ketika sore tiba
berkilau muram seperti emas sepuhan
Benarkah yang terpampang di depanku ini
kesunyian dari jenis yang lain
yang selama ini tak pernah bisa kita temukan di etalase
puluhan supermarket pongah yang mengklaim dirinya
menjual barang-barang terlengkap di kota
kemarin dulu sebuah film diputar di bentara
lalu kemarin cerita adaptasinya dipentaskan di taman budaya
dan kembali aku ingin bertanya
naskahmukah itu?
(padahal namamu sudah jelas-jelas dibentang merah di tiap spanduk)
Sebuah kota, sepotong senja, dan sepenggal kesunyian
yang diramu menjadi kisah yang tak terlampau pedih seperti sengatan tawon
juga belum cukup basi untuk manusia-manusia yang tak bisa hidup tanpa kehangatan
tapi aku juga kian ragu, adakah kita pernah bertemu?
Sebab sedikitpun tak kutemukan kehadiranku dalam kisahmu
Atau dirimukah itu, yang kucintai waktu itu?
Bahkan dalam fiksi, sebegitu cepat kau lupa
Sedang kloset saja masih sisakan aroma dari benda-benda yang melewatinya
Ingin kutitipkan tanyaku padamu, lewat burung-burung yang pulang ke sarang
Benarkah kota hadir untuk mengekalkan kenangan, dan simpang-simpangnya menjajakan ingatan yang bisa dibawa berkencan sampai pagi?
Atau prasasti yang abadikan masa lalu, yang guratkan kisah-kisah di lorong-lorongnya, dan tak berkarat dilekati embun kenyataan?
Tapi sungguh tak pantas memberati kepak mereka yang sudah kelelahan
Maka disinilah aku, meresapi kota yang belum lupa, senja yang perlahan pudar, dan kesepian yang tidak diobral
Sebab kata mereka kau sudah jadi kepunyaan malam
Sebab kunjunganku dibatasi sampai senja
Yogyakarta-JULI 2008-
Jumat, 20 Juni 2008
Pagi Seorang Gembala Itik-21062008
hari ini kutemukan sebungkal sepi dari jenis yang tak biasa
teronggok di simpang jalan
ingin kuceritakan padamu, aku tak tahu cara membungkusnya
(supaya lebih apik tentu saja)
lagipula, kisahmu selalu saja lebih dahsyat
seperti kemarin "Bebek-bebek selalu tersenyum!" katamu
entah apa artinya, aku tak paham
maka pagi ini kupandangi saja sepi itu
sambil menunggui gerombolan bebek yang sibuk menyeberang jalan
berceloteh ramai ucapkan selamat pagi
pada dunia,
pada matahari yang cerah,
pada partner bercintanya tadi malam
bentuk paruhnyakah yang membuatnya terlihat demikian?
Atau kenaifannya pulang dengan riang
setelah puas berenang sore-sore
Untuk kemudian kusajikan panas-panas
Malam-malam di atas mejamu?
teronggok di simpang jalan
ingin kuceritakan padamu, aku tak tahu cara membungkusnya
(supaya lebih apik tentu saja)
lagipula, kisahmu selalu saja lebih dahsyat
seperti kemarin "Bebek-bebek selalu tersenyum!" katamu
entah apa artinya, aku tak paham
maka pagi ini kupandangi saja sepi itu
sambil menunggui gerombolan bebek yang sibuk menyeberang jalan
berceloteh ramai ucapkan selamat pagi
pada dunia,
pada matahari yang cerah,
pada partner bercintanya tadi malam
bentuk paruhnyakah yang membuatnya terlihat demikian?
Atau kenaifannya pulang dengan riang
setelah puas berenang sore-sore
Untuk kemudian kusajikan panas-panas
Malam-malam di atas mejamu?
Rabu, 28 Mei 2008
TAK PERNAH- 29 APRIL - 01 MEI 2008
Aku sedang membaca saat kau datang dan berkata “Aku tak bisa tidur kalau masih ada cahaya” dan sesudahnya mematikan lampu
Untuk kesekian kalinya ini terjadi dan aku sudah malas menyalakan lampu hanya untuk kaumatikan lagi
Maka kemudian kututup buku itu dan mencoba memfokuskan pandang dalam gelap saat kau mulai terlelap
Di luar sedang purnama, dan perlahan sinarnya menembus atap dan menari pelan di wajahmu
Tapi kau tetap tertidur dan wajah damaimu menjadi bayi dalam pelukan ibunya
Tapi, memang ada tanda-tanda yang membuatku sadar, kita sudah bertambah tua
Kau sudah terbiasa tidur lebih cepat dan mematikan lampu
Aku sudah terbiasa menulis cepat dan kehabisan ide di tengah jalan
Padahal dulu, kita terbiasa bicara sampai jauh malam, berdiskusi tentang rencana sekolah anak-anak, asuransi dan kredit rumah mana yang paling tepat buat kita, serta anjing jenis apa yang sebaiknya kita pelihara. Kita bahkan pernah mencaritahu berapa harga kapling tanah di satu pekuburan elit, walau hanya sekilas
Akhir-akhir ini, kita pun sudah jarang berbicara (padahal kita mengaku masih saling cinta)
Aneh bukan, padahal orang-orang masih terus membuat lagu, puisi, dan film tentang cinta
Bunga-bunga dan rerumputan masih tumbuh dan mekar setiap hari
Pelangi masih sering terlihat sehabis hujan dan matahari belum pernah alpa terbit
Tak bisa kupungkiri, memang akhir-akhir ini aku ingin sekali mendengarkan suaramu
Sebab aku belum memberitahumu satu rahasia, bahwa persahabatanku dengan bunyi sudah memudar dan mungkin akan hilang
Menurutku, telingaku sudah rusak, padahal dokter spesialis THT langgananku mengatakan dengan yakin “Secara medis tidak ada masalah”
Karena itu, mumpung belum rusak betulan, aku akan mendengarkan sebaik-baiknya dan merekam kesan dalam ingatanku, berulang-ulang sampai tidak mungkin hilang lagi
Seperti kebiasaanku mendengarkan ketukan hujan di atap dan setelahnya menyanyikannya di kamar mandi
Kisah kita memang bukan jenis dongeng di masa kecil, yang biasa dimulai dengan kata-kata “Pada suatu hari…”, atau “Konon kabarnya…”. Juga tidak berawal dalam perjalanan dengan gondola di sungai yang tenang sambil mendengarkan lagu cinta dalam nada tenor di bawah siraman purnama. Mungkin juga belum bisa dibandingkan dengan benih yang dipendam di tanah lembab yang tipis pada sore hari dan entah bagaimana sudah memperlihatkan tunas lembut kehijauan keesokan paginya. Aku jelas tak tahu berawal di mana, tapi kelanjutannya kita sudah sampai di sini, dan diam-diam masih kubayangkan bagaimana semua ini akan berakhir.
Tak pernah benar-benar kutakutkan kebisuanmu, seperti saat ini
Untuk kesekian kalinya ini terjadi dan aku sudah malas menyalakan lampu hanya untuk kaumatikan lagi
Maka kemudian kututup buku itu dan mencoba memfokuskan pandang dalam gelap saat kau mulai terlelap
Di luar sedang purnama, dan perlahan sinarnya menembus atap dan menari pelan di wajahmu
Tapi kau tetap tertidur dan wajah damaimu menjadi bayi dalam pelukan ibunya
Tapi, memang ada tanda-tanda yang membuatku sadar, kita sudah bertambah tua
Kau sudah terbiasa tidur lebih cepat dan mematikan lampu
Aku sudah terbiasa menulis cepat dan kehabisan ide di tengah jalan
Padahal dulu, kita terbiasa bicara sampai jauh malam, berdiskusi tentang rencana sekolah anak-anak, asuransi dan kredit rumah mana yang paling tepat buat kita, serta anjing jenis apa yang sebaiknya kita pelihara. Kita bahkan pernah mencaritahu berapa harga kapling tanah di satu pekuburan elit, walau hanya sekilas
Akhir-akhir ini, kita pun sudah jarang berbicara (padahal kita mengaku masih saling cinta)
Aneh bukan, padahal orang-orang masih terus membuat lagu, puisi, dan film tentang cinta
Bunga-bunga dan rerumputan masih tumbuh dan mekar setiap hari
Pelangi masih sering terlihat sehabis hujan dan matahari belum pernah alpa terbit
Tak bisa kupungkiri, memang akhir-akhir ini aku ingin sekali mendengarkan suaramu
Sebab aku belum memberitahumu satu rahasia, bahwa persahabatanku dengan bunyi sudah memudar dan mungkin akan hilang
Menurutku, telingaku sudah rusak, padahal dokter spesialis THT langgananku mengatakan dengan yakin “Secara medis tidak ada masalah”
Karena itu, mumpung belum rusak betulan, aku akan mendengarkan sebaik-baiknya dan merekam kesan dalam ingatanku, berulang-ulang sampai tidak mungkin hilang lagi
Seperti kebiasaanku mendengarkan ketukan hujan di atap dan setelahnya menyanyikannya di kamar mandi
Kisah kita memang bukan jenis dongeng di masa kecil, yang biasa dimulai dengan kata-kata “Pada suatu hari…”, atau “Konon kabarnya…”. Juga tidak berawal dalam perjalanan dengan gondola di sungai yang tenang sambil mendengarkan lagu cinta dalam nada tenor di bawah siraman purnama. Mungkin juga belum bisa dibandingkan dengan benih yang dipendam di tanah lembab yang tipis pada sore hari dan entah bagaimana sudah memperlihatkan tunas lembut kehijauan keesokan paginya. Aku jelas tak tahu berawal di mana, tapi kelanjutannya kita sudah sampai di sini, dan diam-diam masih kubayangkan bagaimana semua ini akan berakhir.
Tak pernah benar-benar kutakutkan kebisuanmu, seperti saat ini
Langganan:
Postingan (Atom)