Selasa, 11 Maret 2008

DUG DUG-CERITANYA-TUNGGU-MENGAPA -GERAK

DUG DUG DUG DUG-02 September 2007-

Tidak pernah keluar kantor
bekerja seumur hidup
Mengetuk-ngetuk
dug dug dug dug

ingat, tidur, lupa, bangun
Bunyinya tetap
dug dug dug dug

Betapapun, iramanya tak selalu sama
kalau tenang
dug dug dug dug
terkejut, marah, kerja berat, atau gadis lewat
DUGDUG DUGDUG DUGDUG

Sampai pada suatu waktu
pintu akhirnya dibuka
(berarti boleh pulang)
saking senangnya
(setelah sekian lama mengetuk)

ia melompat lalu terbang
untuk itu ambil ancang-ancang
ketukan terakhir

dug dug! SEMUA

DUG! DITINGGALKAN!
--------------------------------




CERITANYA-AGUSTUS 2007

Bosan jadi batu
Batu ketemu cendawan
Cendawan lapukkan batu
Air jemput repihnya
diseret ke sungai
Tanpa ampun meluncur
……………………….ke laut
Megap-megap pamit
Pada batu tepian sungai
………....yang belum bosan jadi batu




Tunggu-AGUSTUS 2007

Sebentar ya
Aku sedang mencintaimu
Benar, pegang janjiku
Tak lama, kok!





Mengapa-AGUSTUS 2007

Padahal sudah kusediakan ruang untukmu
Kusiapkan jauh-jauh hari
…………..kau terlambat
Tanpa konfirmasi, apalagi minta maaf
Terlalu mudah bagimu
Menghapus deretan peristiwa dari cerita yang kubuat
Dan setelahnya menghempaskan diri
Antara spasi kau geser seenaknya




Gerak-AGUSTUS 2007

Hari memanjangkan bayang
Rangkum sekian jejak terpahat di tubuhnya
Besok kaki baru melangkah
Bayang mengerut
Tapak-tapak perjalanan mengubah cetakan lagi

KEGELISAHAN

3 Juni 2007…

Mimpi menjadi besar, ataukah hanya pelarian dari ketidakbecusan?
Hidup adalah sederet kenyataan yang harus dijalani, bukankah itu intinya?
Betapa banyak manusia di bumi ini yang pada akhirnya harus berkompromi dengan kenyataan yang sedemikian keras (atau justru nyaman), dan mengikuti arus?

Di manakah batas ketahanan?
Keberanian untuk memperjuangkan impian?
Merasakan penderitaan, untuk sesuatu yang mungkin sekali tidak akan tercapai?
Tapi, bukankah hidup juga harus berani gagal?
Bukankah itu nilai perjuangan?

Sekali lagi, petakan kembali alur perjalanan yang ingin kau tempuh.
Apa yang sebenarnya ingin kau capai dalam kehidupan ini?
Sadarkah kau bahwa dalam waktu singkat, mana tanggung-jawab yang sudah harus kau ambil?
Di antaranya untuk membiayai diri sendiri, dan semua yang lainnya itu?
Sanggupkah betarung dengan gengsi dan seluruh omongan dan tatapan prihatin orang-orang di sekitarmu?
Itulah pertanyaannya…




21 Juni 2007

Menulis adalah perjuangan melawan lupa… kalau boleh mengutip Milan Kundera.
Membaca adalah membedah tubuh sendiri dan seluruh jejaringnya untuk sadar tentang kesementaraan
Berdiskusi adalah meneguk anggur kehidupan yang memabukkan untuk kemudian muntah dan sadar dengan pusing yang berputar di kepala
Dan berpikir, bukankah itu seperti melihat muka di cermin dan membandingkannya dengan foto beberapa tahun lalu, mencari apa yang hilang dan jejak apa yang masih tersisa di sana?





12 Juli 2007


Sebuah perjalanan
Setumpuk harapan
Kecemasan
Ketidakpastian

Dan di ujung lorong
Secercah cahaya menanti dan bersinar terang
Hanya yang mau melangkah dan tetap berada di jalur
yang akan mendapatkan segenggam kepastian…

Dan mendapatkan kehidupannya…

Selasa, 04 Maret 2008

30 JANUARI-SEPI-MALAM-LELAKI-BISAKAH


30 Januari 2008


Di hening malam
Jiwa-jiwa berkelana
Sejenak ingin istirahat
Namun kelebat bayang demi bayang
Masih tinggalkan jejak dan sisakan tanya
Menanti ditelusur, menunggu dijawab
Bahkan detik-detik jam seakan meragu tuk terus jadi patok perhentian
Malah tambahkan tanya “Apa yang kaucari?"





SEPI DALAM PUISI-01 Februari 2008


Sepi menetes dari sudut matanya
Beberapa butir tertelan tanpa dia ingin
Lalu perlahan dia keluarkan saputangan lusuh
Tanpa bicara menyusut hidungnya yang berair

Semua itu luput dari pandang orang sekeliling
Sebab tak cukup waktu untuk orang lain
Dan sepi =urusan pribadi

Seseorang melirik sejenak, lalu sapukan pandang ke sudut lain
Menarik napas sambil menimang galau dalam diri
Tak cukup tangguH ajukan diri sekedar bertanya “Kenapa?”
Padahal ingin abadikan deraian sepi dalam larik puisi
Padahal hanya ingin bunuh sepinya sendiri





MALAM BANGKU DAN KERETA-14 Februari 2008

malam merangkak tua
kereta lewati stasiun
tinggal dingin bangku sendiri
sebab orang datang dan pergi
hanya duduk sebentar
sekedar menanti

kereta bergerak di antara ladang dan sawah sunyi
.........................rumah-rumah diam dalam temaram lampu
tak ada yang menyambut


tapi,
biarlah tubuh yang lelah temui tidur
dan damailah jiwa yang setia dalam hangat

Dan kau, bangku…memang nasibmu begitu
Terima saja





15 Februari 2008


LELAKI
lelaki
……..mencicil kematian
………………………..di antara kepulan rokok


Mencoba
…………sesap keabadian
…………………………..dalam seduhan kopi

Berkeras
………..pahamkan hidup
……………………........pada lembaran malam

Tapi
…….adakah temukan utuh diri
………………………………..tanpa bertemu

Perempuan




BISAKAH-20 Februari 2008

Rasaku pun tak mungkin
Mendongeng tentang hidup (dan kematian) dalam satu helaan nafas
hari ini ada yang lahir (dan ada juga yang kembali)
besok juga begitu (sama seperti jutaan hari yang telah lalu)
ada yang ditangisi, lalu dilupakan saat tanah ditimbun dan kelopak bunga terakhir membusuk
(walau memang benar, tak semuanya begitu)
tentang kenangan, mungkin cukup direkam dalam foto dan video, jadi bahan cerita sekilas saat malam mengabut, atau kalau tak ada tempat, cukuplah dalam ingatan saja
sebab hari-hari adalah serat kapas yang berguguran ditiup angin
pakaian hitam dan masa-masa berkabung ikut meresap ke tanah
digantikan sekian persoalan yang tumbuh saat matahari bergerak

Tapi, tak apalah, kalau sesekali ingin bernyanyi tentang mereka yang sudah pergi
Sebab hidup mencintai anak-anak yang lahir di pangkuannya
Mungkin ikut menangis diam-diam saat melepas kepergiannya

Hidup pun sadar, ia bergerak di jalan yang punya kisahnya sendiri
Ia tahu:
Kemarin, jalan merindu hujan yang pernah menciumnya buru-buru
Besok, mungkin ia menanti gadis kecil bermata bening gigi ompong
melompat-lompat riang menuju sekolah
Hari ini, tanpa wasiat, seseorang wariskan genangan darah mengental hitam

Dan, jalan merekam diam-diam semua yang bergerak di tubuhnya
dan tak berniat mengumbarnya untuk siapapun
Semua itu dikenangnya sendiri dalam kebisuan,
dikunyah-kunyah tanpa merasa perlu berbagi

Siapa yang bersedia memberitahunya, tak seperti klakson yang ramai berbunyi nyaring di lampu merah dan besok berbunyi lagi, yang sudah pergi takkan pernah kembali?

Hidup terus bergerak menempuh jalan-jalannya sendiri, dan jalan terus merekam hidup demi hidup yang bergerak di atasnya

Rabu, 13 Februari 2008

BUKU MERAH-28 Februari 2002

Terkejut
walau seharusnya sudah belajar
Menerima realita
di luar perkiraan

Pak…
Kau bilang dulu, Ulangan Harian tahun depan
dan kami hanya tertawa, senang tentunya
Dan akhirnya
"Tuk selamanya UH itu tak terjadi"

duduk di kursi, menghadap meja belajar ini
terlihat buku itu, di antara himpitan buku-buku lainnya
yang sudah lama tak terjamah

kuambil, dan terbukalah halaman 43
"You are the Love of My Life"

ada yang akrab tapi tak sepenuhnya kupahami
lalu kubisikkan
"Selamat Jalan!"
itu saja

Minggu, 10 Februari 2008

RENUNGAN-SATU SENJA-HILANG KATA-DLL

-Renungan-25 Oktober 2006

Ketika melewati hari, kita paham tak sanggup merekam semua
Lalu hari berganti, dan kita belajar untuk mengosongkon tempayan pikiran, untuk menampung yang baru…
Entah kita paham, atau kita ingin, realitas tampaknya selalu punya logika sendiri
Di sini, kita berjanji pada diri sendiri untuk ingat pada semua yang penting, tapi saat acap kita lupa, hanya senyuman atau sebuah permakluman yang hadir, anda tahu saya sangat sibuk hari ini, atau masalah datang bertubi-tubi hari ini, saya bahkan tak ingat bagaimana rasa makanan tadi pagi, lalu semua jadi rutinitas yang berulang, mungkin itu yang terjadi,
Ah, betapa sering kita maklumi diri sendiri, tapi tegas berkata, tidak boleh… saat yang lain melakukan hal yang sama…jadi seperti pepatah lama yang perlu dibaca ulang… buruk rupa cermin dibelah…padahal kalau muka buram… bukankah lebih elok bersihkan cerminnya…




-Satu Senja-27 Desember 2006

Aku selalu teringat satu senja…
Saat dulu aku berlari dipandu matahari temaram beranjak ke balik bukit…
tepat di atas danau…

Hanya saja aku tak punya sesuatu untuk merekamnya
Aku pun teringat, kata keabadian mungkin tak tepat,
kita hanya merekam kesementaraan…
sesuatu yang mungkin hadir lagi besok,
tapi sebenarnya tidak akan pernah sama…

Dan sore ini, saat kumulai langkahku untuk bersua dengan orang-orang terdekat, inspirasi yang bisa membuat bertahan sampai hari ini, kembali aku berjumpa dengan senja yang temaram…matahari yang sama…kembali akan beranjak…dan kuperhatikan terus… di antara gerakan sepur tua ini, masih tercium bau pesing…tapi aku tak peduli…kulayangkan pandang pada cahaya yang makin meredup di antara pucuk-pucuk pepohonan yang makin menjauh, atap-atap kusam mengelam, dan awan hitam.

Sepintas sekawanan burung bergerak pulang, terbang dengan santai.
Yah, mungkin mereka lelah, tapi setidaknya mereka tahu mau kemana malam ini.




-HILANG KATA-2 Februari 2007 (08.29) ………

Aku kehilangan kata-kata
Sudah kutulis iklan besar-besar di koran, running text di televisi…
Aku kehilangan kata-kata
………Kalau ada yang menemukan dan bisa mengembalikannya,
aku akan berterimakasih dan memberi imbalan sepantasnya
Hubungilah nomor ini…

Terimakasih…
………Dan segera ribuan pesan masuk, surat berkarung-karung, emailku kebanjiran, beberapa potongan sumpah serapah sumpah serapah, tapi lebih banyak doa dan potongan kitab suci, bayangkan, jumlahnya jutaan.
………Aneh, tapi dengan semangat mereka bilang dan tuliskan “Kami menemukan banyak sekali kata-kata seperti ini, inikah yang anda cari? Orang-orang membuangnya di sembarang tempat, ada yang ketinggalan pula dan tercecer dimana-mana… Mungkin salah satunya adalah milik anda… Tolong, jika anda menemukan apa yang anda cari, hubungi saya…di nomor ini. Saya menunggu imbalan yang anda janjikan. Kami juga butuh biaya untuk mengirimkan setumpuk kata-kata ini pada anda, perlu waktu lama untuk mengantri di kantor pos dan internet seing overloaded, jaringan juga terganggu, jadi… ya maklumlah.
……….Terimakasih atas kerjasamanya.
……….Aku kehilangan kata-kata sekaligus selera untuk mencarinya.




28 April 2007.

Kehidupan seperti jejak di pasir pantai dunia, hadir sejenak sebelum tergerus pasang waktu, tetapi kesementaraan itulah kesempatan memberi arti melalui pilihan-pilihan hidup dengan tetap bersyukur pada Sang Maha Pencipta.




12 Mei 2007

Suatu pertanyaan bodoh, tapi menggelitik. Jika besok saya mati, apakah yang akan dikenang orang dari kehidupan saya, menjadi pelajaran yang setidaknya bisa digunakan sebagai isyarat? Apakah yang tersirat dari ucapan Chairil Anwar, bahwa “Hidup hanya menunda kekalahan?” Apakah itu cetusan keputusasaan, atau sebaliknya, dengan menyadari kenyataan yang jelas terpampang di depan mata, menggelorakan hasrat untuk mengukirkan capaian tertentu? Yang mungkin bagi dunia tidak berharga, tapi pada diri akan menjadi semacam prasasti?




20 Mei 2007

Sampai kemanakah seseorang harus pergi untuk mengetahui dimana seharusnya dia berada?
Secara sederhana, untuk mengukur limit, bukankah seseorang harus melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah dicap tidak bisa dilakukan?
Bukankah dengan demikian kebanyakan penemuan dan pencapaian besar manusia bisa hadir dan turut menentukan jalannya sejarah?
Apa yang menjadi batasan pengalaman?
Bukankah setiap pilihan juga memiliki kemungkinan untuk salah, di mana setelah melaksanakan, tidak ada waktu lagi untuk mengulang, karena waktu tidak bisa diputar kembali?
Apakah yang menjadi dasar pertimbangan dari pilihan-pilihan berdasarkan akal sehat?
Sungguh bukan jalinan pertanyaan yang mudah untuk dijawab.

Tetapi ide dan gagasan besar takkan mati dengan hilangnya seseorang, dan adalah kemuliaan besar untuk gagal setelah memperjuangkan sesuatu dengan sepenuh hati, dengan segenap kemampuan yang ada…

Senin, 04 Februari 2008

MASIH SAJA- 04 November 2007

Di luar masih saja gerimis itu
Seperti sayup ketukan di pintu jati
Yang tak segera dibuka
(entah siapa di dalam)

Aku masih saja mendengar suaramu
Seperti sekian tahun lalu
Saat kita pertama bertemu
(sungguhpun katamu selalu
“Aku tak pandai merangkai kata-kata”.)

Hujan yang tanggung dan desir suaramu
Masih saja jadi pembuka pagiku
Lepas subuh tadi
(dan aku masih saja begini)

Sabtu, 02 Februari 2008

TENTANG HIDUP-AKU DAN PURNAMA

Tentang Hidup dan Cinta - 23 Januari 2005

Hidup bukanlah garis lurus yang membentang dalam lukisan sempurna
Karena itu tidaklah pantas merantai segala kemungkinan jalan
Bagaimana jika menjadi awan, menunggang angin, berubah bentuk sesuka hati dan hendak pergi kemana menjelajah luasan langit

Tidak perlu takut bermimpi
Walaupun tak bisa diraih
Seperti bintang bersinar terang di malam cerah
Tinggi
Jauh tak terjangkau
Namun dari samudra jiwa
Keindahannya akan tetap hadir

Sama seperti kunang-kunang
Kerlipnya hiasi malam indah di tempat bebas
Bukan dalam genggaman tangan atau botol
Dia harus bebas
Dan demikianlah cinta hadir
Bebaskan
Dan biarkan memilih jalan sendiri




AKU DAN PURNAMA- 29 Januari 2005
Malam sudah lama gantikan petang
Dan waktu membeku, diam aku
Di bawah bulan bersinar terang
Kulihat hanya sebesar uang logam seratusan

Bulan, buat apa aku memaki
Toh…bulan bukan perawan (tapi ia cinta bumi)
Hadir teratur jalani rutinitasnya
Ini bukan Bulan diatas Kuburan-nya Sitor
Ini bulan, satelit bumi, kata orang astronomi
Tapi terserahlah, yang penting bulan tetap bulan
Ia mencinta dan tetap setia

Ini tetap bulan yang sama, hanya terlihat dari tempat berbeda, entah di kota kecil, 15 tahun awal keberadaanku. Hanya kota kecil, mungkin tidak penting bagi orang-orang, hanya disebut sekejap untuk dilupakan…tapi bagiku adalah bagian jiwaku yang mencari dan berkelana.
Atau bulan di tepi danau, kota kecil juga, yang teramat sering kupandangi lekat-lekat…ya, bersama malam dan bintang-bintang berserakan di atas sana. Pada langit yang belum begitu tercemar. Aku dan kau pun mestinya tahu, bulan dan bintang hanya muncul malam hari, sebab siang ia digantikan matahari yang perkasa. Dan malam adalah pasangan hidupnya yang tidak tahu berselingkuh.
Atau di kota tua ini, antara gunung berapi tua dan pantai. Entah di manapun itu, terserahlah. Yang penting aku masih bisa memandang bulan, berbicara pada kesunyian dan mengembara ke dalam diri, kosong yang gelap bernyanyi.