Sudah ujung kemarau
Dan sore masih terlalu kering
Kelat merayapi pangkal lidah
Perlahan kukemas barang-barangku
Persiapan lanjut, mencari arti yang tersembunyi
antara serbuk malam terapung atap-atap rumah
antara lapis angin salutkan debu
pada dedaunan sepanjang jalan gersang
pada pucuk-pucuk rumput meranggas coklat
setelah ribuan pertemuan
aku ingin pergi
karena mimpi
tahu tak pasti
“aku datang untuk pamit hari ini
Perempuan…”
Tapi untuk kali terakhir
Sebelum benih-benih hujan tumbuh
Aku hendak bertanya
“bagaimana mengeja namamu?”
Selasa, 21 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar