Rabu, 28 Mei 2008

03 April 2008 & 06 Mei 2008- MENGETUK

Hari itu ia kembali berdiri di depan pintu besar yang kukuh. Beberapa kali, dalam tahun-tahun yang sudah berlalu, ia datang dan mengetuk. Pertama-tama, ia benar-benar ingin supaya pintu itu terbuka dan ia diperbolehkan masuk. Selanjutnya, ia mulai berharap bahwa pintu itu terbuka dan sejenak orang di baliknya mau menyapanya. Kemudian, seiring bergulirnya waktu, ia mengaku bahwa ia hanya ingin memuaskan rasa penasarannya terhadap apa yang ada di balik pintu itu. Akhir-akhir ini, ia menemukan bahwa keinginannya untuk datang setiap kali dan mengetuk, adalah representasi terhadap keinginannya untuk tetap eksis. Ia menemukan bahwa rasanya janggal saja ketika ia tidak datang dan mengetuk. Ia baru merasa ia ada ketika ia datang lagi dan mengetuk lagi. Demikianlah hari-harinya berlalu dalam pencarian yang sudah menjadi rutinitas belaka.

Kemudian, ia kembali ke sarangnya, menyalakan lilin dan mematikannya lagi. Menyalakan lalu mematikan lagi, dalam sikap yang hikmat sebagaimana doa. Dan ia berpikir sejenak, mungkin sebaiknya tidak ada pintu saja. Jadi, dia tak perlu datang lagi. Atau, bagaimana jika dia tak punya tangan lagi? Atau, jangan-jangan memang tidak ada ruangan apapun di balik pintu itu.

Ah, mengapa harus pusing-pusing untuk urusan yang tak jelas? Toh, dia kan bukan penyair nyentrik yang setiap kali merasa perlu menuliskan hal-hal ganjil, sekedar untuk menarik pembaca. Toh, pintu tidak selalu menjadi jalan untuk masuk. Pintu seringkali dimaksudkan untuk menghalangi orang yang tak diinginkan masuk dan membuat onar. Bukankah memang demikian?

Malam bertambah larut. Jalanan kian lengang. Daun-daun luruh diam-diam. Angin mati. Sepi

Lalu hujan. Bau tanah basah menguar. Terdengar suara hujan menyentuh atap. Mengetuk ramai-ramai, lalu perlahan-lahan, ramai lagi, demikian seterusnya. Ia lalu berpikir, selain karena gravitasi dan massa air, juga bentuknya yang bulat-bulat-seperti titik, apalagi yang membuat ketukan hujan di atas atap bisa begitu bersemangat, seperti rentak kaki barisan prajurit? Apa juga yang membuatnya bisa terdengar sendu, seperti tangis yang disembunyikan diam-diam, tapi tetap terdengar?

Tidak ada komentar: