---------------20-21 Juli 2008
purnama
aku akan mati, kataku
dan tak seorang pun akan mengingat namaku***
(setiap satu bulan, purnama hadir mengitari bumi
dengan mata bundar-kue serabinya
penasaran mencari mata-mata lapar yang dulu sering memandanginya)
kata yang berkerisik ngilu di antara bilah ilalang
yang ikut mengalir di dalam pembuluhku
tertahan
sampai pecah akhirnya
membuih melewati malam-malam
tersaji dalam sepiring waktu
setelah sekian lama menunggu, sekarat kini
terpampang di depanku burung-burung bangkai
menari di luasan angkasa
berpatokan pada laporan akhir
siapa yang bakal dijemput maut hari ini
purnama
jangan bertanya lagi di mana akhirnya
atau di bagian mana kau akan abadi
setelah kematianku kau bakal mendapat kesempatan untuk menyimpulkan ini semua
sebab bagian penutup akan kukosongkan untukmu
********
sejak ayam belum berkokok, penyair itu sudah sibuk mendandani kata, memblow rambutnya, mencoba sanggul, memberi eye shadow dan lipstick, mengoleskan alas bedak, lalu bedak, sampai menor, seperti banci kaleng di simpang jalan solo. Tapi selalu saja dirasanya ada yang kurang, entah di mana dia tak tahu pasti
hei penyair amatir, mau bertandang ke negeri imajinasi saja kok ribet amat. Payah lu!
***variasi dari NESSUN DORMA-nya PUCCINI- dilagukan PAVAROTTI dkk
Selasa, 21 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar