Selasa, 21 Oktober 2008

LAGUMU KENANGAN, IBU-

Kenanganmu, Ibu
Tikar pandan dari masa kanak-kanak tiga bocah laki-laki
Angin dan kentut ikut menyelinap di rongga-rongganya
Nyamuk mencari darah dari donor
Kaki-kaki mungil yang tak juga tuntas ditutupinya rapat-rapat

Kenanganmu, Ibu
Batuk bapak yang menggema bahkan dari panci dan periuk
Asap rokok yang lebih kemenyan dari dupa di kuburan
mengepul di seluruh ruang
Juga mata merahnya itu, saban habis kalah berjudi

Aku tak juga paham, Ibu
Mana yang lebih pemalu, ragu atau waktu
Saat kau bersenandung lagu itu, selalu
Ketika berjongkok di depan tungku, subuh-subuh
Juga mencabuti ubanmu yang hadir satu-satu
Atau saat tikar pandan tua itu berpindah ke halaman belakang
Menjadi hak milik kepik dan tungau, jamur dan cendawan
dan anak-anak itu tak lagi menghitung bintang
dari robeknya yang terus menganga
juga berebut kerak-kerak mimpi di dasar periuk

Aku lebih tak tahu, Ibu
Mana yang lebih menyakitkanmu
Apakah saat anak-anak itu tak hafal lagi jalan pulang menuju rumah
Atau saat lelaki itu ambruk
dan seorang perempuan berambut legam ikut mendaki
ke bukit kapur tempatnya berkubur

Yang kutahu, Ibu
Sesekali kau masih menyisir rambut putihmu yang tipis
kau masih setia membakar kayu jadi abu
Dan kau juga masih terus mencabuti rumput di bukit kapur itu

Aku masih ingin bertanya, Ibu
Sebenarnya masih adakah yang tak dirampas waktu darimu
Seperti biasa, kau malah nyanyikan kembali lagu yang itu
Yang tak juga kutahu judulnya
Yogyakarta, Juni-Juli 2008

Tidak ada komentar: