Minggu, 10 Februari 2008

RENUNGAN-SATU SENJA-HILANG KATA-DLL

-Renungan-25 Oktober 2006

Ketika melewati hari, kita paham tak sanggup merekam semua
Lalu hari berganti, dan kita belajar untuk mengosongkon tempayan pikiran, untuk menampung yang baru…
Entah kita paham, atau kita ingin, realitas tampaknya selalu punya logika sendiri
Di sini, kita berjanji pada diri sendiri untuk ingat pada semua yang penting, tapi saat acap kita lupa, hanya senyuman atau sebuah permakluman yang hadir, anda tahu saya sangat sibuk hari ini, atau masalah datang bertubi-tubi hari ini, saya bahkan tak ingat bagaimana rasa makanan tadi pagi, lalu semua jadi rutinitas yang berulang, mungkin itu yang terjadi,
Ah, betapa sering kita maklumi diri sendiri, tapi tegas berkata, tidak boleh… saat yang lain melakukan hal yang sama…jadi seperti pepatah lama yang perlu dibaca ulang… buruk rupa cermin dibelah…padahal kalau muka buram… bukankah lebih elok bersihkan cerminnya…




-Satu Senja-27 Desember 2006

Aku selalu teringat satu senja…
Saat dulu aku berlari dipandu matahari temaram beranjak ke balik bukit…
tepat di atas danau…

Hanya saja aku tak punya sesuatu untuk merekamnya
Aku pun teringat, kata keabadian mungkin tak tepat,
kita hanya merekam kesementaraan…
sesuatu yang mungkin hadir lagi besok,
tapi sebenarnya tidak akan pernah sama…

Dan sore ini, saat kumulai langkahku untuk bersua dengan orang-orang terdekat, inspirasi yang bisa membuat bertahan sampai hari ini, kembali aku berjumpa dengan senja yang temaram…matahari yang sama…kembali akan beranjak…dan kuperhatikan terus… di antara gerakan sepur tua ini, masih tercium bau pesing…tapi aku tak peduli…kulayangkan pandang pada cahaya yang makin meredup di antara pucuk-pucuk pepohonan yang makin menjauh, atap-atap kusam mengelam, dan awan hitam.

Sepintas sekawanan burung bergerak pulang, terbang dengan santai.
Yah, mungkin mereka lelah, tapi setidaknya mereka tahu mau kemana malam ini.




-HILANG KATA-2 Februari 2007 (08.29) ………

Aku kehilangan kata-kata
Sudah kutulis iklan besar-besar di koran, running text di televisi…
Aku kehilangan kata-kata
………Kalau ada yang menemukan dan bisa mengembalikannya,
aku akan berterimakasih dan memberi imbalan sepantasnya
Hubungilah nomor ini…

Terimakasih…
………Dan segera ribuan pesan masuk, surat berkarung-karung, emailku kebanjiran, beberapa potongan sumpah serapah sumpah serapah, tapi lebih banyak doa dan potongan kitab suci, bayangkan, jumlahnya jutaan.
………Aneh, tapi dengan semangat mereka bilang dan tuliskan “Kami menemukan banyak sekali kata-kata seperti ini, inikah yang anda cari? Orang-orang membuangnya di sembarang tempat, ada yang ketinggalan pula dan tercecer dimana-mana… Mungkin salah satunya adalah milik anda… Tolong, jika anda menemukan apa yang anda cari, hubungi saya…di nomor ini. Saya menunggu imbalan yang anda janjikan. Kami juga butuh biaya untuk mengirimkan setumpuk kata-kata ini pada anda, perlu waktu lama untuk mengantri di kantor pos dan internet seing overloaded, jaringan juga terganggu, jadi… ya maklumlah.
……….Terimakasih atas kerjasamanya.
……….Aku kehilangan kata-kata sekaligus selera untuk mencarinya.




28 April 2007.

Kehidupan seperti jejak di pasir pantai dunia, hadir sejenak sebelum tergerus pasang waktu, tetapi kesementaraan itulah kesempatan memberi arti melalui pilihan-pilihan hidup dengan tetap bersyukur pada Sang Maha Pencipta.




12 Mei 2007

Suatu pertanyaan bodoh, tapi menggelitik. Jika besok saya mati, apakah yang akan dikenang orang dari kehidupan saya, menjadi pelajaran yang setidaknya bisa digunakan sebagai isyarat? Apakah yang tersirat dari ucapan Chairil Anwar, bahwa “Hidup hanya menunda kekalahan?” Apakah itu cetusan keputusasaan, atau sebaliknya, dengan menyadari kenyataan yang jelas terpampang di depan mata, menggelorakan hasrat untuk mengukirkan capaian tertentu? Yang mungkin bagi dunia tidak berharga, tapi pada diri akan menjadi semacam prasasti?




20 Mei 2007

Sampai kemanakah seseorang harus pergi untuk mengetahui dimana seharusnya dia berada?
Secara sederhana, untuk mengukur limit, bukankah seseorang harus melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah dicap tidak bisa dilakukan?
Bukankah dengan demikian kebanyakan penemuan dan pencapaian besar manusia bisa hadir dan turut menentukan jalannya sejarah?
Apa yang menjadi batasan pengalaman?
Bukankah setiap pilihan juga memiliki kemungkinan untuk salah, di mana setelah melaksanakan, tidak ada waktu lagi untuk mengulang, karena waktu tidak bisa diputar kembali?
Apakah yang menjadi dasar pertimbangan dari pilihan-pilihan berdasarkan akal sehat?
Sungguh bukan jalinan pertanyaan yang mudah untuk dijawab.

Tetapi ide dan gagasan besar takkan mati dengan hilangnya seseorang, dan adalah kemuliaan besar untuk gagal setelah memperjuangkan sesuatu dengan sepenuh hati, dengan segenap kemampuan yang ada…

Tidak ada komentar: