Selasa, 04 Maret 2008
30 JANUARI-SEPI-MALAM-LELAKI-BISAKAH
30 Januari 2008
Di hening malam
Jiwa-jiwa berkelana
Sejenak ingin istirahat
Namun kelebat bayang demi bayang
Masih tinggalkan jejak dan sisakan tanya
Menanti ditelusur, menunggu dijawab
Bahkan detik-detik jam seakan meragu tuk terus jadi patok perhentian
Malah tambahkan tanya “Apa yang kaucari?"
SEPI DALAM PUISI-01 Februari 2008
Sepi menetes dari sudut matanya
Beberapa butir tertelan tanpa dia ingin
Lalu perlahan dia keluarkan saputangan lusuh
Tanpa bicara menyusut hidungnya yang berair
Semua itu luput dari pandang orang sekeliling
Sebab tak cukup waktu untuk orang lain
Dan sepi =urusan pribadi
Seseorang melirik sejenak, lalu sapukan pandang ke sudut lain
Menarik napas sambil menimang galau dalam diri
Tak cukup tangguH ajukan diri sekedar bertanya “Kenapa?”
Padahal ingin abadikan deraian sepi dalam larik puisi
Padahal hanya ingin bunuh sepinya sendiri
MALAM BANGKU DAN KERETA-14 Februari 2008
malam merangkak tua
kereta lewati stasiun
tinggal dingin bangku sendiri
sebab orang datang dan pergi
hanya duduk sebentar
sekedar menanti
kereta bergerak di antara ladang dan sawah sunyi
.........................rumah-rumah diam dalam temaram lampu
tak ada yang menyambut
tapi,
biarlah tubuh yang lelah temui tidur
dan damailah jiwa yang setia dalam hangat
Dan kau, bangku…memang nasibmu begitu
Terima saja
15 Februari 2008
LELAKI
lelaki
……..mencicil kematian
………………………..di antara kepulan rokok
Mencoba
…………sesap keabadian
…………………………..dalam seduhan kopi
Berkeras
………..pahamkan hidup
……………………........pada lembaran malam
Tapi
…….adakah temukan utuh diri
………………………………..tanpa bertemu
Perempuan
BISAKAH-20 Februari 2008
Rasaku pun tak mungkin
Mendongeng tentang hidup (dan kematian) dalam satu helaan nafas
hari ini ada yang lahir (dan ada juga yang kembali)
besok juga begitu (sama seperti jutaan hari yang telah lalu)
ada yang ditangisi, lalu dilupakan saat tanah ditimbun dan kelopak bunga terakhir membusuk
(walau memang benar, tak semuanya begitu)
tentang kenangan, mungkin cukup direkam dalam foto dan video, jadi bahan cerita sekilas saat malam mengabut, atau kalau tak ada tempat, cukuplah dalam ingatan saja
sebab hari-hari adalah serat kapas yang berguguran ditiup angin
pakaian hitam dan masa-masa berkabung ikut meresap ke tanah
digantikan sekian persoalan yang tumbuh saat matahari bergerak
Tapi, tak apalah, kalau sesekali ingin bernyanyi tentang mereka yang sudah pergi
Sebab hidup mencintai anak-anak yang lahir di pangkuannya
Mungkin ikut menangis diam-diam saat melepas kepergiannya
Hidup pun sadar, ia bergerak di jalan yang punya kisahnya sendiri
Ia tahu:
Kemarin, jalan merindu hujan yang pernah menciumnya buru-buru
Besok, mungkin ia menanti gadis kecil bermata bening gigi ompong
melompat-lompat riang menuju sekolah
Hari ini, tanpa wasiat, seseorang wariskan genangan darah mengental hitam
Dan, jalan merekam diam-diam semua yang bergerak di tubuhnya
dan tak berniat mengumbarnya untuk siapapun
Semua itu dikenangnya sendiri dalam kebisuan,
dikunyah-kunyah tanpa merasa perlu berbagi
Siapa yang bersedia memberitahunya, tak seperti klakson yang ramai berbunyi nyaring di lampu merah dan besok berbunyi lagi, yang sudah pergi takkan pernah kembali?
Hidup terus bergerak menempuh jalan-jalannya sendiri, dan jalan terus merekam hidup demi hidup yang bergerak di atasnya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar