Selasa, 11 Maret 2008

CERITA TETESAN AIR-KETIKA PESTA BERAKHIR

CERITA TETESAN AIR-04 Desember 2007

MALAM TERUS BERGERAK SAAT HUJAN HAMPIR SELESAI
AKHIRNYA TETESAN AIR YANG MENGUMPUL DI PUCUK DAUN
SAMPAIKAN CINTANYA
PADA BUMI YANG RENTANGKAN PELUK

TENTANG PERASAAN BUMI PADANYA, TAK PERNAH IA TAHU PASTI
SEBAB BUMI DIAM SAJA DAN SELALU DIAM
HANYA MENUNGGU DIAM-DIAM

DAN MASIH SAJA IA TERJUNKAN DIRI DENGAN SEPENUH HATI
LALU MEMERCIK PECAH MERESAP KE TANAH
SAYUP, MASIH KUDENGAR UCAPAN SELAMAT TINGGALNYA





KETIKA PESTA BERAKHIR-10 Desember 2007

Seperti layaknya acara lainnya
Pesta ini pun pasti berakhir
Setelah berbasa-basi sejenak dan menyalami kita lagi
Tamu terakhir segera meninggalkan tempat ini
Syukurlah
Rahangku sudah kaku sebab harus tersenyum seharian
Tinggal piring dan gelas kotor serta ruangan yang harus dibersihkan
Dan itu bukan tugas kita sebagai Raja dan Ratu sehari

Sekarang kita hanya perlu bergunjing
Tentang tamu-tamu yang masih saja membawa kado
Padahal di undangan sudah kita tuliskan
‘Tanpa mengurangi rasa hormat, mempelai akan berterimakasih apabila kado yang diberikan tidak dalam bentuk barang”
dan tampaknya mereka tidak mau susah-susah membaca undangan itu secara lengkap
atau tak sadar juga
ini kan masih krisis moneter dan kita tak butuh barang-barang tak jelas

Kita pun bisa bertanya keheranan
Tentang teman dekat yang sudah kita undang secara khusus jauh-jauh hari
Dan bisa-bisanya tak datang hari ini
Sungguh keterlaluan, masak teman dekat seperti itu
Entah apa alasannya
Nantilah, ada waktunya kita bisa bicarakan semua

Atau orang yang sepertinya aku kurang kenal
Entah kau tahu
Dan tadi bergaya sok akrab
Bicara ini itu dan melayap ke seluruh ruangan

Dan kalau kau tadi sempat perhatikan
Seorang lelaki yang tadi berdiri kaku di sudut ruang
Dan matanya itu
Tak henti-hentinya melihatmu
Tentu saja itu dilakukannya saat pandanganmu terarah ke bagian lain
Bahkan saat ketukan sol sepatu tamu terakhir meninggalkan ruangan
Masih kurasakan pandangnya yang seakan tak rela melepasmu

Aku tak tahu harus cemburu atau bangga
Benar, kita memang sudah sepakat bahwa masa lalu adalah masa lalu
Cukup dikenang saja dan kita akan membuka lembaran baru
Karena itu akhirnya kita sepakat menikah, bukan?

Tapi, kok jadi begini ya?
Ketika kita masih pacaran, dengan bangga dan hidung mekar aku terbiasa melenggang di depan semua saingan yang kutaklukkan
Biasalah, aku kan lelaki, dan memenangkan kompetisi adalah kebanggaan tersendiri
Sekarang, ketika melihat lelaki lain memandangimu, mengapa aku malah jadi cemburu?
Sayang, semoga kau takkan bosan mengingatkanku, bahwa aku suamimu dan kau istriku, bahwa kita sudah resmi jadi pasangan hidup, bahwa kesetiaan harus kita ukir di jidat kita hari demi hari, langkah demi langkah, pertengkaran demi pertengkaran, masalah-masalah, pokoknya banyak deh.
Ya, aku juga berjanji untuk tidak melirik-lirik perempuan lain. Ya, sedikit demi sedikit jugalah…


13 desember 2007
titik titik hujan padati jalan lalu berebut lari ke sungai
ada lelaki (yang lagi lagi patah hati di bulan desember) melihat itu semua
ingin menangis ia, tapi malu
maka dia coba ambil sisi positifnya saja
tangisan alam pun sudah cukup wakili sendu hatinya,
walaupun ia masih harus kedinginan dan basah

Tidak ada komentar: