Sabtu, 08 September 2007

SEORANG TUA-CEMBURU-KETIKA

SEORANG TUA MATI DI LUMPUR-17 Agustus 2007

Hei, kakek tua
kata orang
sekampung berkerumun
(hari panas sekali-danau lumpur wajan raksasa mengilap)

mengapa mau mati di sini
kita sudah repot
jangan cari penyakit
ayo, kita tinggalkan lumpur jahanam ini

ah, anak muda
aku tahu hati kalian tulus
sekali.mata kalian menceritakannya

aku juga tahu, manusia berasal dari
debu dan akan kembali jadi debu.
NAH! Kalau debu itu diberi air, jadinya lumpur juga , bukan?

Selanjutnya, karena lumpur di sini banyak
sekali, biarlah lumpur dari mayatku nantinya
bergabung dengan segenap lumpur ini.

Aku tahu sekali, kalau kalian seret aku, tak mungkin kulawan lagi.
sama seperti aku juga tak bisa lagi memaksa burungku ini untuk tegak menantang langit.

(gadis-gadis merah mukanya, pemuda senyam-senyum, istri-suami berpandangan lalu menunduk mengenang suatu yang mungkin hilang, anak-anak sibuk membuat rumah dari lumpur)

Maka, kuminta saja dengan sangat dan penuh hormat...

Tinggalkan aku di sini, mengenang yang hilang menjemput yang pergi
Kawinlah, carilah rumah, pekerjaan dan jangan lupa beranak-pinak

siapa tahu anak keturunan kalian masih gemar main lumpur
nanti
seperti kalian dulu,
mereka boleh datang kemari

bilang saja, ini lumpur kakek, ia senang pada anak kecil.

Seorang tua mati di lumpur, tapi karena lumpur banyak sekali, tak seorang mengenangnya lagi





CEMBURU-25 FEBRUARI 2006

Dua burung masyuk bercumbu di lengan asam
Pohon tua menunggu ajal, hampir tumbang
Celoteh mesra pura-pura terbang menjauh
Tapi singgah lagi, meliuk , mendekat, terbang lagi
dahan merunduk menyangga berat
malu-malu burung
kalau ada
betina menunduk-nunduk
jantannya menggosok-gosok paruh
kepak-kepakkan sayap pada dunia

dan aku
di bawah
cemburu
pada burung

dasar tak tahu malu





KETIKA-01 APRIL 2006

Kami sibuk mencari rupa dalam masa
tak peduli
tak tetapkan lama

kerling laut tak lagi indah
karena ombak tak sampai tepian

susuri lekuk jalinan hari
pada ukiran sang pemahat
sisi mana yang belum selesai
sungguh jari masih meraba

Bagaimana menarah hati
pada batang belum terjamah
tak tinggal di bukit lembah danau laut

sampai di jembatan
bisik sungai lirih di bawah
ketika hujan selimuti bebatuan
nyanyian alam mengalun perlahan
saat kami berhenti
waktu sudah tumbuh kuat mengakar dalam

Tidak ada komentar: