Selasa, 21 Oktober 2008

MIE REBUS DAN KOPI-Agustus 2008

(Setelah menyingkap beberapa tabir gerimis, akhirnya kutemukan juga kau sedang berjongkok di depan tungku. Menghalau asap untuk hadirkan api. Pastinya enak sekali, makan mi rebus sambil menyeduh kopi, dingin-dingin begini. Pikirku, mulai merancang-rancang)
“Nebeng yah…”
(aku, berharap seperti biasa kau akan bersedia memasak untukku)
“Boleh” katamu pelan.

(Namun, sekian lama api berkobar, panci berisi air tak juga kau jerang)
“kayaknya kayunya hampir habis tuh…”
(aku tak sabar lagi ingin menikmati mi rebus dan kopi)
“Biarin”
“dingin-dingin makan mi rebus enak lho…”
(aku mencoba-coba memancing)
“Bukankah kau bisa lihat aku sedang memasak”

(aha…walaupun retoris, sebuah kalimat panjang dalam percakapan yang tadinya dingin adalah sebangun dengan sebuah pintu berkarat, yang setelah terbuka akan sulit ditutup lagi)

Iya sih, tapi kayaknya tinggal menjerang air saja yang masih kurang” kataku. “kubantu yah?”
(beberapa ular penggoda mulai melata mencari posisi untuk memulai penaklukan)
“bentar lagi matang, kok. Tunggu aja”
(balasanmu sungguh datar, sepertinya mantra-mantraku kurang manjur kali ini.)

(aihhh…percakapan ini kian absurd saja. Tapi, mau tidak mau, alur yang satu ini harus kuikuti dulu. Berdasarkan Teori Perang Sun Tzu, lawan dan cuaca, selain medan tempur dan diri sendiri, adalah dua faktor menentukan jika ingin memenangkan pertempuran.)
“oh…gitu ya? Ya udah, gini aja deh, ntar kalau matang bagi aku ya…tapi ngomong-ngomong kamu lagi masak apa sih?
“Batang-batang puisi…”
“macam betul aja. Puisi mana bisa dimakan?” kataku lemas,
(bayangan mi rebus dan kopi panas sudah menguap bersama asap yang ditelan senja.)
“Bisa. Dengan catatan mimpi-mimpimu juga bisa kauubah jadi uang…” simpulmu, perlahan, tapi tajam dan efektif seperti siletan pencopet di kereta ekonomi malam.

(saudara-saudara, kalau anda sekalian pernah membaca dongeng-dongeng di masa kecil seperti kisah kancil dan serigala, maka saat ini aku sedang menjadi serigala yang terjebak kedinginan di suatu lubang yang diterpa hujan. Menggigil dan kelaparan, sementara sang kancil enak-enak bernyanyi di di atas sana, di suatu tempat teduh yang hangat. Tadinya sang serigala berniat menangkap si kancil, tapi terperdaya sampai terperosok ke lubang. Serigala yang gengsi, akhirnya melipat tangan dan pura-pura berpantang makan, tak menghraukan kancil yang sedari tadi bernyanyi mengejeknya. Kancil penasaran saat melihat serigala duduk tenang di dalam lubang di bawah hujan. Nyanyiannya terhenti. “Wahai saudaraku dari bangsa serigala yang saleh, sungguh mengharukan melihatmu dalam posisi hikmat begini. Tapi maaf, bukan maksudku mengganggu ibadahmu. Mengapa ada bunyi-bunyian aneh dari perutmu?” Serigala, yang tetap tak mau kehilangan muka, menjawab “Ah. Saudaraku. Itu adalah doa syukur dari perutku kepada Sang Pencipta atas hujan ini….

Tidak ada komentar: