Kamis, 20 September 2007

JAUH-SENJA ITU-HILANG KATA

JAUH-20 Oktober 2005

mengapa kita berpapasan di sini sementara sekeliling mendesak melangkah
lalu apa yang akan tersurat di ujung hari
lorong dingin mengisap panas tubuh
fajar menghitam sebelum matahari bergerak pagi-pagi
mungkin siluetmu tetap tercetak sampai hari ini

aku menatap bayangku sendiri, memanjang dan kabur
sadar dia lahir karena ada cahaya
dan rebah ke arah berlawanan
apakah dengan bisik pada angin ‘ku bisa menyentuhmu di tempatmu berada

makin tersaruk melangkah menentang angin berubah arah
(aku tahu) setelah berlari harus berhenti dan menarik nafas
(aku juga tahu) jalan hanya terhenti di ujung langkah kaki (atau lembar terakhir ujung hari)

aku renungkan ini setelah melihatmu
pertama kali beberapa tahun lalu.




SENJA ITU, KENANGAN INI-11 Oktober 2005

Gerangan apa pembicaraan sepasang sandal putus
tertinggal di depan pintu
ketika titik-titik air mendanau genangan
kita berdiri di atas bukit
tak ada lagi asap di lembah
hilang hangat jerami aroma setelah panen

dan kita sudah berkali-kali mengemas waktu dalam koper
hanya saja selalu ada yang ketinggalan
lalu ada bisikan “Berbahagialah orang yang miskin…”
ada sandal baru menempel
sekian jam lalu di kakimu

ketika bayangan memanjang kauselipkan dalam tanganku
bungkusan tanah dalam kain
juga setangkai mawar merah terakhir
masih kuncup, sempat kaupetik dari halaman rumahmu
“Terima kasih, siapa tahu besok tidak ada mawar lagi…”

Aku melihat
……………samudra di matamu

Lalu diam. Waktu.




HILANG KATA-11 Oktober 2005

blhkah kutlpn jam 11 mlm ini..?
Jawaban yang kuterima kurang 5 menit kemudian
Boleh-boleh aja, ggp kok
Dan hari ini menjadi lebih cerah… semua orang tersenyum di jalan
Patung di perempatan lebih tegap dari biasanya
Oops..! di bawahnya seorang gembel tenang kencing…
Peduli amat pada lalu lintas ramai berhenti tengah hari
Aku lagi bahagia
Tidak ada waktu untuk merengut
Hari yang panjang kulalui

Ternyata kemudian
cerahnya hari tak membuat seringai bertambah lebar
Hari memanjangkan bayang, menautkan alis dan menguras kantong
Sampai sore tiba, badan jadi lemas
Dan aku kehilangan kata hari ini
Mungkin ikut dicopet di pertigaan jalan kemarin

Tidak ada komentar: