Pernah kucintai dirimu, Perempuan,
walau tak kupahami arti cinta
Bahkan ketika benteng kaca di sekelilingmu kian tinggi dan tebal
Kaca itu kuat, tetapi getas (maka keruntuhannya pasti membawa luka)
Maka dari seberang sini, kukatakan saja
Pernah kucintai dirimu, Perempuan,
walau belum juga kupahami arti cinta
Selasa, 21 Oktober 2008
09102008-akhirnya hujan turun
akhirnya hujan turun
sepanjang malam tadi, membonceng beberapa petir menggelegar
rumput-rumput kembali akan tumbuh di tanah
yang sering kutulisi namamu
kemarin sore, entah mengapa juga masih kulakukan hal yang sama
dan hujan itu pasti sudah menghapusnya
tapi diam-diam aku ragu…kian ragu
saat sebuah pertanyaan berkelebat saat kilat menyergap
benarkah hanya hujan itu saja yang melakukannya?
Lalu muncul-mengatasi deru hujan-bisikan
“bukan hanya hujan itu saja yang menghapusnya…bukan hanya hujan…”
maka diam-diam kudengarkan detak-detak jam di dinding, yang seperti selalu berahasia di antara detik-detiknya
sepanjang malam tadi, membonceng beberapa petir menggelegar
rumput-rumput kembali akan tumbuh di tanah
yang sering kutulisi namamu
kemarin sore, entah mengapa juga masih kulakukan hal yang sama
dan hujan itu pasti sudah menghapusnya
tapi diam-diam aku ragu…kian ragu
saat sebuah pertanyaan berkelebat saat kilat menyergap
benarkah hanya hujan itu saja yang melakukannya?
Lalu muncul-mengatasi deru hujan-bisikan
“bukan hanya hujan itu saja yang menghapusnya…bukan hanya hujan…”
maka diam-diam kudengarkan detak-detak jam di dinding, yang seperti selalu berahasia di antara detik-detiknya
DEFINISI SUNYI-06102008
Sunyi adalah…
Jeda panjang yang tercipta setelah lagu sumbang mengalun dari kerongkongan seorang bocah pengamen di simpang jalan, dan selanjutnya hanya malam hitam-bukan uang receh-yang meluncur pasti ke dalam wadah plastik kosong di tangannya…
Jeda panjang yang tercipta setelah lagu sumbang mengalun dari kerongkongan seorang bocah pengamen di simpang jalan, dan selanjutnya hanya malam hitam-bukan uang receh-yang meluncur pasti ke dalam wadah plastik kosong di tangannya…
Lagu Sebelum Hujan-01102008
Sudah ujung kemarau
Dan sore masih terlalu kering
Kelat merayapi pangkal lidah
Perlahan kukemas barang-barangku
Persiapan lanjut, mencari arti yang tersembunyi
antara serbuk malam terapung atap-atap rumah
antara lapis angin salutkan debu
pada dedaunan sepanjang jalan gersang
pada pucuk-pucuk rumput meranggas coklat
setelah ribuan pertemuan
aku ingin pergi
karena mimpi
tahu tak pasti
“aku datang untuk pamit hari ini
Perempuan…”
Tapi untuk kali terakhir
Sebelum benih-benih hujan tumbuh
Aku hendak bertanya
“bagaimana mengeja namamu?”
Dan sore masih terlalu kering
Kelat merayapi pangkal lidah
Perlahan kukemas barang-barangku
Persiapan lanjut, mencari arti yang tersembunyi
antara serbuk malam terapung atap-atap rumah
antara lapis angin salutkan debu
pada dedaunan sepanjang jalan gersang
pada pucuk-pucuk rumput meranggas coklat
setelah ribuan pertemuan
aku ingin pergi
karena mimpi
tahu tak pasti
“aku datang untuk pamit hari ini
Perempuan…”
Tapi untuk kali terakhir
Sebelum benih-benih hujan tumbuh
Aku hendak bertanya
“bagaimana mengeja namamu?”
PURNAMA
---------------20-21 Juli 2008
purnama
aku akan mati, kataku
dan tak seorang pun akan mengingat namaku***
(setiap satu bulan, purnama hadir mengitari bumi
dengan mata bundar-kue serabinya
penasaran mencari mata-mata lapar yang dulu sering memandanginya)
kata yang berkerisik ngilu di antara bilah ilalang
yang ikut mengalir di dalam pembuluhku
tertahan
sampai pecah akhirnya
membuih melewati malam-malam
tersaji dalam sepiring waktu
setelah sekian lama menunggu, sekarat kini
terpampang di depanku burung-burung bangkai
menari di luasan angkasa
berpatokan pada laporan akhir
siapa yang bakal dijemput maut hari ini
purnama
jangan bertanya lagi di mana akhirnya
atau di bagian mana kau akan abadi
setelah kematianku kau bakal mendapat kesempatan untuk menyimpulkan ini semua
sebab bagian penutup akan kukosongkan untukmu
********
sejak ayam belum berkokok, penyair itu sudah sibuk mendandani kata, memblow rambutnya, mencoba sanggul, memberi eye shadow dan lipstick, mengoleskan alas bedak, lalu bedak, sampai menor, seperti banci kaleng di simpang jalan solo. Tapi selalu saja dirasanya ada yang kurang, entah di mana dia tak tahu pasti
hei penyair amatir, mau bertandang ke negeri imajinasi saja kok ribet amat. Payah lu!
***variasi dari NESSUN DORMA-nya PUCCINI- dilagukan PAVAROTTI dkk
purnama
aku akan mati, kataku
dan tak seorang pun akan mengingat namaku***
(setiap satu bulan, purnama hadir mengitari bumi
dengan mata bundar-kue serabinya
penasaran mencari mata-mata lapar yang dulu sering memandanginya)
kata yang berkerisik ngilu di antara bilah ilalang
yang ikut mengalir di dalam pembuluhku
tertahan
sampai pecah akhirnya
membuih melewati malam-malam
tersaji dalam sepiring waktu
setelah sekian lama menunggu, sekarat kini
terpampang di depanku burung-burung bangkai
menari di luasan angkasa
berpatokan pada laporan akhir
siapa yang bakal dijemput maut hari ini
purnama
jangan bertanya lagi di mana akhirnya
atau di bagian mana kau akan abadi
setelah kematianku kau bakal mendapat kesempatan untuk menyimpulkan ini semua
sebab bagian penutup akan kukosongkan untukmu
********
sejak ayam belum berkokok, penyair itu sudah sibuk mendandani kata, memblow rambutnya, mencoba sanggul, memberi eye shadow dan lipstick, mengoleskan alas bedak, lalu bedak, sampai menor, seperti banci kaleng di simpang jalan solo. Tapi selalu saja dirasanya ada yang kurang, entah di mana dia tak tahu pasti
hei penyair amatir, mau bertandang ke negeri imajinasi saja kok ribet amat. Payah lu!
***variasi dari NESSUN DORMA-nya PUCCINI- dilagukan PAVAROTTI dkk
MIE REBUS DAN KOPI-Agustus 2008
(Setelah menyingkap beberapa tabir gerimis, akhirnya kutemukan juga kau sedang berjongkok di depan tungku. Menghalau asap untuk hadirkan api. Pastinya enak sekali, makan mi rebus sambil menyeduh kopi, dingin-dingin begini. Pikirku, mulai merancang-rancang)
“Nebeng yah…”
(aku, berharap seperti biasa kau akan bersedia memasak untukku)
“Boleh” katamu pelan.
(Namun, sekian lama api berkobar, panci berisi air tak juga kau jerang)
“kayaknya kayunya hampir habis tuh…”
(aku tak sabar lagi ingin menikmati mi rebus dan kopi)
“Biarin”
“dingin-dingin makan mi rebus enak lho…”
(aku mencoba-coba memancing)
“Bukankah kau bisa lihat aku sedang memasak”
(aha…walaupun retoris, sebuah kalimat panjang dalam percakapan yang tadinya dingin adalah sebangun dengan sebuah pintu berkarat, yang setelah terbuka akan sulit ditutup lagi)
Iya sih, tapi kayaknya tinggal menjerang air saja yang masih kurang” kataku. “kubantu yah?”
(beberapa ular penggoda mulai melata mencari posisi untuk memulai penaklukan)
“bentar lagi matang, kok. Tunggu aja”
(balasanmu sungguh datar, sepertinya mantra-mantraku kurang manjur kali ini.)
(aihhh…percakapan ini kian absurd saja. Tapi, mau tidak mau, alur yang satu ini harus kuikuti dulu. Berdasarkan Teori Perang Sun Tzu, lawan dan cuaca, selain medan tempur dan diri sendiri, adalah dua faktor menentukan jika ingin memenangkan pertempuran.)
“oh…gitu ya? Ya udah, gini aja deh, ntar kalau matang bagi aku ya…tapi ngomong-ngomong kamu lagi masak apa sih?
“Batang-batang puisi…”
“macam betul aja. Puisi mana bisa dimakan?” kataku lemas,
(bayangan mi rebus dan kopi panas sudah menguap bersama asap yang ditelan senja.)
“Bisa. Dengan catatan mimpi-mimpimu juga bisa kauubah jadi uang…” simpulmu, perlahan, tapi tajam dan efektif seperti siletan pencopet di kereta ekonomi malam.
(saudara-saudara, kalau anda sekalian pernah membaca dongeng-dongeng di masa kecil seperti kisah kancil dan serigala, maka saat ini aku sedang menjadi serigala yang terjebak kedinginan di suatu lubang yang diterpa hujan. Menggigil dan kelaparan, sementara sang kancil enak-enak bernyanyi di di atas sana, di suatu tempat teduh yang hangat. Tadinya sang serigala berniat menangkap si kancil, tapi terperdaya sampai terperosok ke lubang. Serigala yang gengsi, akhirnya melipat tangan dan pura-pura berpantang makan, tak menghraukan kancil yang sedari tadi bernyanyi mengejeknya. Kancil penasaran saat melihat serigala duduk tenang di dalam lubang di bawah hujan. Nyanyiannya terhenti. “Wahai saudaraku dari bangsa serigala yang saleh, sungguh mengharukan melihatmu dalam posisi hikmat begini. Tapi maaf, bukan maksudku mengganggu ibadahmu. Mengapa ada bunyi-bunyian aneh dari perutmu?” Serigala, yang tetap tak mau kehilangan muka, menjawab “Ah. Saudaraku. Itu adalah doa syukur dari perutku kepada Sang Pencipta atas hujan ini….
“Nebeng yah…”
(aku, berharap seperti biasa kau akan bersedia memasak untukku)
“Boleh” katamu pelan.
(Namun, sekian lama api berkobar, panci berisi air tak juga kau jerang)
“kayaknya kayunya hampir habis tuh…”
(aku tak sabar lagi ingin menikmati mi rebus dan kopi)
“Biarin”
“dingin-dingin makan mi rebus enak lho…”
(aku mencoba-coba memancing)
“Bukankah kau bisa lihat aku sedang memasak”
(aha…walaupun retoris, sebuah kalimat panjang dalam percakapan yang tadinya dingin adalah sebangun dengan sebuah pintu berkarat, yang setelah terbuka akan sulit ditutup lagi)
Iya sih, tapi kayaknya tinggal menjerang air saja yang masih kurang” kataku. “kubantu yah?”
(beberapa ular penggoda mulai melata mencari posisi untuk memulai penaklukan)
“bentar lagi matang, kok. Tunggu aja”
(balasanmu sungguh datar, sepertinya mantra-mantraku kurang manjur kali ini.)
(aihhh…percakapan ini kian absurd saja. Tapi, mau tidak mau, alur yang satu ini harus kuikuti dulu. Berdasarkan Teori Perang Sun Tzu, lawan dan cuaca, selain medan tempur dan diri sendiri, adalah dua faktor menentukan jika ingin memenangkan pertempuran.)
“oh…gitu ya? Ya udah, gini aja deh, ntar kalau matang bagi aku ya…tapi ngomong-ngomong kamu lagi masak apa sih?
“Batang-batang puisi…”
“macam betul aja. Puisi mana bisa dimakan?” kataku lemas,
(bayangan mi rebus dan kopi panas sudah menguap bersama asap yang ditelan senja.)
“Bisa. Dengan catatan mimpi-mimpimu juga bisa kauubah jadi uang…” simpulmu, perlahan, tapi tajam dan efektif seperti siletan pencopet di kereta ekonomi malam.
(saudara-saudara, kalau anda sekalian pernah membaca dongeng-dongeng di masa kecil seperti kisah kancil dan serigala, maka saat ini aku sedang menjadi serigala yang terjebak kedinginan di suatu lubang yang diterpa hujan. Menggigil dan kelaparan, sementara sang kancil enak-enak bernyanyi di di atas sana, di suatu tempat teduh yang hangat. Tadinya sang serigala berniat menangkap si kancil, tapi terperdaya sampai terperosok ke lubang. Serigala yang gengsi, akhirnya melipat tangan dan pura-pura berpantang makan, tak menghraukan kancil yang sedari tadi bernyanyi mengejeknya. Kancil penasaran saat melihat serigala duduk tenang di dalam lubang di bawah hujan. Nyanyiannya terhenti. “Wahai saudaraku dari bangsa serigala yang saleh, sungguh mengharukan melihatmu dalam posisi hikmat begini. Tapi maaf, bukan maksudku mengganggu ibadahmu. Mengapa ada bunyi-bunyian aneh dari perutmu?” Serigala, yang tetap tak mau kehilangan muka, menjawab “Ah. Saudaraku. Itu adalah doa syukur dari perutku kepada Sang Pencipta atas hujan ini….
SUARA DI MALAM BUTA-JULI-OKTOBER 2008
MENIRU JOKPIN:
Kentutku meraung-raung histeris di belantara malam
Astaga!!! Setiap aku kelaparan, mengapa bunyi-bunyian itu selalu hadir, mengalun?
Mengapa selalu ada saja proklamasi ke seluruh dunia?
Oh…malam yang sungguh rimba bin liar
Bisakah kita bersekongkol sejenak dalam permufakatan jahat yang mini saja?
Untuk menganggap nada-nada sumbang itu cikal bakal dari sebuah symphony indah, atau rhapsody yang megah?
Kentutku meraung-raung histeris di belantara malam
Astaga!!! Setiap aku kelaparan, mengapa bunyi-bunyian itu selalu hadir, mengalun?
Mengapa selalu ada saja proklamasi ke seluruh dunia?
Oh…malam yang sungguh rimba bin liar
Bisakah kita bersekongkol sejenak dalam permufakatan jahat yang mini saja?
Untuk menganggap nada-nada sumbang itu cikal bakal dari sebuah symphony indah, atau rhapsody yang megah?
Langganan:
Postingan (Atom)