Rabu, 13 Februari 2008

BUKU MERAH-28 Februari 2002

Terkejut
walau seharusnya sudah belajar
Menerima realita
di luar perkiraan

Pak…
Kau bilang dulu, Ulangan Harian tahun depan
dan kami hanya tertawa, senang tentunya
Dan akhirnya
"Tuk selamanya UH itu tak terjadi"

duduk di kursi, menghadap meja belajar ini
terlihat buku itu, di antara himpitan buku-buku lainnya
yang sudah lama tak terjamah

kuambil, dan terbukalah halaman 43
"You are the Love of My Life"

ada yang akrab tapi tak sepenuhnya kupahami
lalu kubisikkan
"Selamat Jalan!"
itu saja

Minggu, 10 Februari 2008

RENUNGAN-SATU SENJA-HILANG KATA-DLL

-Renungan-25 Oktober 2006

Ketika melewati hari, kita paham tak sanggup merekam semua
Lalu hari berganti, dan kita belajar untuk mengosongkon tempayan pikiran, untuk menampung yang baru…
Entah kita paham, atau kita ingin, realitas tampaknya selalu punya logika sendiri
Di sini, kita berjanji pada diri sendiri untuk ingat pada semua yang penting, tapi saat acap kita lupa, hanya senyuman atau sebuah permakluman yang hadir, anda tahu saya sangat sibuk hari ini, atau masalah datang bertubi-tubi hari ini, saya bahkan tak ingat bagaimana rasa makanan tadi pagi, lalu semua jadi rutinitas yang berulang, mungkin itu yang terjadi,
Ah, betapa sering kita maklumi diri sendiri, tapi tegas berkata, tidak boleh… saat yang lain melakukan hal yang sama…jadi seperti pepatah lama yang perlu dibaca ulang… buruk rupa cermin dibelah…padahal kalau muka buram… bukankah lebih elok bersihkan cerminnya…




-Satu Senja-27 Desember 2006

Aku selalu teringat satu senja…
Saat dulu aku berlari dipandu matahari temaram beranjak ke balik bukit…
tepat di atas danau…

Hanya saja aku tak punya sesuatu untuk merekamnya
Aku pun teringat, kata keabadian mungkin tak tepat,
kita hanya merekam kesementaraan…
sesuatu yang mungkin hadir lagi besok,
tapi sebenarnya tidak akan pernah sama…

Dan sore ini, saat kumulai langkahku untuk bersua dengan orang-orang terdekat, inspirasi yang bisa membuat bertahan sampai hari ini, kembali aku berjumpa dengan senja yang temaram…matahari yang sama…kembali akan beranjak…dan kuperhatikan terus… di antara gerakan sepur tua ini, masih tercium bau pesing…tapi aku tak peduli…kulayangkan pandang pada cahaya yang makin meredup di antara pucuk-pucuk pepohonan yang makin menjauh, atap-atap kusam mengelam, dan awan hitam.

Sepintas sekawanan burung bergerak pulang, terbang dengan santai.
Yah, mungkin mereka lelah, tapi setidaknya mereka tahu mau kemana malam ini.




-HILANG KATA-2 Februari 2007 (08.29) ………

Aku kehilangan kata-kata
Sudah kutulis iklan besar-besar di koran, running text di televisi…
Aku kehilangan kata-kata
………Kalau ada yang menemukan dan bisa mengembalikannya,
aku akan berterimakasih dan memberi imbalan sepantasnya
Hubungilah nomor ini…

Terimakasih…
………Dan segera ribuan pesan masuk, surat berkarung-karung, emailku kebanjiran, beberapa potongan sumpah serapah sumpah serapah, tapi lebih banyak doa dan potongan kitab suci, bayangkan, jumlahnya jutaan.
………Aneh, tapi dengan semangat mereka bilang dan tuliskan “Kami menemukan banyak sekali kata-kata seperti ini, inikah yang anda cari? Orang-orang membuangnya di sembarang tempat, ada yang ketinggalan pula dan tercecer dimana-mana… Mungkin salah satunya adalah milik anda… Tolong, jika anda menemukan apa yang anda cari, hubungi saya…di nomor ini. Saya menunggu imbalan yang anda janjikan. Kami juga butuh biaya untuk mengirimkan setumpuk kata-kata ini pada anda, perlu waktu lama untuk mengantri di kantor pos dan internet seing overloaded, jaringan juga terganggu, jadi… ya maklumlah.
……….Terimakasih atas kerjasamanya.
……….Aku kehilangan kata-kata sekaligus selera untuk mencarinya.




28 April 2007.

Kehidupan seperti jejak di pasir pantai dunia, hadir sejenak sebelum tergerus pasang waktu, tetapi kesementaraan itulah kesempatan memberi arti melalui pilihan-pilihan hidup dengan tetap bersyukur pada Sang Maha Pencipta.




12 Mei 2007

Suatu pertanyaan bodoh, tapi menggelitik. Jika besok saya mati, apakah yang akan dikenang orang dari kehidupan saya, menjadi pelajaran yang setidaknya bisa digunakan sebagai isyarat? Apakah yang tersirat dari ucapan Chairil Anwar, bahwa “Hidup hanya menunda kekalahan?” Apakah itu cetusan keputusasaan, atau sebaliknya, dengan menyadari kenyataan yang jelas terpampang di depan mata, menggelorakan hasrat untuk mengukirkan capaian tertentu? Yang mungkin bagi dunia tidak berharga, tapi pada diri akan menjadi semacam prasasti?




20 Mei 2007

Sampai kemanakah seseorang harus pergi untuk mengetahui dimana seharusnya dia berada?
Secara sederhana, untuk mengukur limit, bukankah seseorang harus melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah dicap tidak bisa dilakukan?
Bukankah dengan demikian kebanyakan penemuan dan pencapaian besar manusia bisa hadir dan turut menentukan jalannya sejarah?
Apa yang menjadi batasan pengalaman?
Bukankah setiap pilihan juga memiliki kemungkinan untuk salah, di mana setelah melaksanakan, tidak ada waktu lagi untuk mengulang, karena waktu tidak bisa diputar kembali?
Apakah yang menjadi dasar pertimbangan dari pilihan-pilihan berdasarkan akal sehat?
Sungguh bukan jalinan pertanyaan yang mudah untuk dijawab.

Tetapi ide dan gagasan besar takkan mati dengan hilangnya seseorang, dan adalah kemuliaan besar untuk gagal setelah memperjuangkan sesuatu dengan sepenuh hati, dengan segenap kemampuan yang ada…

Senin, 04 Februari 2008

MASIH SAJA- 04 November 2007

Di luar masih saja gerimis itu
Seperti sayup ketukan di pintu jati
Yang tak segera dibuka
(entah siapa di dalam)

Aku masih saja mendengar suaramu
Seperti sekian tahun lalu
Saat kita pertama bertemu
(sungguhpun katamu selalu
“Aku tak pandai merangkai kata-kata”.)

Hujan yang tanggung dan desir suaramu
Masih saja jadi pembuka pagiku
Lepas subuh tadi
(dan aku masih saja begini)

Sabtu, 02 Februari 2008

TENTANG HIDUP-AKU DAN PURNAMA

Tentang Hidup dan Cinta - 23 Januari 2005

Hidup bukanlah garis lurus yang membentang dalam lukisan sempurna
Karena itu tidaklah pantas merantai segala kemungkinan jalan
Bagaimana jika menjadi awan, menunggang angin, berubah bentuk sesuka hati dan hendak pergi kemana menjelajah luasan langit

Tidak perlu takut bermimpi
Walaupun tak bisa diraih
Seperti bintang bersinar terang di malam cerah
Tinggi
Jauh tak terjangkau
Namun dari samudra jiwa
Keindahannya akan tetap hadir

Sama seperti kunang-kunang
Kerlipnya hiasi malam indah di tempat bebas
Bukan dalam genggaman tangan atau botol
Dia harus bebas
Dan demikianlah cinta hadir
Bebaskan
Dan biarkan memilih jalan sendiri




AKU DAN PURNAMA- 29 Januari 2005
Malam sudah lama gantikan petang
Dan waktu membeku, diam aku
Di bawah bulan bersinar terang
Kulihat hanya sebesar uang logam seratusan

Bulan, buat apa aku memaki
Toh…bulan bukan perawan (tapi ia cinta bumi)
Hadir teratur jalani rutinitasnya
Ini bukan Bulan diatas Kuburan-nya Sitor
Ini bulan, satelit bumi, kata orang astronomi
Tapi terserahlah, yang penting bulan tetap bulan
Ia mencinta dan tetap setia

Ini tetap bulan yang sama, hanya terlihat dari tempat berbeda, entah di kota kecil, 15 tahun awal keberadaanku. Hanya kota kecil, mungkin tidak penting bagi orang-orang, hanya disebut sekejap untuk dilupakan…tapi bagiku adalah bagian jiwaku yang mencari dan berkelana.
Atau bulan di tepi danau, kota kecil juga, yang teramat sering kupandangi lekat-lekat…ya, bersama malam dan bintang-bintang berserakan di atas sana. Pada langit yang belum begitu tercemar. Aku dan kau pun mestinya tahu, bulan dan bintang hanya muncul malam hari, sebab siang ia digantikan matahari yang perkasa. Dan malam adalah pasangan hidupnya yang tidak tahu berselingkuh.
Atau di kota tua ini, antara gunung berapi tua dan pantai. Entah di manapun itu, terserahlah. Yang penting aku masih bisa memandang bulan, berbicara pada kesunyian dan mengembara ke dalam diri, kosong yang gelap bernyanyi.

Selasa, 22 Januari 2008

HEI,GADIS-16 Desember 2007

seorang gadis di bawah gerimis malam hari
tudungkan payung pada wajahnya ketika melintas bergegas
tapi tak cukup tutupi senyum manis dan teduh pandangnya

hei, gadis
tak tahukah kau
ini jejaka menjerit dicambuk sepi
dan bukan hanya pengamen yang menggigil di simpang jalan

hei, gadis
ke mana tujumu
dengarlah bisikku
setelah kutahu kita takkan abadi
bolehkah kutunggu kau di tanah asing ini

Senin, 07 Januari 2008

TAK ADA JEJAK DI JEMBATAN-15 Desember 2007

Arus kuning kecoklatan menderam jauh di bawah
hanyutkan semua yang bisa diseretnya
Matahari penuh di titik zenith
Sepertinya hujan deras
Di hulu yang punya cerita

Air berteriak menggema saat hantamkan tubuh ke tebing-tebing sungai
Purna tutupi bisu dua anak manusia
seperti terpacak kaki-kakinya
belum ada yang mulai bergerak
sejak tadi, apa yang ditunggu

mereka mengira, bersua di sana
seperti tetes-tetes air patuh belaka pada gravitasi dan lekuk tubuh bumi
atau bisa jadi
hanya kebetulan
walau sepertinya sulit diterima akal terjadi begitu saja

mereka kian paham
setiap helaan napas atau langkah kaki
mungkin awal dari keputusan yang akan mereka syukuri atau sesali
suatu hari nanti

mereka jauh lebih mengerti sekarang
hidup hanya sekali
tapi masih bisa memberi beribu arti

tetapi masih saja mereka berdiri
seakan sudah terjelma jadi pelengkap bebatuan raksasa
kokoh berdiam di sekeliling

lagi-lagi diam
setelah sekian lama
sungguh membosankan
apalagi yang bisa diceritakan?

Kepakan lelah burung-burung yang hendak pulang ke sarang
saat pepohonan di bukit menghitam
sayup masih ingin berbisik tentang jejak pertemuan
yang rupanya tak juga tercetak di tengah jembatan siang harinya

Selasa, 27 November 2007

Suatu Hari Nanti-YA, SUDAH!

Suatu hari nanti
Kita duduk-duduk lagi di taman itu
Mungkin
Bicara tentang masa lalu yang kian remang dan masa depan yang sudah mendekati limit
Masa kini? Kan sedang terjadi, yaitu duduk-duduk di taman, jadi buat apa dibicarakan lagi?

Suatu hari nanti
Kita ingat teman yang sering duduk di samping kita
Bangku itu kosong kini
Dulu ia yang paling rajin hadir di sana
Sekarang ia cabut duluan
dibawanya mukanya yang tanpa ekspresi itu diam-diam pergi
dan kita masih saja penasaran, apa saja yang masih dipikirkannya


Suatu hari nanti
Sebelum kita tak sempat mampir lagi
Sebelum kita kerutkan kening hanya untuk mengingat wajah teman kita yang lain
Sebelum kita makin asing dengan bau keringat masing-masing
Kita kenangkan saja perbantahan yang tak putus-putus dan cinta yang meranggas itu
juga senyum yang sudah kita pasang sejak subuh dan tak digubris bahkan saat senja tiba
dan kita masih saja tersenyum
masak mau merengut? kan cepat tua!
dan hasrat hati yang mengkristal itu kita simpan dalam gudang ingatan yang sumpek dan kita biarkan dimakan rayap, walau sesekali kita coba bersihkan dan ceritakan pada anak-anak dan cucu-cucu kita yang tak lagi heran melihat orangtua atau kakek-neneknya yang sentimentil dan senang barang-barang kuno (orang-orang tua selalu begitu)

Suatu hari nanti, mungkin akan kubaca kembali sajakku ini dan kumaki-maki diriku sendiri, kenapa masih sempat-sempatnya menulis seperti ini….
Tentu saja aku belum tahu apa yang akan terjadi nanti, jadi, supaya kemungkinan itu masih punya peluang untuk terwujud, ya kubiarkan saja tulisan ini apa adanya, dan kubiarkan juga kalian membacanya…




YA, SUDAH!26 November 2007

Kau mau pergi katamu?
Melesatlah dari celah pintu yang sudah kaukuak
Seperti angin
Engsel yang sudah kuminyaki kemarin takkan berderit apalagi menjerit
Jadi akan kulanjutkan mimpiku dengan tenang dan nyaman

Ya, ya, ya, mungkin aku akan sedikit merindukanmu
Kala gelas kopi tinggal ampas dan mulutku asam minta rokok
Kalau di dapur tak ada nasi dan ranjang terlalu lebar buat sendiri
Tapi kupikir-pikir, selebihnya tidak

Aku pelupa, tapi setidaknya masih ingat
Bahwa “kesetiaan” dan “selamanya” tak pernah ada dalam kamus kita
Itu kejujuran tertinggi sebagai sesama pembosan
Kita sepakat, janji adalah janji, dan bukan rantai yang membelenggu

Dan sebagai lelaki angkuh, takkan kujemput kau ke rumah orangtuamu
Tapi kalau kau datang kembali sendiri, akan kuterima dengan senang hati tak banyak basa-basi

Tapi, sekiranya bisa
Kalau kau tetap ingin pergi, jangan kelamaan ya
Nanti aku bingung sendiri