di bibir gelas
kutemu
.... nafasmu
ke lorong bisu
bersua
...... senyummu
pada kisi angin
melekat
...... jejakmu
untuk hari berlalu
tersampir
........ bayangmu
kau
.....seturut debu
kataku
mengapa hadir
.....selalu
-----------------
Kamis, 20 September 2007
UNTUK PAVAROTTI-06 September 2007
Kau pergi menyeberang
sampai di surganada
sekarang
bernyanyi terus sudah boleh
tak lagi serak juga lelah
atau mengganggu tetangga sebelah
"Nessun Dorma" baru ecek-ecek
dari apa yang mungkin kaulagukan
di sana
para penarinya pun
bergerak terus tanpa keseleo
(padahal tidak pakai pemanasan lho
seperti Penari BALET-ANGEL di sini)
Nah,
kalau penala capai nada yang pas
yang lain akan menyusul bernyanyi
tanpa suara sumbang
lagi
sampai di surganada
sekarang
bernyanyi terus sudah boleh
tak lagi serak juga lelah
atau mengganggu tetangga sebelah
"Nessun Dorma" baru ecek-ecek
dari apa yang mungkin kaulagukan
di sana
para penarinya pun
bergerak terus tanpa keseleo
(padahal tidak pakai pemanasan lho
seperti Penari BALET-ANGEL di sini)
Nah,
kalau penala capai nada yang pas
yang lain akan menyusul bernyanyi
tanpa suara sumbang
lagi
YANG TAK TERSAMPAIKAN-30 0ktober 2005
Aku tahu ceruk laut tidak langsung padamu
Aku harus meniti jalan lain menujumu
Mungkin hanya kali ini kita bertemu
Lalu apa yang akan kita bicarakan
Langit makin cerah sehabis hujan
Itu yang aku saksikan menjelang sore
Di tanah yang kini akan kupijak
Hari ini setelah tiga tahun berlalu
Datang pagi-pagi dengan gelombang suara
................ingin kutanya
Adakah kau punya waktu hari ini untuk bicara
...............................merayakan sore
Yang kau dan aku pun paham
Juga akan berlalu tanpa kita berbuat apa-apa
Percayamu yang kucari untuk alirkan hidup
Pada pulau-pulau tak berpenghuni
itu yang ingin kukatakan
........................setelahnya
Hari menua
Rasa baur di ujung lidah
Aku pamit diam-diam
..........tinggalkan jalan tertutup belukar
---------------------------------------
Aku harus meniti jalan lain menujumu
Mungkin hanya kali ini kita bertemu
Lalu apa yang akan kita bicarakan
Langit makin cerah sehabis hujan
Itu yang aku saksikan menjelang sore
Di tanah yang kini akan kupijak
Hari ini setelah tiga tahun berlalu
Datang pagi-pagi dengan gelombang suara
................ingin kutanya
Adakah kau punya waktu hari ini untuk bicara
...............................merayakan sore
Yang kau dan aku pun paham
Juga akan berlalu tanpa kita berbuat apa-apa
Percayamu yang kucari untuk alirkan hidup
Pada pulau-pulau tak berpenghuni
itu yang ingin kukatakan
........................setelahnya
Hari menua
Rasa baur di ujung lidah
Aku pamit diam-diam
..........tinggalkan jalan tertutup belukar
---------------------------------------
JAUH-SENJA ITU-HILANG KATA
JAUH-20 Oktober 2005
mengapa kita berpapasan di sini sementara sekeliling mendesak melangkah
lalu apa yang akan tersurat di ujung hari
lorong dingin mengisap panas tubuh
fajar menghitam sebelum matahari bergerak pagi-pagi
mungkin siluetmu tetap tercetak sampai hari ini
aku menatap bayangku sendiri, memanjang dan kabur
sadar dia lahir karena ada cahaya
dan rebah ke arah berlawanan
apakah dengan bisik pada angin ‘ku bisa menyentuhmu di tempatmu berada
makin tersaruk melangkah menentang angin berubah arah
(aku tahu) setelah berlari harus berhenti dan menarik nafas
(aku juga tahu) jalan hanya terhenti di ujung langkah kaki (atau lembar terakhir ujung hari)
aku renungkan ini setelah melihatmu
pertama kali beberapa tahun lalu.
SENJA ITU, KENANGAN INI-11 Oktober 2005
Gerangan apa pembicaraan sepasang sandal putus
tertinggal di depan pintu
ketika titik-titik air mendanau genangan
kita berdiri di atas bukit
tak ada lagi asap di lembah
hilang hangat jerami aroma setelah panen
dan kita sudah berkali-kali mengemas waktu dalam koper
hanya saja selalu ada yang ketinggalan
lalu ada bisikan “Berbahagialah orang yang miskin…”
ada sandal baru menempel
sekian jam lalu di kakimu
ketika bayangan memanjang kauselipkan dalam tanganku
bungkusan tanah dalam kain
juga setangkai mawar merah terakhir
masih kuncup, sempat kaupetik dari halaman rumahmu
“Terima kasih, siapa tahu besok tidak ada mawar lagi…”
Aku melihat
……………samudra di matamu
Lalu diam. Waktu.
HILANG KATA-11 Oktober 2005“
blhkah kutlpn jam 11 mlm ini..?
Jawaban yang kuterima kurang 5 menit kemudian
Boleh-boleh aja, ggp kok
Dan hari ini menjadi lebih cerah… semua orang tersenyum di jalan
Patung di perempatan lebih tegap dari biasanya
Oops..! di bawahnya seorang gembel tenang kencing…
Peduli amat pada lalu lintas ramai berhenti tengah hari
Aku lagi bahagia
Tidak ada waktu untuk merengut
Hari yang panjang kulalui
Ternyata kemudian
cerahnya hari tak membuat seringai bertambah lebar
Hari memanjangkan bayang, menautkan alis dan menguras kantong
Sampai sore tiba, badan jadi lemas
Dan aku kehilangan kata hari ini
Mungkin ikut dicopet di pertigaan jalan kemarin
mengapa kita berpapasan di sini sementara sekeliling mendesak melangkah
lalu apa yang akan tersurat di ujung hari
lorong dingin mengisap panas tubuh
fajar menghitam sebelum matahari bergerak pagi-pagi
mungkin siluetmu tetap tercetak sampai hari ini
aku menatap bayangku sendiri, memanjang dan kabur
sadar dia lahir karena ada cahaya
dan rebah ke arah berlawanan
apakah dengan bisik pada angin ‘ku bisa menyentuhmu di tempatmu berada
makin tersaruk melangkah menentang angin berubah arah
(aku tahu) setelah berlari harus berhenti dan menarik nafas
(aku juga tahu) jalan hanya terhenti di ujung langkah kaki (atau lembar terakhir ujung hari)
aku renungkan ini setelah melihatmu
pertama kali beberapa tahun lalu.
SENJA ITU, KENANGAN INI-11 Oktober 2005
Gerangan apa pembicaraan sepasang sandal putus
tertinggal di depan pintu
ketika titik-titik air mendanau genangan
kita berdiri di atas bukit
tak ada lagi asap di lembah
hilang hangat jerami aroma setelah panen
dan kita sudah berkali-kali mengemas waktu dalam koper
hanya saja selalu ada yang ketinggalan
lalu ada bisikan “Berbahagialah orang yang miskin…”
ada sandal baru menempel
sekian jam lalu di kakimu
ketika bayangan memanjang kauselipkan dalam tanganku
bungkusan tanah dalam kain
juga setangkai mawar merah terakhir
masih kuncup, sempat kaupetik dari halaman rumahmu
“Terima kasih, siapa tahu besok tidak ada mawar lagi…”
Aku melihat
……………samudra di matamu
Lalu diam. Waktu.
HILANG KATA-11 Oktober 2005“
blhkah kutlpn jam 11 mlm ini..?
Jawaban yang kuterima kurang 5 menit kemudian
Boleh-boleh aja, ggp kok
Dan hari ini menjadi lebih cerah… semua orang tersenyum di jalan
Patung di perempatan lebih tegap dari biasanya
Oops..! di bawahnya seorang gembel tenang kencing…
Peduli amat pada lalu lintas ramai berhenti tengah hari
Aku lagi bahagia
Tidak ada waktu untuk merengut
Hari yang panjang kulalui
Ternyata kemudian
cerahnya hari tak membuat seringai bertambah lebar
Hari memanjangkan bayang, menautkan alis dan menguras kantong
Sampai sore tiba, badan jadi lemas
Dan aku kehilangan kata hari ini
Mungkin ikut dicopet di pertigaan jalan kemarin
Sabtu, 08 September 2007
SEORANG TUA-CEMBURU-KETIKA
SEORANG TUA MATI DI LUMPUR-17 Agustus 2007
Hei, kakek tua
kata orang
sekampung berkerumun
(hari panas sekali-danau lumpur wajan raksasa mengilap)
mengapa mau mati di sini
kita sudah repot
jangan cari penyakit
ayo, kita tinggalkan lumpur jahanam ini
ah, anak muda
aku tahu hati kalian tulus
sekali.mata kalian menceritakannya
aku juga tahu, manusia berasal dari
debu dan akan kembali jadi debu.
NAH! Kalau debu itu diberi air, jadinya lumpur juga , bukan?
Selanjutnya, karena lumpur di sini banyak
sekali, biarlah lumpur dari mayatku nantinya
bergabung dengan segenap lumpur ini.
Aku tahu sekali, kalau kalian seret aku, tak mungkin kulawan lagi.
sama seperti aku juga tak bisa lagi memaksa burungku ini untuk tegak menantang langit.
(gadis-gadis merah mukanya, pemuda senyam-senyum, istri-suami berpandangan lalu menunduk mengenang suatu yang mungkin hilang, anak-anak sibuk membuat rumah dari lumpur)
Maka, kuminta saja dengan sangat dan penuh hormat...
Tinggalkan aku di sini, mengenang yang hilang menjemput yang pergi
Kawinlah, carilah rumah, pekerjaan dan jangan lupa beranak-pinak
siapa tahu anak keturunan kalian masih gemar main lumpur
nanti
seperti kalian dulu,
mereka boleh datang kemari
bilang saja, ini lumpur kakek, ia senang pada anak kecil.
Seorang tua mati di lumpur, tapi karena lumpur banyak sekali, tak seorang mengenangnya lagi
CEMBURU-25 FEBRUARI 2006
Dua burung masyuk bercumbu di lengan asam
Pohon tua menunggu ajal, hampir tumbang
Celoteh mesra pura-pura terbang menjauh
Tapi singgah lagi, meliuk , mendekat, terbang lagi
dahan merunduk menyangga berat
malu-malu burung
kalau ada
betina menunduk-nunduk
jantannya menggosok-gosok paruh
kepak-kepakkan sayap pada dunia
dan aku
di bawah
cemburu
pada burung
dasar tak tahu malu
KETIKA-01 APRIL 2006
Kami sibuk mencari rupa dalam masa
tak peduli
tak tetapkan lama
kerling laut tak lagi indah
karena ombak tak sampai tepian
susuri lekuk jalinan hari
pada ukiran sang pemahat
sisi mana yang belum selesai
sungguh jari masih meraba
Bagaimana menarah hati
pada batang belum terjamah
tak tinggal di bukit lembah danau laut
sampai di jembatan
bisik sungai lirih di bawah
ketika hujan selimuti bebatuan
nyanyian alam mengalun perlahan
saat kami berhenti
waktu sudah tumbuh kuat mengakar dalam
Hei, kakek tua
kata orang
sekampung berkerumun
(hari panas sekali-danau lumpur wajan raksasa mengilap)
mengapa mau mati di sini
kita sudah repot
jangan cari penyakit
ayo, kita tinggalkan lumpur jahanam ini
ah, anak muda
aku tahu hati kalian tulus
sekali.mata kalian menceritakannya
aku juga tahu, manusia berasal dari
debu dan akan kembali jadi debu.
NAH! Kalau debu itu diberi air, jadinya lumpur juga , bukan?
Selanjutnya, karena lumpur di sini banyak
sekali, biarlah lumpur dari mayatku nantinya
bergabung dengan segenap lumpur ini.
Aku tahu sekali, kalau kalian seret aku, tak mungkin kulawan lagi.
sama seperti aku juga tak bisa lagi memaksa burungku ini untuk tegak menantang langit.
(gadis-gadis merah mukanya, pemuda senyam-senyum, istri-suami berpandangan lalu menunduk mengenang suatu yang mungkin hilang, anak-anak sibuk membuat rumah dari lumpur)
Maka, kuminta saja dengan sangat dan penuh hormat...
Tinggalkan aku di sini, mengenang yang hilang menjemput yang pergi
Kawinlah, carilah rumah, pekerjaan dan jangan lupa beranak-pinak
siapa tahu anak keturunan kalian masih gemar main lumpur
nanti
seperti kalian dulu,
mereka boleh datang kemari
bilang saja, ini lumpur kakek, ia senang pada anak kecil.
Seorang tua mati di lumpur, tapi karena lumpur banyak sekali, tak seorang mengenangnya lagi
CEMBURU-25 FEBRUARI 2006
Dua burung masyuk bercumbu di lengan asam
Pohon tua menunggu ajal, hampir tumbang
Celoteh mesra pura-pura terbang menjauh
Tapi singgah lagi, meliuk , mendekat, terbang lagi
dahan merunduk menyangga berat
malu-malu burung
kalau ada
betina menunduk-nunduk
jantannya menggosok-gosok paruh
kepak-kepakkan sayap pada dunia
dan aku
di bawah
cemburu
pada burung
dasar tak tahu malu
KETIKA-01 APRIL 2006
Kami sibuk mencari rupa dalam masa
tak peduli
tak tetapkan lama
kerling laut tak lagi indah
karena ombak tak sampai tepian
susuri lekuk jalinan hari
pada ukiran sang pemahat
sisi mana yang belum selesai
sungguh jari masih meraba
Bagaimana menarah hati
pada batang belum terjamah
tak tinggal di bukit lembah danau laut
sampai di jembatan
bisik sungai lirih di bawah
ketika hujan selimuti bebatuan
nyanyian alam mengalun perlahan
saat kami berhenti
waktu sudah tumbuh kuat mengakar dalam
DIA BERTANYA-INGKAR-KALAU
DIA BERTANYA-24 Mei 2007
Maka terbakarlah senja
........percik kemarahan nyala-nyala
Ditentangnya langit dengan pandang
....................luapkan dendam
"Di manakah keadilan?"
Getir gema di lembah
...........dijamah kesiur angin
dua gembala telanjang dada ternganga saksikan semua
Sejenak. lalu menyusur jalan pulang. Kerbau
sudah jauh di bawah
INGKAR-27 Oktober 2005
Pernah purnama janji padaku
Menemani di malam
Tapi dia malah asyik nonton orang main kartu di gardu jaga
Lalu terbirit-birit lari lewat kisi angin
lupa mencuci gelas kopinya saat pagi datang
KALAU-28 0ktober 2005
Kuresapi
musik bertalu-talu
Dalam ritme perjalanan masa
Perbatasan samar digerus air
Pada langkah pertama
Menjelajah hutan lumut tebal
Memecah batu jadi rahim tegakan
Bukan bunyi biasa
Mengalun desir dedaunan ditingkah angin
Bangkit dari kesunyianku
Marilah kita bernyanyi
Aku lebih suka lirih suaramu
Sampai kusadar binar tatapanmu
Bius kesadaranku
Bernyanyilah
Sirami jiwa yang gersang
Maka hiduplah rumput tumbuh segar
Bernyanyilah
Bawa aku
Lalu kita akan bernyanyi
Dalam tidur di tepi malam
Atau saat kita berlari mengejar purnama
Harapku
Kalau jumpa lagi
Kita bermain di bawah hujan
Kecipak air dan baju basah
Aku mau
Maukah kau?
Maka terbakarlah senja
........percik kemarahan nyala-nyala
Ditentangnya langit dengan pandang
....................luapkan dendam
"Di manakah keadilan?"
Getir gema di lembah
...........dijamah kesiur angin
dua gembala telanjang dada ternganga saksikan semua
Sejenak. lalu menyusur jalan pulang. Kerbau
sudah jauh di bawah
INGKAR-27 Oktober 2005
Pernah purnama janji padaku
Menemani di malam
Tapi dia malah asyik nonton orang main kartu di gardu jaga
Lalu terbirit-birit lari lewat kisi angin
lupa mencuci gelas kopinya saat pagi datang
KALAU-28 0ktober 2005
Kuresapi
musik bertalu-talu
Dalam ritme perjalanan masa
Perbatasan samar digerus air
Pada langkah pertama
Menjelajah hutan lumut tebal
Memecah batu jadi rahim tegakan
Bukan bunyi biasa
Mengalun desir dedaunan ditingkah angin
Bangkit dari kesunyianku
Marilah kita bernyanyi
Aku lebih suka lirih suaramu
Sampai kusadar binar tatapanmu
Bius kesadaranku
Bernyanyilah
Sirami jiwa yang gersang
Maka hiduplah rumput tumbuh segar
Bernyanyilah
Bawa aku
Lalu kita akan bernyanyi
Dalam tidur di tepi malam
Atau saat kita berlari mengejar purnama
Harapku
Kalau jumpa lagi
Kita bermain di bawah hujan
Kecipak air dan baju basah
Aku mau
Maukah kau?
DIAMKU TERUMBU NUJU KARANG- 05 Oktober 2006
Memilih jadi sunyi
.......diamku terumbu nuju karang
kutanya ombak
.......bersua tanpa henti
"Tak bisakah kau diam sedikit?"
"Aku hanya ingin pastikan
......kau baik-baik saja."
..................katanya
lalu mendebur
.....kembali
sepiku mungkin tak.
.sendiri
.......diamku terumbu nuju karang
kutanya ombak
.......bersua tanpa henti
"Tak bisakah kau diam sedikit?"
"Aku hanya ingin pastikan
......kau baik-baik saja."
..................katanya
lalu mendebur
.....kembali
sepiku mungkin tak.
.sendiri
Langganan:
Postingan (Atom)