Apalagi yang ditunggu
Rumput kering membentang berbukit-bukit dari padang sisa kemarau
Tinggal sulutkan sebatang korek api
Lalu ambil sebuah jimbe-dan mainkan irama perang bertempo cepat
Maka lidah-lidah api akan menari-nari di luasan angkasa
Dan tenggelamlah nyanyian rumput kering yang selama ini menanti hujan
Benar kawan, kau salah arah…jangan kaucari pepohonan, apalagi hutan di sini
Sudah berpulh-puluh tahun mereka diusir pergi
Apalagi yang ditunggu
Dendam pun mampu beranak-pinak berlipat-lipat lebih cepat dari tikus
Hasilnya generasi demi generasi dibaringkan tanpa nisan di bukit-bukit ini
Menjadi pupuk untuk ladang ilalang
Yang berkerisik setiap kali bertemu angin
Apalagi yang ditunggu, kawan
Kaki-kaki kita sudah menjejak tanah ini
Lakukanlah yang kau mau
Jika tidak
Baiklah kita duduk saja dan bicara tentang cinta
Walaupun naïf, tapi bukan lagi dari jenis yang cengeng tentang patah hati
Mungkin kita bisa merancang untuk menjadi petani bunga sambil menanam pepohonan
Amarah di panas mentari, kegetiran dalam derai hujan, dendam yang terkubur di tanah, dan kesedihan yang mengawang di udara, mungkin bisa menjadi unsur-unsur paling baik untuk menumbuhkan keteduhan dari bukit tandus ini…
Untuk mengingatkan kita bahwa cintalah yang membuat semesta masih bertahan dan manusia belum punah
Dan sebenarnya cintalah, bukan dendam, yang memampukan kita sampai di sini, melalui ribuan malam beku
Maka sebaiknya kita mulai mencari tunas pohon dan bunga-bunga, lalu menanamnya
Biarlah hujan dan matahari, udara dan tanah, dan semua unsur di alam membesarkannya
Biarlah kehidupan berseri dari semarak hijau daun-daunnya
Dan marilah berharap Tuhan mengutus burung-burung kecil untuk singgah dan bersarang di carang-carangnya
Dan kembali ramai bernyanyi setiap pagi
Rabu, 28 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar