Aku sedang membaca saat kau datang dan berkata “Aku tak bisa tidur kalau masih ada cahaya” dan sesudahnya mematikan lampu
Untuk kesekian kalinya ini terjadi dan aku sudah malas menyalakan lampu hanya untuk kaumatikan lagi
Maka kemudian kututup buku itu dan mencoba memfokuskan pandang dalam gelap saat kau mulai terlelap
Di luar sedang purnama, dan perlahan sinarnya menembus atap dan menari pelan di wajahmu
Tapi kau tetap tertidur dan wajah damaimu menjadi bayi dalam pelukan ibunya
Tapi, memang ada tanda-tanda yang membuatku sadar, kita sudah bertambah tua
Kau sudah terbiasa tidur lebih cepat dan mematikan lampu
Aku sudah terbiasa menulis cepat dan kehabisan ide di tengah jalan
Padahal dulu, kita terbiasa bicara sampai jauh malam, berdiskusi tentang rencana sekolah anak-anak, asuransi dan kredit rumah mana yang paling tepat buat kita, serta anjing jenis apa yang sebaiknya kita pelihara. Kita bahkan pernah mencaritahu berapa harga kapling tanah di satu pekuburan elit, walau hanya sekilas
Akhir-akhir ini, kita pun sudah jarang berbicara (padahal kita mengaku masih saling cinta)
Aneh bukan, padahal orang-orang masih terus membuat lagu, puisi, dan film tentang cinta
Bunga-bunga dan rerumputan masih tumbuh dan mekar setiap hari
Pelangi masih sering terlihat sehabis hujan dan matahari belum pernah alpa terbit
Tak bisa kupungkiri, memang akhir-akhir ini aku ingin sekali mendengarkan suaramu
Sebab aku belum memberitahumu satu rahasia, bahwa persahabatanku dengan bunyi sudah memudar dan mungkin akan hilang
Menurutku, telingaku sudah rusak, padahal dokter spesialis THT langgananku mengatakan dengan yakin “Secara medis tidak ada masalah”
Karena itu, mumpung belum rusak betulan, aku akan mendengarkan sebaik-baiknya dan merekam kesan dalam ingatanku, berulang-ulang sampai tidak mungkin hilang lagi
Seperti kebiasaanku mendengarkan ketukan hujan di atap dan setelahnya menyanyikannya di kamar mandi
Kisah kita memang bukan jenis dongeng di masa kecil, yang biasa dimulai dengan kata-kata “Pada suatu hari…”, atau “Konon kabarnya…”. Juga tidak berawal dalam perjalanan dengan gondola di sungai yang tenang sambil mendengarkan lagu cinta dalam nada tenor di bawah siraman purnama. Mungkin juga belum bisa dibandingkan dengan benih yang dipendam di tanah lembab yang tipis pada sore hari dan entah bagaimana sudah memperlihatkan tunas lembut kehijauan keesokan paginya. Aku jelas tak tahu berawal di mana, tapi kelanjutannya kita sudah sampai di sini, dan diam-diam masih kubayangkan bagaimana semua ini akan berakhir.
Tak pernah benar-benar kutakutkan kebisuanmu, seperti saat ini
Rabu, 28 Mei 2008
05 APRIL 2008 –Apalagi yang Ditunggu
Apalagi yang ditunggu
Rumput kering membentang berbukit-bukit dari padang sisa kemarau
Tinggal sulutkan sebatang korek api
Lalu ambil sebuah jimbe-dan mainkan irama perang bertempo cepat
Maka lidah-lidah api akan menari-nari di luasan angkasa
Dan tenggelamlah nyanyian rumput kering yang selama ini menanti hujan
Benar kawan, kau salah arah…jangan kaucari pepohonan, apalagi hutan di sini
Sudah berpulh-puluh tahun mereka diusir pergi
Apalagi yang ditunggu
Dendam pun mampu beranak-pinak berlipat-lipat lebih cepat dari tikus
Hasilnya generasi demi generasi dibaringkan tanpa nisan di bukit-bukit ini
Menjadi pupuk untuk ladang ilalang
Yang berkerisik setiap kali bertemu angin
Apalagi yang ditunggu, kawan
Kaki-kaki kita sudah menjejak tanah ini
Lakukanlah yang kau mau
Jika tidak
Baiklah kita duduk saja dan bicara tentang cinta
Walaupun naïf, tapi bukan lagi dari jenis yang cengeng tentang patah hati
Mungkin kita bisa merancang untuk menjadi petani bunga sambil menanam pepohonan
Amarah di panas mentari, kegetiran dalam derai hujan, dendam yang terkubur di tanah, dan kesedihan yang mengawang di udara, mungkin bisa menjadi unsur-unsur paling baik untuk menumbuhkan keteduhan dari bukit tandus ini…
Untuk mengingatkan kita bahwa cintalah yang membuat semesta masih bertahan dan manusia belum punah
Dan sebenarnya cintalah, bukan dendam, yang memampukan kita sampai di sini, melalui ribuan malam beku
Maka sebaiknya kita mulai mencari tunas pohon dan bunga-bunga, lalu menanamnya
Biarlah hujan dan matahari, udara dan tanah, dan semua unsur di alam membesarkannya
Biarlah kehidupan berseri dari semarak hijau daun-daunnya
Dan marilah berharap Tuhan mengutus burung-burung kecil untuk singgah dan bersarang di carang-carangnya
Dan kembali ramai bernyanyi setiap pagi
Rumput kering membentang berbukit-bukit dari padang sisa kemarau
Tinggal sulutkan sebatang korek api
Lalu ambil sebuah jimbe-dan mainkan irama perang bertempo cepat
Maka lidah-lidah api akan menari-nari di luasan angkasa
Dan tenggelamlah nyanyian rumput kering yang selama ini menanti hujan
Benar kawan, kau salah arah…jangan kaucari pepohonan, apalagi hutan di sini
Sudah berpulh-puluh tahun mereka diusir pergi
Apalagi yang ditunggu
Dendam pun mampu beranak-pinak berlipat-lipat lebih cepat dari tikus
Hasilnya generasi demi generasi dibaringkan tanpa nisan di bukit-bukit ini
Menjadi pupuk untuk ladang ilalang
Yang berkerisik setiap kali bertemu angin
Apalagi yang ditunggu, kawan
Kaki-kaki kita sudah menjejak tanah ini
Lakukanlah yang kau mau
Jika tidak
Baiklah kita duduk saja dan bicara tentang cinta
Walaupun naïf, tapi bukan lagi dari jenis yang cengeng tentang patah hati
Mungkin kita bisa merancang untuk menjadi petani bunga sambil menanam pepohonan
Amarah di panas mentari, kegetiran dalam derai hujan, dendam yang terkubur di tanah, dan kesedihan yang mengawang di udara, mungkin bisa menjadi unsur-unsur paling baik untuk menumbuhkan keteduhan dari bukit tandus ini…
Untuk mengingatkan kita bahwa cintalah yang membuat semesta masih bertahan dan manusia belum punah
Dan sebenarnya cintalah, bukan dendam, yang memampukan kita sampai di sini, melalui ribuan malam beku
Maka sebaiknya kita mulai mencari tunas pohon dan bunga-bunga, lalu menanamnya
Biarlah hujan dan matahari, udara dan tanah, dan semua unsur di alam membesarkannya
Biarlah kehidupan berseri dari semarak hijau daun-daunnya
Dan marilah berharap Tuhan mengutus burung-burung kecil untuk singgah dan bersarang di carang-carangnya
Dan kembali ramai bernyanyi setiap pagi
03 April 2008 & 06 Mei 2008- MENGETUK
Hari itu ia kembali berdiri di depan pintu besar yang kukuh. Beberapa kali, dalam tahun-tahun yang sudah berlalu, ia datang dan mengetuk. Pertama-tama, ia benar-benar ingin supaya pintu itu terbuka dan ia diperbolehkan masuk. Selanjutnya, ia mulai berharap bahwa pintu itu terbuka dan sejenak orang di baliknya mau menyapanya. Kemudian, seiring bergulirnya waktu, ia mengaku bahwa ia hanya ingin memuaskan rasa penasarannya terhadap apa yang ada di balik pintu itu. Akhir-akhir ini, ia menemukan bahwa keinginannya untuk datang setiap kali dan mengetuk, adalah representasi terhadap keinginannya untuk tetap eksis. Ia menemukan bahwa rasanya janggal saja ketika ia tidak datang dan mengetuk. Ia baru merasa ia ada ketika ia datang lagi dan mengetuk lagi. Demikianlah hari-harinya berlalu dalam pencarian yang sudah menjadi rutinitas belaka.
Kemudian, ia kembali ke sarangnya, menyalakan lilin dan mematikannya lagi. Menyalakan lalu mematikan lagi, dalam sikap yang hikmat sebagaimana doa. Dan ia berpikir sejenak, mungkin sebaiknya tidak ada pintu saja. Jadi, dia tak perlu datang lagi. Atau, bagaimana jika dia tak punya tangan lagi? Atau, jangan-jangan memang tidak ada ruangan apapun di balik pintu itu.
Ah, mengapa harus pusing-pusing untuk urusan yang tak jelas? Toh, dia kan bukan penyair nyentrik yang setiap kali merasa perlu menuliskan hal-hal ganjil, sekedar untuk menarik pembaca. Toh, pintu tidak selalu menjadi jalan untuk masuk. Pintu seringkali dimaksudkan untuk menghalangi orang yang tak diinginkan masuk dan membuat onar. Bukankah memang demikian?
Malam bertambah larut. Jalanan kian lengang. Daun-daun luruh diam-diam. Angin mati. Sepi
Lalu hujan. Bau tanah basah menguar. Terdengar suara hujan menyentuh atap. Mengetuk ramai-ramai, lalu perlahan-lahan, ramai lagi, demikian seterusnya. Ia lalu berpikir, selain karena gravitasi dan massa air, juga bentuknya yang bulat-bulat-seperti titik, apalagi yang membuat ketukan hujan di atas atap bisa begitu bersemangat, seperti rentak kaki barisan prajurit? Apa juga yang membuatnya bisa terdengar sendu, seperti tangis yang disembunyikan diam-diam, tapi tetap terdengar?
Kemudian, ia kembali ke sarangnya, menyalakan lilin dan mematikannya lagi. Menyalakan lalu mematikan lagi, dalam sikap yang hikmat sebagaimana doa. Dan ia berpikir sejenak, mungkin sebaiknya tidak ada pintu saja. Jadi, dia tak perlu datang lagi. Atau, bagaimana jika dia tak punya tangan lagi? Atau, jangan-jangan memang tidak ada ruangan apapun di balik pintu itu.
Ah, mengapa harus pusing-pusing untuk urusan yang tak jelas? Toh, dia kan bukan penyair nyentrik yang setiap kali merasa perlu menuliskan hal-hal ganjil, sekedar untuk menarik pembaca. Toh, pintu tidak selalu menjadi jalan untuk masuk. Pintu seringkali dimaksudkan untuk menghalangi orang yang tak diinginkan masuk dan membuat onar. Bukankah memang demikian?
Malam bertambah larut. Jalanan kian lengang. Daun-daun luruh diam-diam. Angin mati. Sepi
Lalu hujan. Bau tanah basah menguar. Terdengar suara hujan menyentuh atap. Mengetuk ramai-ramai, lalu perlahan-lahan, ramai lagi, demikian seterusnya. Ia lalu berpikir, selain karena gravitasi dan massa air, juga bentuknya yang bulat-bulat-seperti titik, apalagi yang membuat ketukan hujan di atas atap bisa begitu bersemangat, seperti rentak kaki barisan prajurit? Apa juga yang membuatnya bisa terdengar sendu, seperti tangis yang disembunyikan diam-diam, tapi tetap terdengar?
Yang Ada-05- Mei 2008
Ada selaput tipis yang dengan lembut menjadi pemisah antara “Selamat Tinggal” dengan “Sampai Bertemu Kembali”
Ada warna tak kasat mata yang diam-diam menjadi pembeda antara jabatan tangan dengan kata yang tak selesai diucapkan
Ada tangis yang menguap di bawah matahari dan nyanyian yang ikut mengalun dalam deraian hujan
Ada lintasan untuk mengerahkan setiap tetes keringat, detakan jantung, dan helaan napas untuk pertarungan sekali dan selamanya
Ada kesempatan untuk mengerti, bahwa yang masih hendak dicari jadi sebab untuk terus berlari, dan semua yang ada hari ini adalah anugrah untuk disyukuri
Mungkin masih ada peluang, untuk mengguratkan kisah baru yang terpilih, pada kepingan bambu, atau andesit, atau, lempengan baja, pada masa yang baru. Dan seandainya pun tidak, biarlah yang sudah ada terbuka atau tertutup saja, dibaca atau dimakan rayap, dikenang atau dilupakan
Dan memang, ada saatnya tuliskan bagian penutup pada masa lalu dan menaruh titik tepat di ujung kertas
(ditulis setelah pembotakan selesai-Senin dinihari)
Ada warna tak kasat mata yang diam-diam menjadi pembeda antara jabatan tangan dengan kata yang tak selesai diucapkan
Ada tangis yang menguap di bawah matahari dan nyanyian yang ikut mengalun dalam deraian hujan
Ada lintasan untuk mengerahkan setiap tetes keringat, detakan jantung, dan helaan napas untuk pertarungan sekali dan selamanya
Ada kesempatan untuk mengerti, bahwa yang masih hendak dicari jadi sebab untuk terus berlari, dan semua yang ada hari ini adalah anugrah untuk disyukuri
Mungkin masih ada peluang, untuk mengguratkan kisah baru yang terpilih, pada kepingan bambu, atau andesit, atau, lempengan baja, pada masa yang baru. Dan seandainya pun tidak, biarlah yang sudah ada terbuka atau tertutup saja, dibaca atau dimakan rayap, dikenang atau dilupakan
Dan memang, ada saatnya tuliskan bagian penutup pada masa lalu dan menaruh titik tepat di ujung kertas
(ditulis setelah pembotakan selesai-Senin dinihari)
Senin, 21 April 2008
Setelah-21 April 2008
setelah kubaca sedikit puisi Sapardi Djoko Damono, yang isinya begini:
“AKU INGIN”
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu
kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada
timbul keinginanku untuk menirunya juga, maka beginilah versiku:
aku masih ingin mencintaimu dengan hati-hati saja
seperti menyeberang jalan sambil terlebih dahulu melihat kiri-kanan
sebab jalan raya dan pengemudi yang ugal-ugalan itu masih membuatku takut
dan memang sudah kubuang anganku untuk jadi pembalap, sebab mungkin kecepatan saja tidak bakal cukup untuk mengantarkanku kepadamu
aku masih ingin mencintaimu dengan ringan saja
seperti menyanyikan lagu-lagu yang mudah tanpa perlu pakai falsetto di nada-nada tinggi dan bernapas panjang-panjang, termasuk menghafal kata-katanya yang sulit itu
tetapi mungkin bukan salah garpu tala jika jiwa kita belum bisa berpadu dalam nada yang harmonis
sesekali aku berpikir
mungkin
hari pertama ketika aku menemukanmu adalah titik yang sama yang memicu kesadaranku bahwa aku akan kehilanganmu
tempat di mana aku memandangmu adalah awal dari perjalananku yang rutenya terlanjur menjauh
dan hari ketika aku melihatmu terakhir kalinya adalah hari yang sama saat kau tak menyadari aku ada di sana, di suatu tempat di sekitarmu, yang mungkin tak terlampau jauh untuk sekedar menyapamu, tapi juga tak terlalu dekat dan sesak untuk memulai pembicaraan, tetapi bahkan sekedar salam perpisahan pun tak ada
tapi memang benar, nostalgia semanis apapun hanyalah bagian dari masa lalu,
dan sepahit apapun kenangan, selayaknyalah senyuman dan tawa yang hadir saat mengingat itu semua
dan aku berjanji
akan menghargai mereka yang menyeberang jalan dengan hati-hati, termasuk pengemudi yang ngebut seenaknya, dan para pembalap di Formula Satu
aku juga akan menikmati lagu-lagu sederhana, dan menghargai para penciptanya yang berkarya dengan sepenuh hatinya, termasuk para sopran dan tenor yang bisa menyanyi melengking tinggi-tinggi
aku ingin mencintaimu dengan ringan dan hati-hati
supaya tidak ketabrak karena beban yang terlalu berat
“AKU INGIN”
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat disampaikan kayu
kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada
timbul keinginanku untuk menirunya juga, maka beginilah versiku:
aku masih ingin mencintaimu dengan hati-hati saja
seperti menyeberang jalan sambil terlebih dahulu melihat kiri-kanan
sebab jalan raya dan pengemudi yang ugal-ugalan itu masih membuatku takut
dan memang sudah kubuang anganku untuk jadi pembalap, sebab mungkin kecepatan saja tidak bakal cukup untuk mengantarkanku kepadamu
aku masih ingin mencintaimu dengan ringan saja
seperti menyanyikan lagu-lagu yang mudah tanpa perlu pakai falsetto di nada-nada tinggi dan bernapas panjang-panjang, termasuk menghafal kata-katanya yang sulit itu
tetapi mungkin bukan salah garpu tala jika jiwa kita belum bisa berpadu dalam nada yang harmonis
sesekali aku berpikir
mungkin
hari pertama ketika aku menemukanmu adalah titik yang sama yang memicu kesadaranku bahwa aku akan kehilanganmu
tempat di mana aku memandangmu adalah awal dari perjalananku yang rutenya terlanjur menjauh
dan hari ketika aku melihatmu terakhir kalinya adalah hari yang sama saat kau tak menyadari aku ada di sana, di suatu tempat di sekitarmu, yang mungkin tak terlampau jauh untuk sekedar menyapamu, tapi juga tak terlalu dekat dan sesak untuk memulai pembicaraan, tetapi bahkan sekedar salam perpisahan pun tak ada
tapi memang benar, nostalgia semanis apapun hanyalah bagian dari masa lalu,
dan sepahit apapun kenangan, selayaknyalah senyuman dan tawa yang hadir saat mengingat itu semua
dan aku berjanji
akan menghargai mereka yang menyeberang jalan dengan hati-hati, termasuk pengemudi yang ngebut seenaknya, dan para pembalap di Formula Satu
aku juga akan menikmati lagu-lagu sederhana, dan menghargai para penciptanya yang berkarya dengan sepenuh hatinya, termasuk para sopran dan tenor yang bisa menyanyi melengking tinggi-tinggi
aku ingin mencintaimu dengan ringan dan hati-hati
supaya tidak ketabrak karena beban yang terlalu berat
PERJAMUAN TANPA REKAN-19 April 2008
Beberapa botol mimpi yang sudah kosong berserak di kakinya
dan dia heran, kok belum mabuk ya?
Rekan-rekannya sudah mengundurkan diri, sejak lama, sejak mendengarkan vonis dokter yang disampaikan tanpa ekspresi “Hidup ini singkat Mas, kok masih mau di-diskon sendiri?” (Waduh, itu dokter ikut multi-level ya??? Sudah bintang berapa tuh?)
Di meja, sekian wadah kaca berwarna itu tinggal menanti sentuhan pembuka botol, maka, isinya dengan segera akan mengalir ke perutnya, diproses lebih lanjut untuk selanjutnya dibuang di toilet, sementara liver dan ginjal-nya akan bekerja begitu keras untuk menetralkan racun yang menumpuk.
Tapi dia tertegun, sebab pendapat berbeda tentang para peminum yang diciptakan oleh Suhu Peminum (dengan catatan “Untuk Kalangan Sendiri”) tiba-tiba terngiang di telinganya, samar-samar, seperti:
“Peminum Hebat adalah mereka yang setelah menenggak sekian botol tidak sempoyongan dan kehilangan kewarasannya”
“Peminum Bermartabat adalah mereka yang minum bukan karena ingin melarikan diri dari masalah hidup yang menghimpit kian berat”
“Peminum Tepat adalah mereka yang bisa melaju dengan percepatan maksimum dan berhenti tanpa mengerem mendadak di lampu merah”
“Peminum Cermat adalah mereka yang bisa memperkirakan neraca laba-rugi akibat minum dan tetap berani berinvestasi dan mengambil risiko”
“Peminum Sehat adalah mereka yang masih sanggup mendonorkan darah di PMI dan lulus uji toksisitas sebagai Pengemudi”
lain-lainnya seperti peminum berat, peminum gawat, peminum lewat, peminum terlambat, peminum bantat, dan lain-lain tidak pernah dan tidak ingin diingatnya, sebab julukan-julukan itulah yang selama ini mencemarkan nama baik dan kehormatan korps peminum…
maka, diambilnya sebotol lagi, dibuka pelan dan dituangkan ke dalam dua gelas kosong yang berhadapan di atas meja
ia mengangkat gelasnya dan melihat satu tangan meraih gelas satunya
dan “toss” gelas berdenting saat beradu pelan
kemudian, setelah menuntaskan minuman di tangan kanannya, ia menandaskan isi gelas di tangan kirinya sampai tetes terakhir, lalu menyeka buih yang menempel di ujung kumisnya dan berkata:
“Cukup untuk saat ini, besok malam kita party lagi…”
dan dia heran, kok belum mabuk ya?
Rekan-rekannya sudah mengundurkan diri, sejak lama, sejak mendengarkan vonis dokter yang disampaikan tanpa ekspresi “Hidup ini singkat Mas, kok masih mau di-diskon sendiri?” (Waduh, itu dokter ikut multi-level ya??? Sudah bintang berapa tuh?)
Di meja, sekian wadah kaca berwarna itu tinggal menanti sentuhan pembuka botol, maka, isinya dengan segera akan mengalir ke perutnya, diproses lebih lanjut untuk selanjutnya dibuang di toilet, sementara liver dan ginjal-nya akan bekerja begitu keras untuk menetralkan racun yang menumpuk.
Tapi dia tertegun, sebab pendapat berbeda tentang para peminum yang diciptakan oleh Suhu Peminum (dengan catatan “Untuk Kalangan Sendiri”) tiba-tiba terngiang di telinganya, samar-samar, seperti:
“Peminum Hebat adalah mereka yang setelah menenggak sekian botol tidak sempoyongan dan kehilangan kewarasannya”
“Peminum Bermartabat adalah mereka yang minum bukan karena ingin melarikan diri dari masalah hidup yang menghimpit kian berat”
“Peminum Tepat adalah mereka yang bisa melaju dengan percepatan maksimum dan berhenti tanpa mengerem mendadak di lampu merah”
“Peminum Cermat adalah mereka yang bisa memperkirakan neraca laba-rugi akibat minum dan tetap berani berinvestasi dan mengambil risiko”
“Peminum Sehat adalah mereka yang masih sanggup mendonorkan darah di PMI dan lulus uji toksisitas sebagai Pengemudi”
lain-lainnya seperti peminum berat, peminum gawat, peminum lewat, peminum terlambat, peminum bantat, dan lain-lain tidak pernah dan tidak ingin diingatnya, sebab julukan-julukan itulah yang selama ini mencemarkan nama baik dan kehormatan korps peminum…
maka, diambilnya sebotol lagi, dibuka pelan dan dituangkan ke dalam dua gelas kosong yang berhadapan di atas meja
ia mengangkat gelasnya dan melihat satu tangan meraih gelas satunya
dan “toss” gelas berdenting saat beradu pelan
kemudian, setelah menuntaskan minuman di tangan kanannya, ia menandaskan isi gelas di tangan kirinya sampai tetes terakhir, lalu menyeka buih yang menempel di ujung kumisnya dan berkata:
“Cukup untuk saat ini, besok malam kita party lagi…”
Selasa, 08 April 2008
PENGAKUANKU-06 APRIL 2008
Benar…
Aku tidak punya energi yang sanggup memijarkan besi sampai putih
Aku tidak punya energi yang sanggup menghalangi debur gelombang memecah di pantai
Aku tidak punya energi yang sanggup menggerakkan revolusi
Aku bahkan tidak punya energi yang sanggup membuatmu berbisik “Sayang, Aku juga mencintaimu.”
Sesekali,
Aku punya lilin dan korek api yang sementara cukup mengusir kegelapan separuh malam
Aku punya kran, karet, dan plastik untuk menghentikan air meluber dari penampungan
Aku punya sapu dan kain pel untuk membersihkan lantai yang berdebu
Tetapi, aku masih belum punya cukup tenaga untuk membuatmu berhenti dan tersenyum sejenak padaku
Yang kutahu, aku memang bukan siapa-siapa, belum jadi apa-apa,
dan mungkin takkan jadi apa-apa
Aku hanya penjaga malam yang masih ingin belajar mengucap “YA” dan “TIDAK” dengan jelas, dengan sepenuh hati, tanpa basa-basi
Aku hanya punya kata-kata yang menolak disimpan dalam kepala
dan berontak meninggalkan jejak di atas kertas
Aku hanya punya pena yang terlanjur senang berlari
dan melintasi kegelisahan demi kegelisahan
Dan memang benar,
Setelah kuakui semua yang tidak kumiliki
Aku memang tidak punya apa-apa
Yang tersisa dariku hanyalah hati yang belum mau beku dan menjadi batu
Yang seringkali masih menggigil oleh ragu di hadapan waktu
Yang mencoba bersetia dengan rasa dalam kata
Yang masih ingin lafalkan “AKU CINTA PADAMU!” dengan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar, mengikuti kaidah-kaidah baku Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), dan berpatokan pada pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Inilah aku
Inilah pengakuanku
Padamu
Aku tidak punya energi yang sanggup memijarkan besi sampai putih
Aku tidak punya energi yang sanggup menghalangi debur gelombang memecah di pantai
Aku tidak punya energi yang sanggup menggerakkan revolusi
Aku bahkan tidak punya energi yang sanggup membuatmu berbisik “Sayang, Aku juga mencintaimu.”
Sesekali,
Aku punya lilin dan korek api yang sementara cukup mengusir kegelapan separuh malam
Aku punya kran, karet, dan plastik untuk menghentikan air meluber dari penampungan
Aku punya sapu dan kain pel untuk membersihkan lantai yang berdebu
Tetapi, aku masih belum punya cukup tenaga untuk membuatmu berhenti dan tersenyum sejenak padaku
Yang kutahu, aku memang bukan siapa-siapa, belum jadi apa-apa,
dan mungkin takkan jadi apa-apa
Aku hanya penjaga malam yang masih ingin belajar mengucap “YA” dan “TIDAK” dengan jelas, dengan sepenuh hati, tanpa basa-basi
Aku hanya punya kata-kata yang menolak disimpan dalam kepala
dan berontak meninggalkan jejak di atas kertas
Aku hanya punya pena yang terlanjur senang berlari
dan melintasi kegelisahan demi kegelisahan
Dan memang benar,
Setelah kuakui semua yang tidak kumiliki
Aku memang tidak punya apa-apa
Yang tersisa dariku hanyalah hati yang belum mau beku dan menjadi batu
Yang seringkali masih menggigil oleh ragu di hadapan waktu
Yang mencoba bersetia dengan rasa dalam kata
Yang masih ingin lafalkan “AKU CINTA PADAMU!” dengan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar, mengikuti kaidah-kaidah baku Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), dan berpatokan pada pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Inilah aku
Inilah pengakuanku
Padamu
Langganan:
Postingan (Atom)